Tuesday, July 28, 2015

Menerka Inter di Musim Mendatang

Sumber: goal.com
Sudah sebulan lebih bursa transfer  berlangsung, Inter sepertinya belum puas dalam membangun skuad untuk musim depan. Hingga kini, sudah ada lima pemain baru yang telah dipastikan akan berkostum biru hitam. Jeison Murillo, Joao Miranda, Geoffrey Kondogbia, Martin Montoya, dan Jonathan Biabiany. Ini belum ditambah dengan kabar bahwa Stevan Jovetic telah menuju Inter.

Misi Roberto Mancini untuk perjalanan setahun ke depan sudah begitu jelas, membawa Inter kembali bersaing scudetto. Ya atau setidaknya kembali ke ranah Liga Champions. Bukan hal yang mudah, tapi juga tak mustahil.

Jika melihat performa mereka di pertandingan pra musim, Inter masih jauh dari kata memuaskan. Wajar saja, meski sudah kedatangan tiga orang nama baru untuk lini belakang tapi sejak melawan Stuttgart Kickers hingga Real Madrid, Inter selalu kebobolan. Artinya, permasalahan utama di musim lalu belum sepenuhnya terselesaikan. Memang semua itu hanyalah uji coba atau pertandingan "latihan". Namun dari sini, kita bisa sedikit terbayang seperti apa Inter pada musim yang akan mendatang.

Sejak Mancini memutuskan untuk kembali ke Giuseppe Meazza, Inter kembali kepada pakem penggunaan empat pemain belakang. Mantan pelatih Galatasaray ini juga sepertinya akan meneruskan pola 4-3-1-2 seperti musim lalu dan bermain dengan penguasaan bola yang tinggi. Ini sudah terlihat dimainkan di beberapa kesempatan. Namun perubahan kemungkinan akan terjadi dengan datangnya pemain-pemain baru.

Di Mana Jovetic dan Biabiany akan Bermain?

Inter baru saja mendapatkan Stevan Jovetic dengan status pinjam dan opsi pembelian di akhir musim. Pemain yang sukses mengangkat namanya bersama Fiorentina ini kesulitan mendapat tempat utama di Manchester City. Sebagai penyerang, dia kalah bersaing dengan Kun Aguero dan Edin Dzeko, belum lagi Januari lalu City kedatangan seorang Wilfried Bony.
Jovetic memang bisa ditempatkan di berbagai posisi. Permainannya ketika dipasang sebagai gelandang serang pun lebih baik dengan mencetak gol lebih banyak. Dia pun bisa bermain di sisi kiri jika diperlukan.

Kepulangan Jonathan Biabiany serta kedatangan Stevan Jovetic bisa memberi Mancini kombinasi serangan yang lebih variatif. Biabiany adalah pemain sayap yang memiliki kecepatan dan kemampuan dribel yang baik. Inter pun bisa memainkan permainan cepat dengan mengandalkan kedua sisi lapangan dengan lebih baik. 

Inter akan lebih leluasa memainkan tiga orang penyerang atau dengan 4-2-3-1. Dengan memasang Nagatomo maupun Dodo di sisi kiri yang begitu agresif saat menyerang. Atau juga bisa memaksimalkan peran Jovetic atau Palacio yang bisa bermain lebih melebar, merubah pola menjadi 4-3-3.

Selain kemungkinan akan ditempatkan di sayap, Jovetic lebih berpeluang dipasang sebagai trequartista. Pemain kelahiran Montenegro ini memiliki skill di atas rata-rata yang sangat berbahaya dalam membangun serangan. Walaupun di posisi ini bisa saja diberi kepada salah satu dari Hernanes, Kovacic, atau Brozovic.

Jovetic pun bisa ditandemkan dengan Mauro Icardi atau Rodrigo Palacio di lini depan. Dia pun fasih bermain sebagai striker tunggal. Walau di City dia lebih tajam ketika ditempatkan di belakang striker.

Lini Tengah Semakin Solid (?)

Di bursa transfer kali ini Inter melepas Ricardo Alvarez, Joel Obi, Zdarvko Kuzmanovic, Rene Krhin, Alfred Duncan, dan Ruben Botta. Masing-masing pindah ke Sunderland, Torino, Basel, Granada, Sampdoria, dan Pachuca. Kehilangan beberapa pemain di posisi gelandang ini rasanya memang tak terlalu berpengaruh, mengingat mereka hanya menjadi pelapis di musim lalu, sisanya dipinjamkan ke klub lain. Penampilan mereka pun tak ada yang istimewa. Bahkan Rene Krhin tak pernah membuat satu pun penampilan sebagai starter dan sempat dipinjamkan ke Cordoba.

Untuk musim mendatang, telah datang pemuda seharga 35 juta Euro bernama Geoffrey Kondogbia. Dengan mahar sebesar itu, Erick Thohir seperti mengisyaratkan bahwa dirinya serius dalam mengincar tempat untuk berlaga di Liga Champions. Selain itu, dengan perekrutan ini setidaknya memberi kesan bahwa Thohir tak pelit dalam urusan beli pemain.

Geoffrey adalah seorang gelandang tipe petarung. Dia bagus dalam bertahan dan punya daya jelajah yang tinggi. Dengan angka 3,1 tekel dan 2,5 intersep per pertandingan membuktikan dia bisa menambah kekuatan Inter dalam bertahan. Setidaknya Mancini tak lagi kelimpungan jika harus kehilangan Gary Medel, bahkan dia berpeluang besar menggeser pemain asal Chile tersebut dari tempat utama.

Pemain tengah lainnya tersisa Hernanes, Mateo Kovacic, Marcelo Brozovic, Fredy Guarin, dan pemain muda yang namanya mencuat di musim lalu Assane Gnoukouri. Sebenarnya ada satu nama lagi, Saphir Taider yang musim lalu dipinjamkan ke Sassuolo. Namun, pemain internasional Algeria ini kencang diisukan akan pindah dari Giuseppe Meazza.

Jika Taider akan hengkang, maka stok pemain tengah Inter terlalu riskan. Karena peluang seorang pemain mendapatkan cedera selalu ada. Lagipula dengan hanya ketambahan Kondogbia, lini tengah Inter tak banyak berubah seperti musim lalu. Apalagi permainan Kovacic dan Guarin masih terbilang inkonsisten.

Ada kemungkinan besar Mancini akan mengorbitkan salah satu pemain muda lagi seperti Gnoukouri. Setelah di pertandingan pra musim dia banyak memberi kesempatan bermain kepada pemain-pemain dari tim primavera. Juga tak menutup kemungkinan Inter akan mendatangkan lagi satu gelandang untuk memperkuat lini tengah.

Kebanjiran Pemain Belakang

Di akhir musim lalu, Inter cukup banyak melepas pemain dari posisi bek. Jonathan, Hugo Campagnaro, Felipe, dan Matias Silvestre yang dipinjamkan ke Sampdoria dilepas dengan status bebas transfer. Serta melepas Ibrahima Mbaye dan Lukas Spendlhofer, pemain-pemain muda yang kesulitan menembus tim utama.

Sebagai gantinya pihak Inter memboyong tiga pemain yang bermain di La Liga Spanyol musim lalu, Jeison Murillo, Joao Miranda, dan Martin Montoya. Mendatangkan ketiga pemain ini adalah sebuah bentuk keseriusan Mancini dalam memperkuat barisan pertahanan yang menjadi titik lemah Inter di musim lalu.

Kelemahan barisan pertahanan Inter yang begitu disorot adalah banyaknya kesalahan individu. Tak jarang Ranocchia, Vidic, maupun kiper Samir Handanovic sering dijadikan kambing hitam karena kesalahannya berujung fatal. Karena itu, Inter sering kehilangan poin saat menghadapi lawan yang inferior.

Selain itu, terlihat sekali jika Inter sangat lemah menghadapi lawan-lawan yang memiliki pemain yang cepat. Penguasaan bola yang tinggi, menuntut barisan pertahanan Inter ikut maju untuk memberi opsi tambahan dalam menguasai bola. Terkadang, duet Ranocchia-Vidic sering kewalahan dalam mengantisipasi serangan balasan. Ranocchia bukan tipe bek yang cepat sedangkan Vidic sudah tak memiliki fisik saat masa jayanya bersama Manchester United dulu.

Kedatangan ketiga pemain belakang memang menjadi angin segar bagi Mancini. Pasalnya duet Ranocchia-Vidic tak memiliki pelapis yang sepadan di musim lalu. Sebenarnya ada Juan Jesus, namun Mancini lebih gemar memainkannya sebagai fullback kiri ketimbang sebagai bek tengah. Sisanya hanya Marco Andreolli yang sangat sulit untuk meraih tempat sebagai pilihan utama.

Bergabungnya Murillo dan Miranda memang tak menjamin mereka langsung menjadi langganan starter. Mengingat penampilan mereka berdua bisa dibilang tak lebih baik dari Ranocchia maupun Vidic di musim lalu. Namun setidaknya mereka akan membuat persaingan di lini belakang semakin menarik.

Satu lagi pemain yang bergabung dari klub La Liga Spanyol adalah Martin Montoya. Pemain berusia 24 tahun ini memang sudah lama diincar oleh Inter. Bisa dibilang Montoya adalah perekrutan yang bagus untuk Mancini. Karena di usianya yang terbilang muda, dia sudah memenangkan berbagai macam gelar bersama Barcelona. Sudah jelas dia memiliki mental juara.

Martin memiliki kecepatan, teknik, dan kemampuan passing yang baik, tipikal pemain jebolan Barcelona. Meski punya daya serang yang tinggi tapi dia juga baik dalam bertahan. Walaupun jumlah crossing-nya tak sebanyak Dodo ataupun Danilo D'Ambrosio namun bukan berarti dirinya lemah dalam hal ini. Hanya saja, melancarkan umpan silang bukanlah bagian utama dari Barcelona. Rasanya, kedatangan dirinya bisa menghilangkan dahaga akan fullback agresif seperti Maicon dulu.
Kesimpulan
Inter di musim depan tak akan berbeda jauh dengan musim lalu. Mancini kemungkinan akan kembali mengandalkan formasi 4-3-1-2 yang lebih sempurna. Pola ini membuat Inter selalu dominan di lini tengah dan menguasai bola dengan persentase yang tinggi di setiap pertandingan.

Bergabungnya Murillo dan Miranda diharapkan bisa menambal lini belakang yang bermain inkonsisten di musim lalu. Geoffrey Kondogbia pun akan membuat pertahanan Inter semakin tebal karena kemampuan bertahannya bisa menjadi tembok awal untuk mematahkan serangan lawan.
Bergabungnya Martin Montoya bisa menjadi kunci sukses Mancini. Karena ini menghilangkan kelemahan Inter saat menyerang yang sering buntu karena kedua fullback bukan pemberi crossing yang baik. Karena ketika bermain dengan formasi yang rapat, bantuan dari bek sayap harus bisa menjadi alternatif serangan ketika lini tengah buntu.

Kembalinya Biabiany bisa menjadi salah satu pembeda di lini serang Inter. Karena Mancini tak lagi ragu ketika dia ingin bermain melebar dengan menempatkan pemain lebih di sisi lapangan. Juga ada Jovetic yang mampu bermain di berbagai posisi. Kemampuan teknik serta kreativitasnya sangat bisa diandalkan.
Memang wajar jika Mancini diberi ekspektasi yang tinggi di musim depan. Dengan gelontoran pemain yang datang, Inter akan menjadi jauh lebih kuat dibanding musim lalu. Tak ada lagi alasan tim sedang masa transisi atau kekurangan pemain berkualitas.
Semoga berhasil Mancio! Dan jangan lupa mengingatkan Handanovic untuk menangkap bola.

Thursday, June 11, 2015

Sportiello: Malaikat Penjaga Atalanta

Hampir semua orang pernah mendengar kata malaikat. Banyak agama dan mitologi yang menyebut tentang malaikat. Seringkali diceritakan sebagai penghubung antara manusia dan Tuhan. Namun, tak hanya itu, makhluk gaib ini juga banyak dipercaya sebagai pelindung untuk membantu manusia menuju ke surga.

Jika berbicara soal pelindung, di sepakbola pun ada pemain yang sifatnya mirip-mirip dengan malaikat.  Ya, seorang kiper yang bertugas sebagai pelindung sebuah tim. Perannya memang tak boleh disingkirkan begitu saja. Sebuah tim masih bisa bermain tanpa seorang penyerang, namun tak ada yang bisa bermain tanpa kiper. Sering sekali seorang penjaga gawang menjadi penentu sebuah jalannya laga. Jika dipikir, rasanya agak percuma ketika sebuah tim bermain dominan tapi mudah kebobolan. Karena itu, wajar jika klub-klub selalu mencari kiper yang bagus, bahkan untuk sebuah klub kecil.

Bukan perkara mudah untuk mencari seorang kiper handal. Karena umumnya kematangan permainan seorang kiper ada pada usia senja, mulai sekitar 30. Dibutuhkan kejelian membaca permainan, mengorganisir lini pertahanan, dan pengambilan keputusan yang semakin terasah ketika jam terbang semakin tinggi. Namun, tak jarang banyak kiper-kiper muda yang dipercaya untuk mengawal gawang tim utama. Seperti kiper Atalanta yang digosipkan menjadi incaran klub-klub besar, Marco Sportiello.

Sumber: www.tuttomercatoweb.com

Penampilannya di musim lalu memang mengejutkan. Setelah Atalanta ditinggal kiper utamanya, Andrea Consigli ke Sassuolo, Sportiello seperti musim-musim sebelumnya hanya diperkirakan  sebagai kiper pelapis. Di dalam skuad pun masih ada dua pemain senior Gregorio Frezzolini dan Vlada Avramov. Namun dia berhasil mencuri tempat utama sepanjang musim dengan performa yang konsisten.

Karir Marco Sportiello berawal dari bermain di tim-tim kecil setelah lulus dari akademi Atalanta. Dia sempat bergabung dengan Seregno dan Poggibonsi di Serie-D (level tertinggi dalam liga non-profesional Italia) pada periode 2010 hingga 2012. Musim berikutnya, Sportiello dipinjam oleh Carpi yang saat itu masih di Serie-C. Di klub yang musim depan akan berlaga di Serie-A ini, Sportiello menjadi pilihan utama dan berperan besar dalam promosi ke Serie-B. Di 2013, penjaga gawang kelahiran Desio ini kembali bergabung dengan Atalanta dan menjadi kiper ketiga.
  
Di usia 23 tahun bermain reguler di level Serie-A adalah kesempatan yang sangat berharga, apalagi untuk seorang kiper. Dari keseluruhan musim, hanya sekali absen dari starting line up Atalanta. Dari 37 pertandingan di Serie-A, Sportiello mencatat enam kali clean sheet. Dia berhasil membawa Atalanta selamat dari degradasi di peringkat 17 atau satu peringkat di atas zona tidak aman.

Sportiello saat menahan tendangan penalti Gonzalo Higuain (sumber: sport.yahoo.com)

Atalanta memang bukanlah tim dengan pertahanan terbaik. Total kebobolan di musim lalu mencapai 57 gol. Walau begitu, Marco Sportiello bertindak sebagai kiper yang bisa diandalkan. Menurut whoscored.com, Sportiello membuat 138 penyelamatan atau setara dengan 3,7 kali per pertandingan. Angka ini menjadi yang tertinggi di Serie-A. Inilah salah satu faktor dirinya diminati oleh klub-klub besar termasuk Roma dan Liverpool.

Jumlah kebobolan yang banyak memang terasa berat bagi seorang kiper. Penampilan gemilang seorang penjaga gawang pun kadang tak cukup untuk menghindarkan tim dari kebobolan. Dengan jumlah penyelamatan yang begitu tinggi, menandakan seorang kiper memiliki kemampuan yang baik. Atau dia berada dalam tim dengan pertahanan yang buruk. Ya, setidaknya Atalanta beruntung tak terdegradasi musim ini karena memiliki seorang malaikat muda pelindung di depan gawang.

Tuesday, June 9, 2015

Jeison Murillo, Amunisi Baru Lini Belakang Inter

Bursa transfer dalam sepakbola merupakan salah satu hal yang menarik dalam dunia sepakbola. Di masa jeda kompetisi inilah para media gencar membuat isu dan rumor terkait dengan masa depan seorang pemain atau pelatih. Dan kita, para fans seolah terbuai ketika mendengar bahwa seorang pemain top akan berlabuh di klub kesayangannya musim depan. Atau juga merasa waswas jikalau pemain andalannya akan pergi.

Inter sendiri sudah beberapa kali mendeklarasikan diri akan membeli beberapa pemain top. Ya, dari rumor yang tersebar memang tersemat nama-nama yang telah teruji seperti Yaya Toure dan Stevan Jovetic. Sebenarnya untuk musim depan sudah ada dua nama yang resmi bergabung, yaitu Xerdan Shaqiri dan Davide Santon yang lebih dulu bergabung sejak pertangahan musim lalu dengan status pinjaman. Inter lebih memilih untuk mengaktifkan opsi pembeliannya.

Selain kedua nama di atas, ada satu lagi yang telah resmi bergabung dengan Inter, Jeison Murillo. Dilihat dari namanya yang kurang tenar, wajar jika banyak yang meragukan kemampuannya. Pemain berusia 23 tahun ini ditrasnfer dari Granada pada Februari lalu, jadi baru bisa bergabung di bulan Juli. Posisinya sebagai bek tengah pun membuat anggapan bahwa dirinya hanya akan menjadi pelapis saja di musim depan.

Jeison Murillo berhadapan dengan Lionel Messi (Sumber: thenational.ae) 


Untuk musim depan, Inter akan memiliki stok pemain belakang yang cukup banyak dengan berbagungnya Murillo. Karena walau Campagnaro telah dilepas, masih ada Ranocchia, Vidic, Juan Jesus, dan Andreolli untuk posisi yang sama. Lalu, tepatkah jika Inter membeli seorang Jeison Murillo seharga 8 juta Euro?

Jika berbicara taktik, maka Mancini sudah pasti akan meneruskan pakem dengan empat pemain belakang. Masih ada kemungkinan untuk Juan Jesus kembali dipercaya mengawal sisi kiri pertahanan seperti di beberapa laga. Maka kesempatan Murillo untuk tampil akan lebih besar. Apalagi duet Ranocchia dan Vidic masih sering tampil tak konsisten dan banyak melakukan kesalahan-kesalahan yang berujung kebobolan. Ditambah lagi faktor ketidakpercayaan pelatih-pelatih Inter pada Andreolli.

Murillo memiliki kemampuan bertahan yang cukup baik sebenarnya jika dilihat dari statistiknya musim lalu. Dari 19 penampilan di La Liga, dia membuat rataan 1,9 tekel, 2,2 intersep, dan 5,4 clearance per laga. Yang paling menonjol adalah kemampuan duel udaranya yang mencapai rataan 3,3 per laga atau yang tertinggi diantara semua pemain Granada. Namun, jika membandingkannya dengan para pemain belakang Inter, pemain asal Kolombia ini masih jauh di bawah. Hanya Andreolli yang memiliki statistik yang tak jauh darinya. Namun, mengingat menit bermain yang jauh lebih sedikit dari Murillo maka Andreolli sulit untuk dibandingkan.

Usia 23 tahun masih tergolong muda untuk usia pemain belakang. Karena kematangan para bek akan mulai datang di sekitar 27 atau 28. Waktu bermain yang cukup tinggi di tim utama bersama Granada akan sangat membantu karirnya bersama Inter. Selain itu, Murillo tak seperti Ranocchia dan Vidic yang bertipe lambat.

Kesimpulan

Memboyong pemain muda merupakan sebuah keputusan tepat bagi Inter. Pemain seperti Vidic sepertinya tak akan bertahan lebih lama walau penampilannya masih terbilang baik untuk bermain di level Serie-A. Bukan tak mungkin dirinya akan menjadi poros pertahanan Inter bersama Juan Jesus di tahun-tahun mendatang.

Risiko akan selalu ada mengiringi setiap kontrak yang ditawarkan kepada pemain. Bisa saja sang pemain mengalami cedera parah hingga menghancurkan karirnya, seperti Francesco Coco dulu. Atau ada yang gagal memberikan penampilan terbaiknya dan akhirnya dijual kembali dengan harga yang jauh lebih murah. Dukungan dari pihak pelatih dan klub memang harus diberikan. Jangan sampai bakat Murillo menjadi sia-sia. Jika hanya menjadi penghangat bangku cadangan, mengapa tak mencoba Simone Pasa atau Jacopo Galimberti saja?

Good luck, Jeison.

Monday, June 8, 2015

Review Transfer Inter 2014/15

Kompetisi sepakbola di Eropa sudah berakhir dengan keluarnya Barcelona sebagai juara Liga Champions lalu. Para pemain pun mulai berlibur dan beberapa masih harus bertanding di pentas internasional bersama negaranya. Namun, bukan berarti para klub berhenti bekerja dalam membangun serta memperbaiki tim. Ya, inilah saat yang begitu menarik perhatian, bursa transfer.

Jendela transfer musim panas memang dijadikan waktu yang tepat untuk berbenah skuad. Tak hanya sekedar menambah kedalaman skuad, namun seringkali keputusan klub untuk membeli atau menjual pemain akan berpengaruh terhadap performa sepanjang musim. Ada pemain yang menjadi pilar penting ada juga yang hanya menjadi penghangat bangku cadangan.

Sebagai contoh di musim yang baru berakhir lalu, bagaimana Diego Costa dan Luis Suarez yang menjadi pilar penting dalam merengkuh gelar juara. Atau juga transfer yang bisa dibilang gagal karena ekspektasi yang tinggi tak mampu diiringi dengan penampilan yang konsisten semacam Angel Di Maria dan Falcao di Manchester United. Tak hanya pemain yang datang, kadang kepergian seorang pemain juga bisa berpengaruh besar seperti Real Madrid yang kehilangan Xabi Alonso.

Bagaimana dengan Inter? Ya, bisa dibilang Inter cukup aktif dalam bursa transfer sepanjang musim lalu. Bahkan hingga pergantian pelatih pun terlihat berpengaruh terhadap pemilihan pemain yang didatangkan. Mari kita bahas transfer Inter di musim lalu.

Transfer Musim Panas

Di awal musim, Inter terlihat percaya diri dengan memberi Mazzarri kontrak hingga 2016. Dengan pensiunnya Javier Zanetti dan dilepasnya beberapa pemain senior seperti Diego Milito, Walter Samuel, dan Esteban Cambiasso, meninggalkan lubang besar dalam skuad. Selain kepemimpinan mereka masih dibutuhkan terutama Cambiasso yang menjadi kunci utama dalam bertahan dan menyerang. Mengejutkan karena dirinya juga bertindak sebagai wakil kapten selama beberapa musim.

Dengan formasi andalan 3-5-2 Mazzarri, Inter memang berencana menambah kedalaman skuad. Pemain-pemain yang didatangkan untuk tim utama terlihat menjanjikan. Inter berhasil menggaet Nemanja Vidic, Gary Medel, Pablo Osvaldo, Dodo, Yann M'Vila, dan Rene Krhin. Lubang yang ditinggalkan para veteran pun sudah terpenuhi.

Selain mendatangkan pemain, Inter juga melepas beberapa pemainnya. Kebanyakan adalah pemain-pemain muda yang dianggap belum bisa bersaing dengan tim utama, mereka harus rela dipinjamkan. Nama-nama seperti Ishak Belfodil, Schelotto, Saphir Taider, serta Matias Silvestre pun turut disingkirkan dari Giuseppe Meazza. Yang paling mengejutkan adalah dilepasnya Ricardo Alvarez ke Sunderland. Padahal dirinya mendapat tempat reguler pada musim sebelumnya. Penampilannya pun berujung pada pemanggilan ke skuad Argentina di Piala Dunia lalu.

Transfer Musim Dingin

Buruknya performa Inter berujung kepada pemecatan Mazzarri dan diganti oleh Roberto Mancini. Perubahan besar pada taktik dasar dari penggunaan tiga pemain belakang menjadi empat bek cukup berpengaruh pada pemain yang didatangkan di bursa transfer kali ini. Inter mendatangkan Lukas Podolski, Xerdan Shaqiri, Marcelo Brozovic, Felipe, dan Davide Santon.

Masuknya Podolski, Shaqiri, dan Santon memang direncanakan untuk menambah daya serang Inter, terutama jika Mancini butuh opsi tambahan dalam menyerang dari sisi lapangan. Selain itu, dilepasnya Pablo Osvaldo pun mengurangi stok pemain di lini depan.

Sumber: www.zimbio.com


Perekrutan Terbaik

Perekrutan terbaik Inter jika melihat dari performa sepanjang musim adalah Gary Medel. Dari seluruh pemain yang didatangkan, hanya pria berdarah Chile ini yang benar-benar memberi perubahan besar. Dia adalah pemain dengan penampilan terbanyak di bawah Handanovic dan top skor Inter, Mauro Icardi dengan total 44 pertandingan di seluruh kompetisi.

Kemampuannya dalam membaca permainan begitu baik. Menurut whoscored.com, Medel adalah pemain yang paling banyak melakukan intersep dengan 2,9 kali per laga. Selain itu, dia juga pandai dalam menjaga kestabilan tim saat menyerang dengan jumlah operan 77,1 per laga dengan akurasi hingga 91,8%. Uang 8 juta Euro saat memboyong pemain gempal ke Giuseppe Meazza pun tak terasa sia-sia. Bisa dibilang, Gary Medel adalah perekrutan terbaik Inter di musim lalu.

Perekrutan Terburuk

Dari sekian banyak pemain yang datang ke Inter, sedikit sekali yang menampilkan performa apik. Cukup sulit untuk menentukan siapa yang pantas mendapat predikat ini. Sebenarnya ada dua nama, Yann M'vila dan Lukas Podolski.

Keduanya sama-sama gagal menampilkan yang terbaik untuk Inter. Podolski yang dipinjam di bulan Januari lalu sempat disorot oleh dunia sepakbola karena dianggap mengambil keputusan yang tepat. Minimnya waktu bermain di Arsenal menjadi alasan utamanya menerima tawaran Inter. Kemampuannya pun dianggap mampu mendongkrak Inter bersama pelatih baru Roberto Mancini. Namun sayang, dirinya malah (kembali) gagal bersaing dengan kembalinya Palacio dari cedera dan semakin tajamnya Mauro Icardi. Inter pun semakin mantap dengan formasi 4-3-1-2 yang artinya kesempatan bermain dirinya sebagai pemain sayap pun berkurang.

Yann M'Vila adalah pemain berusia 24 tahun yang dipinjam dari Rubin Kazan. Sebenarnya dirinya tak buruk-buruk amat. Dirinya memang diplot sebagai pelapis Gary Medel sebagai gelandang bertahan. Apalagi dia memiliki kemampuan duel udara sebagai kelebihan yang tak dimiliki Medel. Yang mengecewakan adalah fakta bahwa pemuda asal Prancis ini bahkan gagal menempati tim utama ketika Medel absen. Sejak era Mazzarri hingga Mancini, waktu bermain yang diberikan sangat minim. Kebanyakan sebagai pemain pengganti di akhir-akhir laga. Bahkan dirinya kalah bersaing dengan Kuzmanovic yang notabene bukan sorang gelandang bertahan murni.

Jika melihat secara keseluruhan, strategi transfer Inter musim ini lebih kepada menambah kedalaman skuad. Hanya Gary Medel dan Vidic yang benar-benar menjadi bagian penting di Inter. Memang Inter terkenal kurang cermat dalam memilih pemain. Untungnya, sebagian besar hanya bergabung sebagai pemain pinjaman saja. Beruntung.

Thursday, January 29, 2015

Romantis


Romantis. Kata yang sering terucap jika berbicara tentang cinta. Kata romantis memang terasa dekat dengan yang namanya cinta. Dua hal ini selalu saja dikait-kaitkan satu sama lain. Di dalam suatu hubungan, memang dibutuhkan sentuhan romantisme. Tujuannya sih baik, untuk menjaga keutuhan dan mencegah kebosanan dari jenuhnya sebuah pasangan. Benarkah?

Sebelum berbicara lebih jauh, mari kita coba mengerti apa itu romantis. Menurut KBBI, romantis adalah kata yang ditujukan kepada hal-hal bersifat mesra, mengasyikan, dan juga seperti pada cerita percintaan (roman). Sebenarnya, arti romantis lebih daripada sekedar percintaan. Karena kata romantis berawal dari istilah yang mengacu kepada sebuah gaya menulis, berbicara, dan artistik. Sebelum dikembangkan lebih jauh menjadi sesuatu yang berhubungan dengan perkawinan dan erotisme. Hingga sekarang lebih menuju kepada percintaan.

Berbicara tentang romantis dan percintaan, saya teringat kalimat pacar yang sering terucap dari mulutnya. “Kamu ih, gak romantis banget. Gak so sweet”. Ya, bisa dibilang jika dibandingkan dengan kebanyakan pria lain saya memang kurang romantis, setidaknya di mata pacar. Awalnya sih cuek saja, namun lama kelamaan gerah juga mendengar kalimat itu berkali-kali.


Saya pun mulai berpikir, “Apa iya gak romantis?”. Kalau diingat-ingat kembali, ya kurang lebih hal-hal berbau mesra dan romantis itu tentu saja saya lakukan. Walau sederhana, seperti memberi bunga atau kejutan-kejutan kecil lainnya. Namun, tetap saja kalimat itu kadang terucap kembali. Aneh.


Dari situ mulailah ide untuk mencari sebab mengapa si pacar sering mengucapkan kalimat itu. Hal yang mudah tentunya, karena setiap hari kita berkomunikasi secara intens walau jarang bertemu langsung. Saya mulai lebih memperhatikan kebiasaannya, kesehariannya, dan lingkungan sekitarnya. Ada satu kebiasaannya yang mulai mengganggu saya, keranjingan serial drama Korea.


Merasa terganggu, karena dia sering mengucapkan kalimat itu adalah ketika usai menonton serial drama Korea. Ya, yang notabene memang menonjolkan sisi romantisme dalam alur ceritanya. Saya mulai berpikir ini berpengaruh besar terhadap penilaian romantisme saya.


Karena penasaran, saya coba menonton beberapa judul serial dan film nya. Dari situ, walau ceritanya berbeda-beda namun ada satu kesamaan yang saya dapat, para pria lebih banyak melakukan hal-hal yang sebenarnya sepele. Seperti memberi jaket ketika kehujanan atau menggandeng tangan saat berjalan serta masih banyak yang lain. Lebih kepada sifat perhatian sebenarnya, bukan kepada hal yang mewah seperti makan malam di restoran elit misalnya.


Akhirnya, saya putuskan untuk mencoba melakukan hal-hal kecil itu. Saya ajak dia untuk jalan dan menonton film Big Hero 6. Dimulai dari saat perjalanan pergi hingga pulang dipenuhi dengan obrolan-obrolan yang lebih perhatian. Nyatanya memang berhasil, si pacar pun bilang “Makasih ya, kamu tumben baik banget hari ini”.


Tiba-tiba saya teringat perkataan komedian Pandji Pragiwaksono dalam sebuah bit-nya yang menyatakan bahwa wanita lebih suka diperhatikan dibanding disanjung. Saya benar-benar mengerti apa artinya sejak saat itu. Tapi ada yang mengganjal, bagaimana dengan apresiasi seperti memberi bunga dan lain sebagainya?


Jika diperhatikan memang ada tipe pria yang senang memberi bunga dan sebagainya. Dan, pria yang tak seperti itu. Saya memang bukan tipe pria yang suka memberi bunga. Tepatnya, lebih menyukai untuk memberi yang lebih berarti atau bermanfaat. Bahkan seorang teman lama pernah berkata, “Lo harus diajarin masalah percintaan nih, kaku banget. Lo juga jangan sering cemburu lah, buat apa sih”.


Bukan salah saya jika teman lama ini berkata seperti itu. Setidaknya itulah yang tergambar dari sudut pandang dirinya. Tentu saja saya tak setuju karena kita memiliki pemikiran yang berbeda. Sering terpikir, untuk apa kita sering-sering memberi bunga kalau nantinya hubungannya tak berjalan mulus.


Untuk masalah kecemburuan, saya pikir ini adalah sisi paling menarik dalam sebuah hubungan. Rasa cemburu memang selalu hadir. Bagi saya, cemburu wajib ada di setiap percintaan. Karena cemburu adalah sebuah bukti kita menyayangi sesuatu. Walau memang jika berlebihan akan berujung kerusakan. Ah, bukankah cemburu itu begitu romantis bukan?


Dari situ, saya bisa mengambil kesimpulan. Mungkin ini akan menenangkan para hati wanita yang bingung dengan romantisme pasangannya. Jadi, percayalah setiap pria adalah orang yang romantis. Hanya pendekatan dan penyampaiannya saja yang berbeda-beda. Tinggal bagaimana kalian para wanita untuk memahaminya. Dan lagi, yang terpenting adalah cinta. Karena yang namanya cinta, romantisme akan muncul dengan sendirnya. Belum tentu berlaku jika sebaliknya.


Oh iya, waktu itu ketika saya memberi bunga, si pacar bilang, “Makasih ya, kamu sering-sering ya kayak gini”. Saya jawab, “Enggak ah, kalau sering-sering nanti bosan. Sesuatu yang berlebihan kan gak baik”. Dia pun hanya tersenyum kecut.

Postingan Populer