Showing posts with label Mancini. Show all posts
Showing posts with label Mancini. Show all posts

Tuesday, May 3, 2016

Ini Mancini apa Ranieri ya?

Sumber Gambar: express.co.uk
Iri rasanya melihat Leicester berhasil menjuarai Liga Inggris musim ini. Ya, siapa pun pasti iri melihatnya. Tanpa pemain bintang apalagi diunggulkan untuk merangsek ke papan atas, tim asuhan Claudio Ranieri ini berhasil mematahkan segala dugaan dan prediksi untuk siapa yang merajai sepakbola Inggris.

Tentu siapapun pasti sudah tahu bagaimana kisah sukses Leicester. Dari segala aspek yang telah dibahas banyak orang, saya rasa Ranieri pantas diberi kredit lebih. Salah satu kunci keberhasilan Leicester adalah mereka mampu menjaga konsistensi sejak awal musim.

Sebagai seorang pelatih yang terkenal gemar menggonta-ganti susunan pemain dan formasi, memiliki ‘winning team’ adalah suatu terobosan yang besar bagi seorang Claudio Ranieri. Mungkin memang hal inilah yang diperlukannya sejak lama. Cara ini sebenarnya telah dibuktikan oleh beberapa pelatih, sebut saja Carlo Ancelotti dan Jose Mourinho saat menukangi Milan dan Inter, mereka bahkan berhasil menjuarai Liga Champions.

Berbicara masalah konsistensi, kebetulan tim idola saya bermasalah dengan hal yang satu ini bahkan sejak beberapa tahun ke belakang. Ya, tim itu adalah Inter yang saat ini masih diasuh oleh Roberto Mancini.

Jika mengingat kembali, Inter juga dikenal gemar ‘merotasi’ pelatihnya. Terhitung ada tujuh nama yang menukangi Inter selepas kepergian Mourinho ke Real Madrid. Bahkan beberapa di antaranya dipecat pada pertengahan musim. Mereka adalah Rafael Benitez, Gianpiero Gasperini, Walter Mazzarri, dan Claudio Ranieri.

Sebagai tim yang sering berganti pelatih, wajar jika para performa pemain akan terpengaruh. Lihatlah nama-nama tadi, mereka memiliki gaya bermain yang berbeda-beda. Bahkan untuk Gasperini dan Mazzarri, yang sama-sama menggunakan formasi dasar dengan tiga pemain belakang, juga menerapkan permainan yang berbeda. Apalagi dengan Ranieri yang kerap berganti formasi dan juga pemain inti.

Sayangnya, kesalahan Ranieri di masa lalu seolah diulangi oleh Roberto Mancini. Tercatat, total Inter telah menerapkan tujuh formasi yang berbeda. Dengan pergantian formasi, pemain pun terpaksa dirotasi untuk memenuhi kebutuhan. Alhasil Inter yang sempat memuncaki klasemen hingga pertengahan musim harus puas tergusur hingga sekarang stabil (baca:mentok) berada di posisi keempat.

Coba kita lihat, dari total 26 pemain yang pernah diturunkan Mancini, yang paling sering menjadi starter adalah Samir Handanovic (35 kali), Jeison Murillo (31), Mauro Icardi (31), dan Miranda (30). Sisanya tidak/belum menyentuh 30 kali starter. Rotasi pemain ini hampir tak menyentuh bagian jantung pertahanan dan ujung tombak. Artinya, lini tengah memang menjadi bagian yang paling sering dibongkar pasang.

Uniknya, formasi apapun yang digunakan oleh Mancini, Inter tetap tampil dengan ciri khas, yaitu dengan mengandalkan penguasaan bola serta umpan-umpan pendek. Namun penyelesaian akhir Inter masih jauh dari kata memuaskan.

Jika dibandingkan dengan tim yang berada di lima peringkat teratas saat ini, baik dari jumlah gol, assist, dan umpan kunci, Inter menjadi yang terlemah. Ya bahkan kalah dari Fiorentina yang duduk satu peringkat di bawah Inter. Kita juga tahu di awal musim, Nerazurri meski sering menang tapi hanya menghasilkan skor tipis 1-0 saja. Saya ragu tumpulnya lini serang Inter apakah karena lini tengah mereka yang kurang mendukung atau sebaliknya, ini karena Mancini yang sering mengganti formasi.

****

Leicester adalah salah satu contoh bahwa sukses akan hadir dari konsistensi. Jika Mancini ingin kembali berjaya, maka menjaga konsistensi adalah suatu kewajiban. Dengan formasi 4-2-3-1 yang dalam beberapa pertandingan terakhir digunakan, rasanya ini bisa menjadi modal untuk di musim depan. Pondasi pun telah terbangun dari Handanovic, Murillo, Miranda, dan Icardi. Ditambah lagi dengan trio balkan, Perisic, Brozovic, dan Ljajic yang menjadi semakin padu, rasanya sudah cukup terbentuk sebuah tim yang kuat.

Namun kuat saja tak cukup jika menjadi tim yang inkonsisten. Kalau tak percaya, coba tanya Chelsea atau Liverpool juga boleh.

Thursday, September 3, 2015

Inter Tanpa Pembelian Panik

Sumber: goal.com
Sebagai salah satu klub yang begitu aktif di bursa transfer musim panas ini, Inter seakan belum merasa cukup dengan skuad yang ada. Bukan hal mengejutkan jika pada deadline day lalu akan ada pemain lagi yang bergabung. Benar saja, sehari sebelum hari terakhir jendela transfer musim panas, Ivan Perisic, pemain yang telah lama diincar resmi bergabung dari Wolfsburg. Namun, yang tidak diduga-duga adalah Inter berhasil mermapungkan transfer 3 pemain lainnya, Felipe Melo (Galatasaray), Adem Ljajic (Roma), dan Alex Telles (Galatasaray).

Wajar, jika di deadline day sering terjadi yang namanya pembelian panik. Biasanya terjadi karena klub gagal mendapatkan pemain incaran utamanya dan beralih pada nama lain. Atau hanya sekedar aji mumpung ada pemain yang bisa dibeli dengan harga lebih murah. Padahal situasinya, klub tersebut tak benar-benar membutuhkan si pemain. 

Untuk Inter, nampaknya label panic buying sah saja disematkan pada ketiga pemain tersebut. Tapi jika diperhatikan, ini bukanlah sebuah pembelian panik. Melihat dari komposisi pemain yang dimiliki Mancini, ketiga pemain tersebut sudah jelas untuk menambah kualitas kedalaman skuad serta memperkaya taktik yang diterapkan.

Sesuai Kebutuhan


Di dua pertandingan awal liga, Mancini berhasil membawa anak asuhnya memetik kemenangan beruntun dari Atalanta dan Carpi. Skema 4-3-1-2 yang sejak musim lalu dimainkan terlihat lebih padu walau belum meyakinkan. Beruntung Stefan Jovetic bisa memberikan penampilan impresif dengan memborong ketiga gol yang disarangkan Inter.

Jika Mancini mempertahankan skema dasarnya tersebut, kemungkinan Ivan Perisic dan Adem Ljajic akan ditempatkan di belakang dua striker. Hadirnya dua pemain bertipe menyerang ini memang menguntungkan, pasalnya Inter melepas dua trequartista andalannya, Kovacic (Real Madrid) dan Hernanes (Juventus).

Dua pemain lain yang direkrut dari Galatasaray, Felipe Melo dan Alex Telles juga akan cocok dengan gaya bermain Mancini. Melo, yang memang telah diincar sejak lama adalah tipe gelandang petarung yang dibutuhkan Inter. Pemain berusia 32 tahun ini baik dalam melakukan tekel dan intersep. Sehingga Mancini tak akan dipusingkan jika salah satu dari Medel atau Kondogbia absen.

Alex Telles yang berposisi sebagai fullback kiri memang sempat dipertanyakan. Karena dari materi pemain yang ada, sudah terlalu penuh untuk seorang pemain belakang. Lihat saja, ada Davide Santon, Yuto Nagatomo, Dodo yang memiliki posisi sama, selain itu masih ada D'Ambrosio dan Juan Jesus yang dipercaya mengemban tugas sebagai pengawal pertahanan di sisi kiri.

Namun, melihat Mancini lebih memercayakan Juan Jesus ketimbang fullback lain, mengindikasikan Inter memang butuh seorang pemain lagi di posisi ini. Salah satu penyebabnya, fakta bahwa Dodo dan Nagatomo lebih efektif jika ditempatkan di posisi yang lebih menyerang. Sedangkan Santon memang masih labil permainannya. Untuk itu, diperlukan seorang fullback kiri yang baik dalam bertahan juga bagus dalam membantu serangan seperti Alex Telles.

Kaya akan Alternatif Taktik

Sejak Mancini menggantikan Walter Mazzarri, dia mengembalikan pola bermain dengan 4 pemain belakang. Sejak musim lalu pun, Mancini memang memantapkan pakem 4-3-1-2 atau sesekali memainkan 3 penyerang sekaligus. Jika melihat dari komposisi pemain yang sekarang, mantan pelatih Galatasaray ini akan diuntungkan dengan memaksimalkan serangan dari sisi lapangan.

Bermain dengan 4-3-1-2 sebenarnya sudah melekat di Inter, bahkan pada saat meraih treble bersama Jose Mourinho dulu. Yang membuatnya istimewa adalah lini tengah  Cambiasso, Thiago Motta, Dejan Stankovic, dan Javier Zanetti, pemain yang serba bisa. Di depan ada Diego Milito dan Samuel Eto'o serta Goran Pandev yang bisa bermain di banyak posisi menyerang. Dan ada pemain bernama Wesley Sneijder yang kita sudah tahu seperti apa.

Tak adil rasanya apabila saya membandingkan Inter yang sekarang dengan 2010 lalu. Keberhasilan Mourinho adalah dia bisa leluasa menerapkan taktik karena materi pemain yang dimiliki mudah untuk disesuaikan kebutuhan. Seperti saat ini, Mancini bisa menerapkan beberapa pola tanpa harus meninggalkan pakem 4-3-1-2.

Pola 3-5-2 yang ditanamkan Mazzarri di Inter selama hampir 2 tahun memang berguna dan beberapa kali digunakan Mancini, terutama saat mempertahankan keunggulan. Dimainkannya Juan Jesus sebagai fullback kiri bisa berubah menjadi 3 pemain belakang dengan mendorong ke depan fullback kanan menjadi wide midfielder. Dengan menumpuknya pemain di tengah, Inter akan lebih mudah menguasai bola.

Sejak Januari lalu sebenarnya Mancini ingin membentuk Inter bermain lebih menyerang dengan mengandalkan sayap. Buktinya, Marcelo Brozovic, Xerdan Shaqiri, dan Lukas Podolski didatangkan untuk menopang daya serang Inter. Saat itu pun Mancini digadang-gadang akan menggunakan skema 4-3-3 atau 4-2-3-1. Sayangnya, saat itu tak berhasil sesuai harapan. Praktis hanya Brozovic yang bisa tampil baik dan dipertahankan untuk musim ini.

Dengan bergabungnya Jonathan Biabiany, Ivan Perisic, dan terakhir Adem Ljajic bisa menambah daya serang Inter menjadi lebih dinamis. Ketiga pemain ini adalah tipikal penyerang sayap yang mengandalkan kecepatan serta teknik untuk membangun serangan. Besar kemungkinan Mancini akan memainkan 4-3-3 atau 4-2-3-1 dalam beberapa pertandingan ke depan. Atau setidaknya akan diterapkan di tengah-tengah pertandingan.

Hal di atas didunkung dengan adanya Jovetic yang telah direkrut lebih dulu dan Rodrigo Palacio. Kedua pemain ini memang bisa ditempatkan di beberapa posisi dalam menyerang. Baik ditempatkan di sayap, di belakang striker, atau bertindak sebagai ujung tombak pun mereka punya kemampuan untuk itu semua.

Menyerang memanfaatkan dua sisi lapangan adalah kelemahan Inter di musim lalu. Gara-garanya selain Shaqiri dan Podolski gagal bersinar, kedua fullback utama di musim lalu, Juan Jesus dan D'Ambrosio bukanlah pengumpan silang yang baik. Karena alasan itulah, manajemen Inter mendatangkan Martin Montoya dan Alex Telles.

Sebenarnya Mancini masih memiliki Dodo, Nagatomo, dan Santon yang baik dalam membantu serangan. Namun mereka lemah dalam bertahan, terutama Dodo yang memiliki naluri menyerang terlalu tinggi dan Nagatomo yang sering dibekap cedera. Ada baiknya Mancini mencoba keduanya bermain jauh di depan jika bermain dengan 3 penyerang, menjadikan Dodo atau Nagatomo penyerang sayap. Saat bersama Mazzarri pun Nagatomo walau sebagai wingback, namun pergerakan dan penetrasi di depan gawang sangat berbahaya.

Tapi apapun pola yang diterapkan Mancini, tetap saja lini tengah memegang peranan penting. Dengan adanya Felipe Melo, lini tengah akan lebih kuat dalam soal bertahan. Dia bisa diduetkan dengan Kondogbia, Medel, atau bahkan dengan Gnoukouri ketika Inter ingin menumpuk pemain bertipe menyerang. Menjadikan mereka penopang dalam hal perebutan bola dan menjaga keseimbangan antara lini belakang dan lini serang. Felipe Melo memang tak muda lagi, tenaga dan staminanya berbeda saat dia berada masa puncaknya dulu. Pengalaman dan kepemimpinannya di lini tengah akan sangat berguna.

Untuk lini pertahanan, Jeison Murillo dan Joao Miranda sepertinya akan membuat Handanovic bermain lebih tenang. Walau secara keseluruhan Ranocchia dan Vidic bermain baik musim lalu, yang mengkhawatirkan adalah keduanya masih sering melakukan kesalahan-kesalahan yang sering berakibat fatal. Rasanya lini belakang Inter berubah menjadi lebih kuat dibanding musim lalu.

Kesimpulan

Perekrutan Ivan Perisic, Felipe Melo, Adem Ljajic, dan Alex Telles bukanlah pembelian panik. Namun memang sesuai kebutuhan tim yang dirasa masih kurang oleh Mancini. Bersaing di papan atas Serie A bukan mustahil. Inter pun diuntungkan dengan absen dari perhelatan Eropa yang bisa tampil lebih bugar dibanding tim-tim papan atas lainnya.

Perombakan besar-besaran bukan berarti tanpa risiko. Faktor adaptasi pemain sering menjadi kendalanya. Untungnya Inter dengan cerdik memboyong beberapa pemain yang terbiasa dengan atmosfer Serie A. Hanya tinggal Mancini nya  saja, bagaimana dia bisa meramu taktik yang tepat dan mengeluarkan potensi terbaik pemainnya.

Tuesday, July 28, 2015

Menerka Inter di Musim Mendatang

Sumber: goal.com
Sudah sebulan lebih bursa transfer  berlangsung, Inter sepertinya belum puas dalam membangun skuad untuk musim depan. Hingga kini, sudah ada lima pemain baru yang telah dipastikan akan berkostum biru hitam. Jeison Murillo, Joao Miranda, Geoffrey Kondogbia, Martin Montoya, dan Jonathan Biabiany. Ini belum ditambah dengan kabar bahwa Stevan Jovetic telah menuju Inter.

Misi Roberto Mancini untuk perjalanan setahun ke depan sudah begitu jelas, membawa Inter kembali bersaing scudetto. Ya atau setidaknya kembali ke ranah Liga Champions. Bukan hal yang mudah, tapi juga tak mustahil.

Jika melihat performa mereka di pertandingan pra musim, Inter masih jauh dari kata memuaskan. Wajar saja, meski sudah kedatangan tiga orang nama baru untuk lini belakang tapi sejak melawan Stuttgart Kickers hingga Real Madrid, Inter selalu kebobolan. Artinya, permasalahan utama di musim lalu belum sepenuhnya terselesaikan. Memang semua itu hanyalah uji coba atau pertandingan "latihan". Namun dari sini, kita bisa sedikit terbayang seperti apa Inter pada musim yang akan mendatang.

Sejak Mancini memutuskan untuk kembali ke Giuseppe Meazza, Inter kembali kepada pakem penggunaan empat pemain belakang. Mantan pelatih Galatasaray ini juga sepertinya akan meneruskan pola 4-3-1-2 seperti musim lalu dan bermain dengan penguasaan bola yang tinggi. Ini sudah terlihat dimainkan di beberapa kesempatan. Namun perubahan kemungkinan akan terjadi dengan datangnya pemain-pemain baru.

Di Mana Jovetic dan Biabiany akan Bermain?

Inter baru saja mendapatkan Stevan Jovetic dengan status pinjam dan opsi pembelian di akhir musim. Pemain yang sukses mengangkat namanya bersama Fiorentina ini kesulitan mendapat tempat utama di Manchester City. Sebagai penyerang, dia kalah bersaing dengan Kun Aguero dan Edin Dzeko, belum lagi Januari lalu City kedatangan seorang Wilfried Bony.
Jovetic memang bisa ditempatkan di berbagai posisi. Permainannya ketika dipasang sebagai gelandang serang pun lebih baik dengan mencetak gol lebih banyak. Dia pun bisa bermain di sisi kiri jika diperlukan.

Kepulangan Jonathan Biabiany serta kedatangan Stevan Jovetic bisa memberi Mancini kombinasi serangan yang lebih variatif. Biabiany adalah pemain sayap yang memiliki kecepatan dan kemampuan dribel yang baik. Inter pun bisa memainkan permainan cepat dengan mengandalkan kedua sisi lapangan dengan lebih baik. 

Inter akan lebih leluasa memainkan tiga orang penyerang atau dengan 4-2-3-1. Dengan memasang Nagatomo maupun Dodo di sisi kiri yang begitu agresif saat menyerang. Atau juga bisa memaksimalkan peran Jovetic atau Palacio yang bisa bermain lebih melebar, merubah pola menjadi 4-3-3.

Selain kemungkinan akan ditempatkan di sayap, Jovetic lebih berpeluang dipasang sebagai trequartista. Pemain kelahiran Montenegro ini memiliki skill di atas rata-rata yang sangat berbahaya dalam membangun serangan. Walaupun di posisi ini bisa saja diberi kepada salah satu dari Hernanes, Kovacic, atau Brozovic.

Jovetic pun bisa ditandemkan dengan Mauro Icardi atau Rodrigo Palacio di lini depan. Dia pun fasih bermain sebagai striker tunggal. Walau di City dia lebih tajam ketika ditempatkan di belakang striker.

Lini Tengah Semakin Solid (?)

Di bursa transfer kali ini Inter melepas Ricardo Alvarez, Joel Obi, Zdarvko Kuzmanovic, Rene Krhin, Alfred Duncan, dan Ruben Botta. Masing-masing pindah ke Sunderland, Torino, Basel, Granada, Sampdoria, dan Pachuca. Kehilangan beberapa pemain di posisi gelandang ini rasanya memang tak terlalu berpengaruh, mengingat mereka hanya menjadi pelapis di musim lalu, sisanya dipinjamkan ke klub lain. Penampilan mereka pun tak ada yang istimewa. Bahkan Rene Krhin tak pernah membuat satu pun penampilan sebagai starter dan sempat dipinjamkan ke Cordoba.

Untuk musim mendatang, telah datang pemuda seharga 35 juta Euro bernama Geoffrey Kondogbia. Dengan mahar sebesar itu, Erick Thohir seperti mengisyaratkan bahwa dirinya serius dalam mengincar tempat untuk berlaga di Liga Champions. Selain itu, dengan perekrutan ini setidaknya memberi kesan bahwa Thohir tak pelit dalam urusan beli pemain.

Geoffrey adalah seorang gelandang tipe petarung. Dia bagus dalam bertahan dan punya daya jelajah yang tinggi. Dengan angka 3,1 tekel dan 2,5 intersep per pertandingan membuktikan dia bisa menambah kekuatan Inter dalam bertahan. Setidaknya Mancini tak lagi kelimpungan jika harus kehilangan Gary Medel, bahkan dia berpeluang besar menggeser pemain asal Chile tersebut dari tempat utama.

Pemain tengah lainnya tersisa Hernanes, Mateo Kovacic, Marcelo Brozovic, Fredy Guarin, dan pemain muda yang namanya mencuat di musim lalu Assane Gnoukouri. Sebenarnya ada satu nama lagi, Saphir Taider yang musim lalu dipinjamkan ke Sassuolo. Namun, pemain internasional Algeria ini kencang diisukan akan pindah dari Giuseppe Meazza.

Jika Taider akan hengkang, maka stok pemain tengah Inter terlalu riskan. Karena peluang seorang pemain mendapatkan cedera selalu ada. Lagipula dengan hanya ketambahan Kondogbia, lini tengah Inter tak banyak berubah seperti musim lalu. Apalagi permainan Kovacic dan Guarin masih terbilang inkonsisten.

Ada kemungkinan besar Mancini akan mengorbitkan salah satu pemain muda lagi seperti Gnoukouri. Setelah di pertandingan pra musim dia banyak memberi kesempatan bermain kepada pemain-pemain dari tim primavera. Juga tak menutup kemungkinan Inter akan mendatangkan lagi satu gelandang untuk memperkuat lini tengah.

Kebanjiran Pemain Belakang

Di akhir musim lalu, Inter cukup banyak melepas pemain dari posisi bek. Jonathan, Hugo Campagnaro, Felipe, dan Matias Silvestre yang dipinjamkan ke Sampdoria dilepas dengan status bebas transfer. Serta melepas Ibrahima Mbaye dan Lukas Spendlhofer, pemain-pemain muda yang kesulitan menembus tim utama.

Sebagai gantinya pihak Inter memboyong tiga pemain yang bermain di La Liga Spanyol musim lalu, Jeison Murillo, Joao Miranda, dan Martin Montoya. Mendatangkan ketiga pemain ini adalah sebuah bentuk keseriusan Mancini dalam memperkuat barisan pertahanan yang menjadi titik lemah Inter di musim lalu.

Kelemahan barisan pertahanan Inter yang begitu disorot adalah banyaknya kesalahan individu. Tak jarang Ranocchia, Vidic, maupun kiper Samir Handanovic sering dijadikan kambing hitam karena kesalahannya berujung fatal. Karena itu, Inter sering kehilangan poin saat menghadapi lawan yang inferior.

Selain itu, terlihat sekali jika Inter sangat lemah menghadapi lawan-lawan yang memiliki pemain yang cepat. Penguasaan bola yang tinggi, menuntut barisan pertahanan Inter ikut maju untuk memberi opsi tambahan dalam menguasai bola. Terkadang, duet Ranocchia-Vidic sering kewalahan dalam mengantisipasi serangan balasan. Ranocchia bukan tipe bek yang cepat sedangkan Vidic sudah tak memiliki fisik saat masa jayanya bersama Manchester United dulu.

Kedatangan ketiga pemain belakang memang menjadi angin segar bagi Mancini. Pasalnya duet Ranocchia-Vidic tak memiliki pelapis yang sepadan di musim lalu. Sebenarnya ada Juan Jesus, namun Mancini lebih gemar memainkannya sebagai fullback kiri ketimbang sebagai bek tengah. Sisanya hanya Marco Andreolli yang sangat sulit untuk meraih tempat sebagai pilihan utama.

Bergabungnya Murillo dan Miranda memang tak menjamin mereka langsung menjadi langganan starter. Mengingat penampilan mereka berdua bisa dibilang tak lebih baik dari Ranocchia maupun Vidic di musim lalu. Namun setidaknya mereka akan membuat persaingan di lini belakang semakin menarik.

Satu lagi pemain yang bergabung dari klub La Liga Spanyol adalah Martin Montoya. Pemain berusia 24 tahun ini memang sudah lama diincar oleh Inter. Bisa dibilang Montoya adalah perekrutan yang bagus untuk Mancini. Karena di usianya yang terbilang muda, dia sudah memenangkan berbagai macam gelar bersama Barcelona. Sudah jelas dia memiliki mental juara.

Martin memiliki kecepatan, teknik, dan kemampuan passing yang baik, tipikal pemain jebolan Barcelona. Meski punya daya serang yang tinggi tapi dia juga baik dalam bertahan. Walaupun jumlah crossing-nya tak sebanyak Dodo ataupun Danilo D'Ambrosio namun bukan berarti dirinya lemah dalam hal ini. Hanya saja, melancarkan umpan silang bukanlah bagian utama dari Barcelona. Rasanya, kedatangan dirinya bisa menghilangkan dahaga akan fullback agresif seperti Maicon dulu.
Kesimpulan
Inter di musim depan tak akan berbeda jauh dengan musim lalu. Mancini kemungkinan akan kembali mengandalkan formasi 4-3-1-2 yang lebih sempurna. Pola ini membuat Inter selalu dominan di lini tengah dan menguasai bola dengan persentase yang tinggi di setiap pertandingan.

Bergabungnya Murillo dan Miranda diharapkan bisa menambal lini belakang yang bermain inkonsisten di musim lalu. Geoffrey Kondogbia pun akan membuat pertahanan Inter semakin tebal karena kemampuan bertahannya bisa menjadi tembok awal untuk mematahkan serangan lawan.
Bergabungnya Martin Montoya bisa menjadi kunci sukses Mancini. Karena ini menghilangkan kelemahan Inter saat menyerang yang sering buntu karena kedua fullback bukan pemberi crossing yang baik. Karena ketika bermain dengan formasi yang rapat, bantuan dari bek sayap harus bisa menjadi alternatif serangan ketika lini tengah buntu.

Kembalinya Biabiany bisa menjadi salah satu pembeda di lini serang Inter. Karena Mancini tak lagi ragu ketika dia ingin bermain melebar dengan menempatkan pemain lebih di sisi lapangan. Juga ada Jovetic yang mampu bermain di berbagai posisi. Kemampuan teknik serta kreativitasnya sangat bisa diandalkan.
Memang wajar jika Mancini diberi ekspektasi yang tinggi di musim depan. Dengan gelontoran pemain yang datang, Inter akan menjadi jauh lebih kuat dibanding musim lalu. Tak ada lagi alasan tim sedang masa transisi atau kekurangan pemain berkualitas.
Semoga berhasil Mancio! Dan jangan lupa mengingatkan Handanovic untuk menangkap bola.

Tuesday, November 25, 2014

Review Milan 1 vs 1 Inter: Minimnya Kreativitas Lapangan Tengah

Publik San Siro tiba-tiba bergemuruh saat pertandingan memasuki menit ke 23. Pemain-pemain Milan merayakan gol cantik Jeremy Menez. Sang allenatore anyar Inter, Roberto Mancini pun mulai memberi instruksi kepada pemain-pemainnya. Gol balasan Inter baru tercipta di menit ke-61 lewat sepakan Joel Obi. Pertandingan berlangsung seru hingga menit akhir, walau begitu hasil ini cukup realistis dan memuaskan untuk debut Roberto Mancini.

Kebobolan di menit-menit awal menandakan kelemahan Inter di musim ini belum hilang. Pertahanan Il Nerazurri memang rentan kebobolan di musim ini. Salah satu pekerjaan besar untuk Mancini jika ingin membawa Inter melaju lebih tinggi.

Sumber: www.whoscored.com

Inter memulai pertandingan dengan formasi 4-3-1-2. Dengan menempatkan Mateo Kovacic berdiri di antara Icardi dan Palacio terlihat permainan Inter akan terpusat padanya. Namun hingga babak kedua bola lebih sering diberi ke sisi kanan di mana Guarin yang menjadi tonggak serangan Inter. Kovacic sendiri bermain lebih melebar ke sisi kiri di belakang Icardi. Penyebabnya adalah dua gelandang Milan, Muntari dan Essien yang selalu menjaga kedalaman pertahanan dan menyulitkan Inter untuk menyerang dari tengah lapangan.

Biru: Milan; Oranye: Inter
Sumber: www.whoscored.com

Grafis di atas menunjukkan bahwa Mancini berupaya untuk menekan daya serang Milan dari trio El Sharaawy, Menez, dan Bonaventura. Terlihat beberapa kali Muntari dan Sciglio kewalahan mengatasi gempuran Guarin, Palacio, dan Yuto Nagatomo. Namun kurangnya tekanan dari Kovacic dan Obi hanya meninggalkan Icardi sendirian di depan. Umpan-umpan silang juga mudah terbaca oleh Diego Lopez.

Lini Tengah Inter Minim Kreativitas

Empat pemain tengah yang dipasang sejak awal tak kunjung memberi dukungan berarti untuk Icardi. Padahal Inter lebih banyak menguasai bola ketimbang Milan. Parktis hanya Guarin yang memberi perbedaan. Absennya Gary Medel memaksa Mancini memasang Kuzmanovic sebagai gelandang bertahan. Penampilan Zdravko terbilang cukup memuaskan namun aksinya yang memilih bermain aman menimbulkan kekecewaan.
Grafis Umpan Zdravko Kuzmanovic
(Sumber: www.squawka.com)

Dari data yang dimuat whoscored.com menunjukkan bahwa Kuzmanovic adalah pemain yang paling sering menyentuh bola di pertandingan ini. Dengan total 94 sentuhan dan 83 operan sudah menjadi bukti bahwa permainan Inter berpusat di Kuzmanovic bukan pada Kovacic. Jika melihat grafis di atas, Kuzmanovic banyak melakukan operan-operan pendek di sekitar posisinya saja. Dan lebih sering mengoper ke sisi kanan Inter, kepada Guarin, Palacio, atau Nagatomo. Tapi tak ada satu pun key passes. Ya peran besar dirinya tak diiringi oleh visi permainan yang baik. Walau seingat saya, ini salah satu penampilan terbaiknya jika ditempatkan sebagai gelandang bertahan.

Dua pemain lainnya, Joel Obi dan Kovacic memiliki peran yang sangat minim hingga babak pertama usai. Sebelum mencetak gol, Obi hampir tak terlihat sepanjang permainan. Pergerakan Essien yang bergantian menutup jalur operan terhadap dirinya dan Kovacic memang mematikan lini tengah Inter. Kovacic sendiri perannya mulai terlihat ketika Hernanes masuk.

Dengan masuknya Hernanes, Kovacic bermain lebih melebar mendekati Dodo untuk menyerang dari sisi kiri. Hernanes pun memberi opsi serangan dari tengah lapangan, membuat serangan Inter lebih variatif. Tapi Milan yang sudah nyaman dalam bertahan tak kesulitan untuk mengantisipasi serangan Inter yang kurang kreativitas.

Pertahanan yang Masih Rentan

Mancini menerapkan kembali pola 4 bek di Inter. Dodo dan Nagatomo kembali berperan sebagai fullback dan dua bek tengah pilihan jatuh kepada Juan Jesus dan Andrea Ranocchia ketimbang Nemanja Vidic. Selain penampilan yang tak konsisten, Vidic adalah bek bertipe lambat seperti Ranocchia. Terlalu beresiko jika mencadangkan kapten atau memasang kedua bek lambat, keputusan yang bisa diterima.

Di babak pertama Milan mendominasi serangan. Inter yang sering menyerang lewat sisi kanan memaksa Nagatomo untuk maju ke depan membantu Guarin dan Palacio. Namun pos yang ditinggal Nagatomo tidak diiringi koordinasi yang baik di lini belakang. Saat gol Menez tercipta, di kotak penalti hanya menyisakan Dodo.

Lemahnya reaksi saat transisi dari menyerang ke bertahan terlihat pada keputusan Ranocchia dan Juan Jesus yang melakukan tekanan saat tiga pemain Milan sedang berlari ke arah kotak penalti. Hasilnya pun nihil, bola berhasil diberikan kepada El Sharaawy dan dioper ke Menez yang berbuah gol. Bahkan beberapa kali Milan mendapatkan kesempatan emas dari Giacomo Bonaventura dan El Sharaawy di babak kedua. Beruntung kedua kesempatan gagal dikonversi menjadi gol.

Kesimpulan
 
Menempatkan Kuzmanovic sebagai gelandang bertahan cukup baik dalam membantu pertahanan. Walaupun dirinya masih canggung berada di posisi tersebut. Terhitung dari 12 pertandingan Inter telah kebobolan 15 kali. Dengan rataan kemasukan yang besar, mantan pelatih Galatasaray ini harus bekerja ekstra keras. Terutama giornata selanjutnya Inter harus berhadapan dengan Roma yang sedang dalam performa terbaiknya. Satu keuntungan besar jika Mancini kembali menerapkan pola seperti lawan Milan ini sambil berharap Gary Medel bisa tampil kembali.

Postingan Populer