Showing posts with label Transfer Pemain. Show all posts
Showing posts with label Transfer Pemain. Show all posts

Friday, January 6, 2017

Felipe Melo Pergi, Roberto Gagliardini pun Datang



Seperti yang terjadi di tiap tahunnya, Inter tentu akan berburu pemain di bursa transfer musim dingin. Sebagai klub yang besar juga Inter selalu dikait-kaitkan dengan banyak pemain. Hingga kini yang paling terdengar mungkin seperti Ricardo Rodriguez, Lucas Leiva, Milan Badelj, dan Roberto Gagliardini.

Untuk nama yang terakhir, Gagliardini, Inter disebut-sebut telah menyiapkan mahar sekitar 28 juta Euro. Bagi saya, itu adalah dana yang cukup besar untuk pemain berusia 22 tahun. Namun memang pihak manajemen Inter cukup serius dengan transfer Gagliardini.

Nama Gagliardini memang cukup asing di telinga, pasalnya memang pemain yang berposisi sebagai gelandang ini hanya bermain di tim-tim kecil Italia saja. Roberto Gagliardini adalah pemain jebolan akademi Atalanta, dia baru masuk ke tim senior di musim 2013/2014 lalu. Pada Januari 2014, pemain kelahiran Bergamo ini dipinjamkan ke Cesena, di mana ia mencetak gol pertamanya sebagai pemain profesional. Di dua musim berikutnya, Roberto kembali dipinjamkan ke Spezia dan Vicenza.

Singkatnya, musim ini adalah untuk pertama kalinya Roberto Gagliardini bermain di tim utama Atalanta. Di awal musim, Roberto belum mendapat kepercayaan penuh dari Gian Piero Gasperini, tapi seiring waktu ia mulai sering bermain sejak menit pertama. Lebih tepatnya di sekitar bulan Oktober ketika melawan Genoa, Gagliardini tampil sangat baik dengan mencetak satu asis untuk membawa Atalanta menang telak 3-0. Sejak itu, pemain kelahiran 7 April 1994 tersebut menjadi langganan starting line-up.

Namanya sempat mencuat ketika ia mulai dipanggil ke tim nasional U-20 di 2014 dan U-21 di tahun berikutnya. Berkat penampilan konsistennya, ia akhirnya mendapat kesempatan dipanggil ke tim senior pada November 2016 lalu. Ia dibawa oleh Gian Piero Ventura di laga kualifikasi Piala Dunia 2018 melawan Liechtenstein dan juga laga persahabatan melawan Jerman.

Alasan Ketertarikan Inter pada Gagliardini

Dari sekian banyak pemain, tentu ada alasan kuat mengapa Inter terlihat begitu antusias untuk memboyong Gagliardini. Sebagai pemain yang berposisi sebagai gelandang, Gagliardini tak hanya bagus dalam hal menyerang, tapi juga sering membantu pertahanan. Menurut statistik dari whoscored, Roberto cukup jeli dalam membaca permainan. Hal itu terbukti dari rataan intersepnya yang mencapai 1.5 per pertandingan, angka yang lumayan untuk seorang central midfielder.

Bisa dibilang salah satu kekuatan utamanya adalah dalam hal passing. Sejauh ini ia mencatat 435 umpan dengan persentase keakuratan mencapai 84,8%. Dari 13 laga di Serie-A, ia juga telah mencatat 8 umpan kunci, artinya ia juga punya potensi sebagai pencipta peluang bagi timnya, meski hanya mencetak 2 asis sejauh ini.

Rasanya cukup wajar jika klub sekaliber Inter pun ingin memboyong Roberto Gagliardini. Mengingat ia masih berusia 22 tahun, Gagliardini punya potensi untuk menjadi pemain besar. Ada bagusnya juga Inter tertarik padanya, karena biasanya Nerazurri lebih sering tertarik membeli pemain dari asing. Kita juga tahu para pemain muda Italia biasanya lebih sering bergabung dengan Juventus, Napoli, Milan, ataupun Roma. Mengingat Gagliardini telah menarik perhatian Ventura, tentu Inter tak ingin tersalip lagi dalam perebutan pemain masa depan Italia tersebut.

Bisakah Gagliardini Bersaing dengan Lini Tengah Inter?

Jawabannya tentu bisa, cuma sangat berat menurut saya. Pasalnya Inter yang kini dilatih oleh Stefano Pioli, paling sering memainkan pola 4-2-3-1. Dari delapan pertandingan, Pioli memainkan pakem tersebut di enam laga, sisanya menggunakan 3-4-3. Jadi secara kasar, di tiap laganya Inter butuh tiga orang gelandang. Maka dari itu, minimal Inter harus punya lima sampai enam pemain gelandang di skuadnya, tentu ini membuka peluang Gagliardini.

Namun yang menjadi tantangan besar adalah bagaimana seorang Roberto Gagliardini bisa menembus lini tengah Inter, yang diisi oleh pemain-pemain top dan sedang berada dalam kondisi terbaik saat ini. Dari melihat posisi bermain, Gagliardini kemungkinan besar akan ditempatkan sebagai salah satu pemain di belakang gelandang serang. Kemampuan bertahan Gagliardini tentu akan diperlukan sebagai penyeimbang di lini tengah.

Masalahnya, jika Gagliardini resmi berkostum Inter dan bergabung dengan skuad di sisa musim ini, mau tak mau ia harus bersaing dengan Marcelo Brozovic, salah satu pemain dengan penampilan terbaik di Inter sepanjang musim. Di bawah asuhan Pioli, Brozovic tak hanya berperan sebagai playmaker, ia juga menunjukkan ketajamannya dengan raihan empat gol. Selain itu, Brozovic juga rajin berkontribusi untuk pertahanan, karena titik serang bisa diserahkan pada gelandang serang yang berdiri di belakang penyerang utama. Bahkan rataan tackle-nya mencapai 2.5 per pertandingan.

Jika satu tempat telah dipastikan untuk Brozovic, bukankah masih ada satu slot lagi kan?

Nah masalahnya, Pioli tentu butuh pemain dengan tipe yang berbeda untuk menemani Brozovic. Hal itu memang terbukti, terkecuali saat melawan Genoa, Brozovic selalu dipasangkan dengan pemain yang lebih "bertenaga", yaitu antara Kondogbia ataupun Felipe Melo.

Kesempatan bermain untuk Gagliardini memang semakin terbuka, mengingat Felipe Melo telah setuju untuk pindah ke Palmeiras. Maka dari itu, Gagliardini kemungkinan besar akan bersaing dengan Kondogbia untuk menemani Brozovic. Lagipula perannya nanti mungkin akan mirip dengan apa yang dilakukannya di Atalanta, ia lebih sering ditempatkan di belakang gelandang serang, entah itu Alejandro Gomez atau Jasmin Kurtic. Namun Gagliardini juga punya kekurangan jika dibandingkan dengan Kondogbia, ia tak memiliki kemampuan dribel sebaik pemain asal Prancis tersebut.

Bagaimana dengan posisi di belakang penyerang? Rasanya Pioli pun tak akan mengambil risiko terlalu besar untuk menempatkan Gagliardini di posisi tersebut. Karena kini Inter memiliki dua pemain yang sedang bermain baik, Ever Banega dan Joao Mario. Maka dari itu posisi ideal untuk Gagliardini adalah bermain di belakang gelandang serang, entah itu dipasangkan dengan Brozovic atau mungkin Kondogbia.

Benarkah Ini Waktu yang Tepat untuk Gagliardini?

Jika berbicara tepat atau tidak, saya rasa transfer Gagliardini adalah hal yang sama-sama menguntungkan untuk kedua pihak. Pertama, Gagliardini akan diuntungkan dengan bergabung di klub sebesar Inter, mengingat kesempatan bermain semakin terbuka lebar, jika dia bisa meraih posisi reguler tentu akan jauh lebih baik untuk ke depannya. Belum lagi mengingat ia masih berusia 22 tahun, bermain reguler di Inter tentu akan berpengaruh besar terhadap perkembangan kariernya.

Bagi Inter sendiri, memiliki pemain muda Italia yang punya potensi besar tentu menjadi keuntungan tersendiri. Karena seperti yang kita tahu, Inter lebih dikenal sering membeli pemain senior atau pemain asing. Selain itu, jika penampilan Gagliardini semakin meningkat dan menempati posisi reguler, bisa saja ia akan dijual dengan harga yang jauh lebih tinggi beberapa tahun ke depan.

Namun jika melihat dari skuad Inter, Stefano Pioli memang telah mengiyaratkan bahwa ia butuh gelandang dengan tipe yang jauh lebih defensive ketimbang Gagliardini. Maka dari itu sejak beberapa waktu lalu Inter telah dihubung-hubungkan dengan beberapa nama seperti Lucas Leiva, Luiz Gustavo, Obi Mikel, dan Milan Badelj. Nyatanya, Inter lebih dulu merekrut Gagliardini, apakah ia akan diasah menjadi pemain yang lebih defensive, bisa saja.

Tantangannya adalah dari manajemen Inter. Kita tahu meski kini Stefano Pioli berhasil mengangkat permainan Inter, nasibnya di akhir musim nanti belum tentu aman. Bisa jadi Pioli akan digantikan oleh pelatih lain sebagus apa pun prestasi yang diraih. Kekhawatiran saya adalah jika berganti pelatih, kemungkinan Gagliardini akan ditendang pun pasti ada.

Kesimpulan

Menurut saya, transfer Gagliardini adalah salah satu langkah yang cukup tepat. Inter melepas Melo dan menggantinya dengan pemain gelandang juga. Soal tiper bermain memang mereka memiliki perbedaan, namun hal ini lebih kepada masalah regenerasi skuad, mengingat Melo yang menginjak 33 tahun dan tak bisa bermain prima dan garang seperti beberapa tahun lalu. Selain itu, semakin banyaknya pemain Italia di skuad Inter tentu akan memudahkan Inter untuk bermanuver jika sewaktu-waktu ingin merekrut pemain asing lainnya. Lagipula karena Gagliardini adalah pemain lokal, rasanya ia tak akan kesulitan untuk beradaptasi.

Namun sayangnya, harga 28 juta Euro bagi saya terlalu tinggi untuk ukuran Gagliardini. Sebagai pemain yang kemungkinan besar tak akan langsung menjadi pilihan utama, mahar setinggi itu adalah sebuah pertaruhan yang cukup berani.

Thursday, September 3, 2015

Inter Tanpa Pembelian Panik

Sumber: goal.com
Sebagai salah satu klub yang begitu aktif di bursa transfer musim panas ini, Inter seakan belum merasa cukup dengan skuad yang ada. Bukan hal mengejutkan jika pada deadline day lalu akan ada pemain lagi yang bergabung. Benar saja, sehari sebelum hari terakhir jendela transfer musim panas, Ivan Perisic, pemain yang telah lama diincar resmi bergabung dari Wolfsburg. Namun, yang tidak diduga-duga adalah Inter berhasil mermapungkan transfer 3 pemain lainnya, Felipe Melo (Galatasaray), Adem Ljajic (Roma), dan Alex Telles (Galatasaray).

Wajar, jika di deadline day sering terjadi yang namanya pembelian panik. Biasanya terjadi karena klub gagal mendapatkan pemain incaran utamanya dan beralih pada nama lain. Atau hanya sekedar aji mumpung ada pemain yang bisa dibeli dengan harga lebih murah. Padahal situasinya, klub tersebut tak benar-benar membutuhkan si pemain. 

Untuk Inter, nampaknya label panic buying sah saja disematkan pada ketiga pemain tersebut. Tapi jika diperhatikan, ini bukanlah sebuah pembelian panik. Melihat dari komposisi pemain yang dimiliki Mancini, ketiga pemain tersebut sudah jelas untuk menambah kualitas kedalaman skuad serta memperkaya taktik yang diterapkan.

Sesuai Kebutuhan


Di dua pertandingan awal liga, Mancini berhasil membawa anak asuhnya memetik kemenangan beruntun dari Atalanta dan Carpi. Skema 4-3-1-2 yang sejak musim lalu dimainkan terlihat lebih padu walau belum meyakinkan. Beruntung Stefan Jovetic bisa memberikan penampilan impresif dengan memborong ketiga gol yang disarangkan Inter.

Jika Mancini mempertahankan skema dasarnya tersebut, kemungkinan Ivan Perisic dan Adem Ljajic akan ditempatkan di belakang dua striker. Hadirnya dua pemain bertipe menyerang ini memang menguntungkan, pasalnya Inter melepas dua trequartista andalannya, Kovacic (Real Madrid) dan Hernanes (Juventus).

Dua pemain lain yang direkrut dari Galatasaray, Felipe Melo dan Alex Telles juga akan cocok dengan gaya bermain Mancini. Melo, yang memang telah diincar sejak lama adalah tipe gelandang petarung yang dibutuhkan Inter. Pemain berusia 32 tahun ini baik dalam melakukan tekel dan intersep. Sehingga Mancini tak akan dipusingkan jika salah satu dari Medel atau Kondogbia absen.

Alex Telles yang berposisi sebagai fullback kiri memang sempat dipertanyakan. Karena dari materi pemain yang ada, sudah terlalu penuh untuk seorang pemain belakang. Lihat saja, ada Davide Santon, Yuto Nagatomo, Dodo yang memiliki posisi sama, selain itu masih ada D'Ambrosio dan Juan Jesus yang dipercaya mengemban tugas sebagai pengawal pertahanan di sisi kiri.

Namun, melihat Mancini lebih memercayakan Juan Jesus ketimbang fullback lain, mengindikasikan Inter memang butuh seorang pemain lagi di posisi ini. Salah satu penyebabnya, fakta bahwa Dodo dan Nagatomo lebih efektif jika ditempatkan di posisi yang lebih menyerang. Sedangkan Santon memang masih labil permainannya. Untuk itu, diperlukan seorang fullback kiri yang baik dalam bertahan juga bagus dalam membantu serangan seperti Alex Telles.

Kaya akan Alternatif Taktik

Sejak Mancini menggantikan Walter Mazzarri, dia mengembalikan pola bermain dengan 4 pemain belakang. Sejak musim lalu pun, Mancini memang memantapkan pakem 4-3-1-2 atau sesekali memainkan 3 penyerang sekaligus. Jika melihat dari komposisi pemain yang sekarang, mantan pelatih Galatasaray ini akan diuntungkan dengan memaksimalkan serangan dari sisi lapangan.

Bermain dengan 4-3-1-2 sebenarnya sudah melekat di Inter, bahkan pada saat meraih treble bersama Jose Mourinho dulu. Yang membuatnya istimewa adalah lini tengah  Cambiasso, Thiago Motta, Dejan Stankovic, dan Javier Zanetti, pemain yang serba bisa. Di depan ada Diego Milito dan Samuel Eto'o serta Goran Pandev yang bisa bermain di banyak posisi menyerang. Dan ada pemain bernama Wesley Sneijder yang kita sudah tahu seperti apa.

Tak adil rasanya apabila saya membandingkan Inter yang sekarang dengan 2010 lalu. Keberhasilan Mourinho adalah dia bisa leluasa menerapkan taktik karena materi pemain yang dimiliki mudah untuk disesuaikan kebutuhan. Seperti saat ini, Mancini bisa menerapkan beberapa pola tanpa harus meninggalkan pakem 4-3-1-2.

Pola 3-5-2 yang ditanamkan Mazzarri di Inter selama hampir 2 tahun memang berguna dan beberapa kali digunakan Mancini, terutama saat mempertahankan keunggulan. Dimainkannya Juan Jesus sebagai fullback kiri bisa berubah menjadi 3 pemain belakang dengan mendorong ke depan fullback kanan menjadi wide midfielder. Dengan menumpuknya pemain di tengah, Inter akan lebih mudah menguasai bola.

Sejak Januari lalu sebenarnya Mancini ingin membentuk Inter bermain lebih menyerang dengan mengandalkan sayap. Buktinya, Marcelo Brozovic, Xerdan Shaqiri, dan Lukas Podolski didatangkan untuk menopang daya serang Inter. Saat itu pun Mancini digadang-gadang akan menggunakan skema 4-3-3 atau 4-2-3-1. Sayangnya, saat itu tak berhasil sesuai harapan. Praktis hanya Brozovic yang bisa tampil baik dan dipertahankan untuk musim ini.

Dengan bergabungnya Jonathan Biabiany, Ivan Perisic, dan terakhir Adem Ljajic bisa menambah daya serang Inter menjadi lebih dinamis. Ketiga pemain ini adalah tipikal penyerang sayap yang mengandalkan kecepatan serta teknik untuk membangun serangan. Besar kemungkinan Mancini akan memainkan 4-3-3 atau 4-2-3-1 dalam beberapa pertandingan ke depan. Atau setidaknya akan diterapkan di tengah-tengah pertandingan.

Hal di atas didunkung dengan adanya Jovetic yang telah direkrut lebih dulu dan Rodrigo Palacio. Kedua pemain ini memang bisa ditempatkan di beberapa posisi dalam menyerang. Baik ditempatkan di sayap, di belakang striker, atau bertindak sebagai ujung tombak pun mereka punya kemampuan untuk itu semua.

Menyerang memanfaatkan dua sisi lapangan adalah kelemahan Inter di musim lalu. Gara-garanya selain Shaqiri dan Podolski gagal bersinar, kedua fullback utama di musim lalu, Juan Jesus dan D'Ambrosio bukanlah pengumpan silang yang baik. Karena alasan itulah, manajemen Inter mendatangkan Martin Montoya dan Alex Telles.

Sebenarnya Mancini masih memiliki Dodo, Nagatomo, dan Santon yang baik dalam membantu serangan. Namun mereka lemah dalam bertahan, terutama Dodo yang memiliki naluri menyerang terlalu tinggi dan Nagatomo yang sering dibekap cedera. Ada baiknya Mancini mencoba keduanya bermain jauh di depan jika bermain dengan 3 penyerang, menjadikan Dodo atau Nagatomo penyerang sayap. Saat bersama Mazzarri pun Nagatomo walau sebagai wingback, namun pergerakan dan penetrasi di depan gawang sangat berbahaya.

Tapi apapun pola yang diterapkan Mancini, tetap saja lini tengah memegang peranan penting. Dengan adanya Felipe Melo, lini tengah akan lebih kuat dalam soal bertahan. Dia bisa diduetkan dengan Kondogbia, Medel, atau bahkan dengan Gnoukouri ketika Inter ingin menumpuk pemain bertipe menyerang. Menjadikan mereka penopang dalam hal perebutan bola dan menjaga keseimbangan antara lini belakang dan lini serang. Felipe Melo memang tak muda lagi, tenaga dan staminanya berbeda saat dia berada masa puncaknya dulu. Pengalaman dan kepemimpinannya di lini tengah akan sangat berguna.

Untuk lini pertahanan, Jeison Murillo dan Joao Miranda sepertinya akan membuat Handanovic bermain lebih tenang. Walau secara keseluruhan Ranocchia dan Vidic bermain baik musim lalu, yang mengkhawatirkan adalah keduanya masih sering melakukan kesalahan-kesalahan yang sering berakibat fatal. Rasanya lini belakang Inter berubah menjadi lebih kuat dibanding musim lalu.

Kesimpulan

Perekrutan Ivan Perisic, Felipe Melo, Adem Ljajic, dan Alex Telles bukanlah pembelian panik. Namun memang sesuai kebutuhan tim yang dirasa masih kurang oleh Mancini. Bersaing di papan atas Serie A bukan mustahil. Inter pun diuntungkan dengan absen dari perhelatan Eropa yang bisa tampil lebih bugar dibanding tim-tim papan atas lainnya.

Perombakan besar-besaran bukan berarti tanpa risiko. Faktor adaptasi pemain sering menjadi kendalanya. Untungnya Inter dengan cerdik memboyong beberapa pemain yang terbiasa dengan atmosfer Serie A. Hanya tinggal Mancini nya  saja, bagaimana dia bisa meramu taktik yang tepat dan mengeluarkan potensi terbaik pemainnya.

Friday, July 31, 2015

10 Pemain Termahal Inter Sepanjang Sejarah

Sumber Gambar: (calcioweb.eu)
Perekrutan Geoffrey Kondogbia dari Monaco adalah satu hal yang paling menarik di bursa transfer musim ini. Awalnya memang pemain asal Prancis ini kencang diisukan akan bergabung ke klub rival sekota, A.C. Milan. Namun Kondogbia berkata bahwa dirinya lebih memilih Inter sebagai awal petualangannya di Serie-A.

Selain itu dengan label harga yang tinggi sekitar 35 juta Euro, menempatkan dirinya sebagai gelandang bertahan termahal yang pernah dibuat oleh Inter sejauh ini. Memang bukan hal baru untuk Inter dalam hal menggelontorkan uang demi seorang pemain. Berikut adalah 10 pemain yang direkrut dengan harga paling tinggi oleh Inter.

10. Fabio Cannavaro (23 Juta Euro)

Sumber: (imortaisdefutebol.com)
Cannavaro dibeli oleh Inter dari Parma seharga 23 juta Euro di tahun 2002. Saat itu Inter ditangani oleh Hector Cuper yang di musim sebelumnya gagal meraih scudetto setelah kalah bersaing dengan Juventus. Fabio langsung menjadi pemain kunci dalam kegemilangan Inter melaju ke semifinal Liga Champions. Walau begitu satu-satunya pemain belakang yang pernah dianugerahi pemain terbaik dunia ini hanya menjalani dua musim di Inter dan secara mengejutkan dijual ke saingan terbesar mereka, Juventus dengan nilai sekitar 9 juta Euro.

9. Clarence Seedorf (24,3 Juta Euro)
Sumber: (whoateallthepies.tv)
Mengejutkan saat mengingat bagaimana Inter kerap kali gagal memanfaatkan pemain-pemain mahal yang pernah direkrut. Salah satunya adalah pemain yang menjadi legenda saat berkostum A.C. Milan ini. Seedorf direkrut dari Real Madrid setelah berkiprah kurang lebih empat tahun dan menyabet beberapa gelar termasuk Liga Champions 98.

Tahun 2000 dia pindah ke Inter, namun gagal mengulang sukses seperti bersama Madrid. Dua musim kemudian Seedorf memutuskan menyebrang ke Milan dan ditukar dengan pemain berbakat lainnya, Francesco Coco. Setelah itu yang terdengar adalah sejarah kesuksesan.

8. Ricardo Quaresma (24,6 Juta Euro)

Sumber: (zimbio.com)
Kedatangan Mourinho ke Giuseppe Meazza memang membawa isu kencang bahwa dirinya akan mengikutsertakan pemain Portugal ke Inter. Banyak yang berharap bahwa itu nama-nama seperti Ricardo Carvalho. Namun, yang terpilih adalah seorang pemain sayap potensial dari Porto, Quaresma. Banyak pihak yang berharap besar padanya, kecepatan dan kemampuan menggiring bolanya patut diperhitungkan. Sayang, dirinya gagal membuktikan kemampuannya dan dipinjamkan ke Chelsea.

Coba sesekali bertanya pada Interisti, pemain manakah yang pantas dilabeli sebagai transfer terburuk Inter. Cepat atau lambat dia/mereka akan menjawab Ricardo Quaresma. Tak percaya? Di akhir tulisan nanti anda akan menyadarinya.

7. Zlatan Ibrahimovic (24,8 Juta Euro)


Sumber: (zimbio.com)
Siapa yang tak kenal pria Swedia ini? Inter beruntung pernah mendapatkan jasa seorang Zlatan Ibrahimovic selama kurang lebih tiga tahun. Skandal Calciopoli berpengaruh besar pada kedatangan Ibra. Juventus yang dihukum turun ke Serie-B membuat para pemain bintangnya memutuskan untuk pergi karena enggan bermain di level bawah. Salah satunya Ibra yang setuju untuk menyebrang ke Inter beberapa hari setelah mantan pemain Juventus lainnya, Patrick Vieira juga melakukan hal yang sama.

Di Inter, Ibra kembali diberikan posisi striker utama. Sebelumnya di Juventus dia sempat digeser dari posisi penyerang untuk bermain lebih dalam atau melebar. Hasilnya sangat memuaskan, Il Nerazurri kembali memboyong scudetto tiga kali beruntun ditambah dengan dua piala Super Coppa. Ibra pun berhasil menjadi top skor di tahun 2009, dua kali menyabet gelar pemain asing terbaik, dan juga pemain terbaik Serie-A.

6. Diego Milito (25 Juta Euro)
 
Sumber: (zimbio.com)

Il Principe (Sang Pangeran), begitu dia mendapatkan julukan dari penggemar sepakbola. Sebenarnya panggilan ini berawal dari kemiripannya dengan seorang pemain asal Uruguay, Enzo Francescoli. Namun, lama kelamaan julukan ini ditujukan berkat kemampuannya mencetak gol yang sulit ditandingi.

Milito diboyong Inter dari Genoa setelah sebelumnya sempat bermain di La Liga Spanyol bersama Zaragoza. Diego diboyong Inter bersamaan dengan Thiago Motta. Membutuhkan total sekitar 38 juta Euro untuk menebus mereka, ditambah dengan pemberian kepemilikan Robert Acquafresca, Leonardo Bonucci, Riccardo Meggiorini, Francesco Bolzoni, dan Ivan Fatic.

Hasilnya pun sebanding dengan mahar yang tinggi. Milito menjadi mesin gol menggantikan Ibrahimovic untuk menggondol gelar treble pertama Inter dalam sejarah. Sayangnya, di musim-musim berikutnya dia banyak dilanda cedera sehingga sulit kembali ke performa terbaiknya. Kemampuannya mencetak gol adalah salah satu yang terbaik yang pernah ada. Dia adalah pemain yang efisien dalam hal membobol gawang lawan.

5. Francesco Toldo (26,5 Juta Euro)
 
Sumber: (goal.com)

Rekor penjaga gawang termahal yang pernah dibeli Inter adalah Francesco Toldo yang direkrut dari Fiorentina pada tahun 2001. Kebangkrutan Fiorentina memaksa klub menjual Toldo setelah delapan musim menjadi kiper utama. Hector Cuper -pelatih Inter saat itu- tak kesulitan untuk menjadikan Toldo sebagai penjaga gawang andalan dan bertahan selama bertahun-tahun. Ironisnya, kesuksesan Inter sendiri hadir ketika Toldo sudah tak lagi menjadi pilihan utama. Penyebabnya adalah kedatangan pria berbakat asal Brazil, Julio Cesar

Toldo adalah seorang kiper yang komplit. Memiliki postur besar, kemampuan membaca situasi, handling, serta punya kecepatan dan seorang pemain yang konsisten. Dia pun terkenal kuat dalam menahan tendangan penalti. Wajar saja jika Francesco dilabeli sebagai salah satu kiper terbaik pada generasinya.

4. Ronaldo de Lima (27 Juta Euro)

Sumber: (goal.com)
Bukan, dia bukanlah Ronaldo dengan nama Cristiano di depannya. Dia adalah pemain yang membawa negaranya, Brazil, merengkuh Piala Dunia 2002. Dengan biaya sekitar 27 juta Euro, saat itu dialah pemegang rekor transfer pemain sepakbola termahal sebelum dikalahkan oleh Denilson yang pindah ke Real Betis setahun berikutnya.

Enam tahun pengabdiannya di Giuseppe Meazza, Ronaldo berhasil menyabet beberapa gelar individu. Dari pemain terbaik Serie-A, top skorer,  hingga ke dua kali Balon D'Or. Tapi, prestasinya bersama Inter hanya saat mengantarkan Inter merengkuh juara UEFA Cup di tahun 1998. Padahal dia begitu sukses saat bermain bersama tim nasional Brazil.

Sebutan The Phenomenon bukan bualan belaka. Selain Ronaldo memiliki skill individu seperti lazimnya pemain asal Brazil, visi dan kemampuannya dalam menyerang tak ada yang meragukan, tak jarang dia memberi assist untuk rekan satu timnya. Maka dari itu, dia bisa ditempatkan di berbagai posisi dalam menyerang. Bayangkan seorang striker komplit yang memiliki kecepatan, skill, teknik individu, visi bermain, serta handal dalam mencetak gol. Mengerikan.

Ya, sebelum muncul striker-striker luar biasa seperti Raul Gonzalez, Michael Owen, Ruud van Nistelrooy, Thierry Henry, Ibrahimovic, atau Cristiano (Ronaldo) dan Messi, dunia sepakbola sudah pernah memiliki Ronaldo de Lima. Sang fenomenal.

3. Geoffrey Kondogbia (35 Juta Euro)

Sumber: (espnfc.com)
Wow, pemain yang baru saja bergabung dengan Inter sudah menempati peringkat tiga termahal dalam sejarah Inter. Ya memang sulit dibandingkan jumlah sebesar ini dengan masa dimana Ronaldo menjadi rekor dunia transfer sepakbola. Mungkin saja jika Ronaldo de Lima hidup di masa sekarang, harganya bisa dua kali lipat Gareth Bale. Siapa yang tahu.

Kondogbia dibeli dari Monaco setelah dirinya tampil solid di Ligue 1 musim lalu. Geoffrey menjadi pemain muda yang paling diincar oleh banyak klub raksasa Eropa semenjak dia berkostum Sevilla tiga tahun lalu. Di usianya yang masih sangat hijau, dia menjelma menjadi gelandang petarung yang solid di lini tengah. Dengan postur yang besar (188 cm), Kondogbia mampu memanfaatkan kemampuan fisik yang akan sangat berguna bagi Inter. Selain kuat dalam bertahan, dia juga acap kali turut andil dalam menyerang.

Di usianya yang masih 22 tahun, karir Kondogbia jelas masih sangat panjang. Bermain bersama Inter akan bagus untuk dirinya. Walau tak berlaga di Eropa musim depan, dia kemungkinan akan menjadi starter untuk Inter.

2. Hernan Crespo (36 Juta Euro)

Sumber: (dailymail.co.uk)
Tahun 2002, Inter kehilangan seorang andalan di lini depan setelah Ronaldo memutuskan pindah ke Real Madrid. Crespo, yang sebelumnya berada di Lazio dibeli dengan biaya total 36 juta Euro termasuk tambahan pemain Bernardo Corradi. Namun, itu hanya berjalan satu tahun karena permainannya dianggap mengecewakan dengan "hanya" mencetak total 16 gol, sembilan diantaranya dibuat di Liga Champion. Akhir musim dia dilepas ke Chelsea.

Karirnya di Inter tak berakhir di situ. Hernan Crespo kembali saat Inter ditangani oleh Mancini di tahun 2006. Di musim keduanya bersama Inter, dia menjadi andalan di lini depan bersama Ibrahimovic untuk menggondol scudetto ke Giuseppe Meazza. Tapi semenjak itu, karirnya terus menurun, walaupun masih menjadi bagian dari keberhasilan Inter mempertahankan scudetto tiga tahun berturut-turut dia bukanlah pilihan utama, hingga akhirnya tahun 2009 dilepas ke Genoa.

1. Christian Vieri (43 Juta Euro)

Sumber: (talksport.com)
Salah satu pembelian terbaik Inter sepanjang sejarah. Direkrut pada tahun 2000 membuat Inter memiliki sepasang striker mengerikan, Ronaldo dan Christian Vieri. Orang-orang sering membandingkannya dengan legenda Italia lainnya, Luigi Riva. Vieri punya keunikan tersendiri dalam bermain.

Walau dia tipe seorang striker target-man oportunis, dia menggabungkan kekuatan fisik dengan kecepatan dan teknik. Vieri sangat kuat dalam duel udara, dia adalah pencetak gol sundulan terbanyak sepanjang sejarah Serie-A Italia. Pemain yang disebut-sebut sebagai salah satu penyerang terbaik Italia ini juga memiliki kekuatan tendangan jarak jauh di kaki kirinya.

Vieri adalah pemain yang sering berganti klub. Sepanjang karirnya sudah 12 klub yang dibela. Inter adalah klub yang paling lama dihuninya. Tujuh tahun bersama Il Nerazurri, dia menuai kesuksesan dengan mencatat 103 gol dari 143 pertandingan. Sayangnya, dia sering dilanda cedera dan pada 2005 Inter memutus kontraknya.

Jika melihat kontribusinya, sungguh sulit melihat fakta bahwa Inter selalu gagal meraih gelar liga ataupun di kancah Eropa. Pencapaian terbaiknya adalah merebut Coppa Italia di tahun terakhirnya. Vieri dianugerahi pemain terbaik Serie-A 2002 dan tampil sebagai top skor liga musim 2002/2003. Dia pun masuk ke dalam daftar pemain terbaik dunia sepanjang sejarah versi Pele.

***

Ya, Inter sejak dulu memang bersahabat dengan transfer besar terutama sejak presiden Massimo Moratti berkuasa. Tapi apalah arti pemain bintang dengan harga selangit tanpa gelar juara. Semoga di masa mendatang tak ada lagi Quaresma-Quaresma baru.

Tuesday, June 9, 2015

Jeison Murillo, Amunisi Baru Lini Belakang Inter

Bursa transfer dalam sepakbola merupakan salah satu hal yang menarik dalam dunia sepakbola. Di masa jeda kompetisi inilah para media gencar membuat isu dan rumor terkait dengan masa depan seorang pemain atau pelatih. Dan kita, para fans seolah terbuai ketika mendengar bahwa seorang pemain top akan berlabuh di klub kesayangannya musim depan. Atau juga merasa waswas jikalau pemain andalannya akan pergi.

Inter sendiri sudah beberapa kali mendeklarasikan diri akan membeli beberapa pemain top. Ya, dari rumor yang tersebar memang tersemat nama-nama yang telah teruji seperti Yaya Toure dan Stevan Jovetic. Sebenarnya untuk musim depan sudah ada dua nama yang resmi bergabung, yaitu Xerdan Shaqiri dan Davide Santon yang lebih dulu bergabung sejak pertangahan musim lalu dengan status pinjaman. Inter lebih memilih untuk mengaktifkan opsi pembeliannya.

Selain kedua nama di atas, ada satu lagi yang telah resmi bergabung dengan Inter, Jeison Murillo. Dilihat dari namanya yang kurang tenar, wajar jika banyak yang meragukan kemampuannya. Pemain berusia 23 tahun ini ditrasnfer dari Granada pada Februari lalu, jadi baru bisa bergabung di bulan Juli. Posisinya sebagai bek tengah pun membuat anggapan bahwa dirinya hanya akan menjadi pelapis saja di musim depan.

Jeison Murillo berhadapan dengan Lionel Messi (Sumber: thenational.ae) 


Untuk musim depan, Inter akan memiliki stok pemain belakang yang cukup banyak dengan berbagungnya Murillo. Karena walau Campagnaro telah dilepas, masih ada Ranocchia, Vidic, Juan Jesus, dan Andreolli untuk posisi yang sama. Lalu, tepatkah jika Inter membeli seorang Jeison Murillo seharga 8 juta Euro?

Jika berbicara taktik, maka Mancini sudah pasti akan meneruskan pakem dengan empat pemain belakang. Masih ada kemungkinan untuk Juan Jesus kembali dipercaya mengawal sisi kiri pertahanan seperti di beberapa laga. Maka kesempatan Murillo untuk tampil akan lebih besar. Apalagi duet Ranocchia dan Vidic masih sering tampil tak konsisten dan banyak melakukan kesalahan-kesalahan yang berujung kebobolan. Ditambah lagi faktor ketidakpercayaan pelatih-pelatih Inter pada Andreolli.

Murillo memiliki kemampuan bertahan yang cukup baik sebenarnya jika dilihat dari statistiknya musim lalu. Dari 19 penampilan di La Liga, dia membuat rataan 1,9 tekel, 2,2 intersep, dan 5,4 clearance per laga. Yang paling menonjol adalah kemampuan duel udaranya yang mencapai rataan 3,3 per laga atau yang tertinggi diantara semua pemain Granada. Namun, jika membandingkannya dengan para pemain belakang Inter, pemain asal Kolombia ini masih jauh di bawah. Hanya Andreolli yang memiliki statistik yang tak jauh darinya. Namun, mengingat menit bermain yang jauh lebih sedikit dari Murillo maka Andreolli sulit untuk dibandingkan.

Usia 23 tahun masih tergolong muda untuk usia pemain belakang. Karena kematangan para bek akan mulai datang di sekitar 27 atau 28. Waktu bermain yang cukup tinggi di tim utama bersama Granada akan sangat membantu karirnya bersama Inter. Selain itu, Murillo tak seperti Ranocchia dan Vidic yang bertipe lambat.

Kesimpulan

Memboyong pemain muda merupakan sebuah keputusan tepat bagi Inter. Pemain seperti Vidic sepertinya tak akan bertahan lebih lama walau penampilannya masih terbilang baik untuk bermain di level Serie-A. Bukan tak mungkin dirinya akan menjadi poros pertahanan Inter bersama Juan Jesus di tahun-tahun mendatang.

Risiko akan selalu ada mengiringi setiap kontrak yang ditawarkan kepada pemain. Bisa saja sang pemain mengalami cedera parah hingga menghancurkan karirnya, seperti Francesco Coco dulu. Atau ada yang gagal memberikan penampilan terbaiknya dan akhirnya dijual kembali dengan harga yang jauh lebih murah. Dukungan dari pihak pelatih dan klub memang harus diberikan. Jangan sampai bakat Murillo menjadi sia-sia. Jika hanya menjadi penghangat bangku cadangan, mengapa tak mencoba Simone Pasa atau Jacopo Galimberti saja?

Good luck, Jeison.

Monday, June 8, 2015

Review Transfer Inter 2014/15

Kompetisi sepakbola di Eropa sudah berakhir dengan keluarnya Barcelona sebagai juara Liga Champions lalu. Para pemain pun mulai berlibur dan beberapa masih harus bertanding di pentas internasional bersama negaranya. Namun, bukan berarti para klub berhenti bekerja dalam membangun serta memperbaiki tim. Ya, inilah saat yang begitu menarik perhatian, bursa transfer.

Jendela transfer musim panas memang dijadikan waktu yang tepat untuk berbenah skuad. Tak hanya sekedar menambah kedalaman skuad, namun seringkali keputusan klub untuk membeli atau menjual pemain akan berpengaruh terhadap performa sepanjang musim. Ada pemain yang menjadi pilar penting ada juga yang hanya menjadi penghangat bangku cadangan.

Sebagai contoh di musim yang baru berakhir lalu, bagaimana Diego Costa dan Luis Suarez yang menjadi pilar penting dalam merengkuh gelar juara. Atau juga transfer yang bisa dibilang gagal karena ekspektasi yang tinggi tak mampu diiringi dengan penampilan yang konsisten semacam Angel Di Maria dan Falcao di Manchester United. Tak hanya pemain yang datang, kadang kepergian seorang pemain juga bisa berpengaruh besar seperti Real Madrid yang kehilangan Xabi Alonso.

Bagaimana dengan Inter? Ya, bisa dibilang Inter cukup aktif dalam bursa transfer sepanjang musim lalu. Bahkan hingga pergantian pelatih pun terlihat berpengaruh terhadap pemilihan pemain yang didatangkan. Mari kita bahas transfer Inter di musim lalu.

Transfer Musim Panas

Di awal musim, Inter terlihat percaya diri dengan memberi Mazzarri kontrak hingga 2016. Dengan pensiunnya Javier Zanetti dan dilepasnya beberapa pemain senior seperti Diego Milito, Walter Samuel, dan Esteban Cambiasso, meninggalkan lubang besar dalam skuad. Selain kepemimpinan mereka masih dibutuhkan terutama Cambiasso yang menjadi kunci utama dalam bertahan dan menyerang. Mengejutkan karena dirinya juga bertindak sebagai wakil kapten selama beberapa musim.

Dengan formasi andalan 3-5-2 Mazzarri, Inter memang berencana menambah kedalaman skuad. Pemain-pemain yang didatangkan untuk tim utama terlihat menjanjikan. Inter berhasil menggaet Nemanja Vidic, Gary Medel, Pablo Osvaldo, Dodo, Yann M'Vila, dan Rene Krhin. Lubang yang ditinggalkan para veteran pun sudah terpenuhi.

Selain mendatangkan pemain, Inter juga melepas beberapa pemainnya. Kebanyakan adalah pemain-pemain muda yang dianggap belum bisa bersaing dengan tim utama, mereka harus rela dipinjamkan. Nama-nama seperti Ishak Belfodil, Schelotto, Saphir Taider, serta Matias Silvestre pun turut disingkirkan dari Giuseppe Meazza. Yang paling mengejutkan adalah dilepasnya Ricardo Alvarez ke Sunderland. Padahal dirinya mendapat tempat reguler pada musim sebelumnya. Penampilannya pun berujung pada pemanggilan ke skuad Argentina di Piala Dunia lalu.

Transfer Musim Dingin

Buruknya performa Inter berujung kepada pemecatan Mazzarri dan diganti oleh Roberto Mancini. Perubahan besar pada taktik dasar dari penggunaan tiga pemain belakang menjadi empat bek cukup berpengaruh pada pemain yang didatangkan di bursa transfer kali ini. Inter mendatangkan Lukas Podolski, Xerdan Shaqiri, Marcelo Brozovic, Felipe, dan Davide Santon.

Masuknya Podolski, Shaqiri, dan Santon memang direncanakan untuk menambah daya serang Inter, terutama jika Mancini butuh opsi tambahan dalam menyerang dari sisi lapangan. Selain itu, dilepasnya Pablo Osvaldo pun mengurangi stok pemain di lini depan.

Sumber: www.zimbio.com


Perekrutan Terbaik

Perekrutan terbaik Inter jika melihat dari performa sepanjang musim adalah Gary Medel. Dari seluruh pemain yang didatangkan, hanya pria berdarah Chile ini yang benar-benar memberi perubahan besar. Dia adalah pemain dengan penampilan terbanyak di bawah Handanovic dan top skor Inter, Mauro Icardi dengan total 44 pertandingan di seluruh kompetisi.

Kemampuannya dalam membaca permainan begitu baik. Menurut whoscored.com, Medel adalah pemain yang paling banyak melakukan intersep dengan 2,9 kali per laga. Selain itu, dia juga pandai dalam menjaga kestabilan tim saat menyerang dengan jumlah operan 77,1 per laga dengan akurasi hingga 91,8%. Uang 8 juta Euro saat memboyong pemain gempal ke Giuseppe Meazza pun tak terasa sia-sia. Bisa dibilang, Gary Medel adalah perekrutan terbaik Inter di musim lalu.

Perekrutan Terburuk

Dari sekian banyak pemain yang datang ke Inter, sedikit sekali yang menampilkan performa apik. Cukup sulit untuk menentukan siapa yang pantas mendapat predikat ini. Sebenarnya ada dua nama, Yann M'vila dan Lukas Podolski.

Keduanya sama-sama gagal menampilkan yang terbaik untuk Inter. Podolski yang dipinjam di bulan Januari lalu sempat disorot oleh dunia sepakbola karena dianggap mengambil keputusan yang tepat. Minimnya waktu bermain di Arsenal menjadi alasan utamanya menerima tawaran Inter. Kemampuannya pun dianggap mampu mendongkrak Inter bersama pelatih baru Roberto Mancini. Namun sayang, dirinya malah (kembali) gagal bersaing dengan kembalinya Palacio dari cedera dan semakin tajamnya Mauro Icardi. Inter pun semakin mantap dengan formasi 4-3-1-2 yang artinya kesempatan bermain dirinya sebagai pemain sayap pun berkurang.

Yann M'Vila adalah pemain berusia 24 tahun yang dipinjam dari Rubin Kazan. Sebenarnya dirinya tak buruk-buruk amat. Dirinya memang diplot sebagai pelapis Gary Medel sebagai gelandang bertahan. Apalagi dia memiliki kemampuan duel udara sebagai kelebihan yang tak dimiliki Medel. Yang mengecewakan adalah fakta bahwa pemuda asal Prancis ini bahkan gagal menempati tim utama ketika Medel absen. Sejak era Mazzarri hingga Mancini, waktu bermain yang diberikan sangat minim. Kebanyakan sebagai pemain pengganti di akhir-akhir laga. Bahkan dirinya kalah bersaing dengan Kuzmanovic yang notabene bukan sorang gelandang bertahan murni.

Jika melihat secara keseluruhan, strategi transfer Inter musim ini lebih kepada menambah kedalaman skuad. Hanya Gary Medel dan Vidic yang benar-benar menjadi bagian penting di Inter. Memang Inter terkenal kurang cermat dalam memilih pemain. Untungnya, sebagian besar hanya bergabung sebagai pemain pinjaman saja. Beruntung.

Thursday, March 27, 2014

Rumor Nama Besar

Sejak beberapa waktu yang lalu sempat terdengar rumor menarik di kubu Inter. Salah satunya adalah tentang transfer pemain. Media-media di luar sana menyebutkan nama-nama besar seperti Patrice Evra, Bacary Sagna, Edin Dzeko, hingga Fernando Torres dan Alvaro Morata. Dari kelima nama tersebut memiliki posisi bermain yang sama. Seorang fullback dan striker. Erick Thohir pun telah mengakui tentang rumor tersebut.

Jika melihat dari sisi materi pemain sepertinya kehadiran mereka bisa membuat lebih baik. Dimana Inter masih kekurangan pelapis sepadan untuk duo wingback Jonathan dan Nagatomo. Sektor pemain depan pun masih sangat minim karena Diego Milito semakin uzur dan tempatnya mulai tergeser dengan Mauro Icardi. Lalu apa memang Thohir hanya semata-mata ingin memperdalam skuad? Saya rasa ada beberapa faktor lain mengapa muncul nama-nama besar itu. Berikut adalah faktor-faktornya.

Pengalaman

Evra, Sagna, Dzeko, dan Torres adalah pemain yang cukup disebut berpengalaman. Karena mereka bermain reguler di kompetisi tertinggi. Dan juga lebih ketat dibanding Italia karena di Inggris ada tiga kompetisi. Pengalaman bermain di kancah Eropa pun harus masuk pertimbangan. Hanya Dzeko yang terhitung minim karena Manchester City jarang melaju jauh. Evra dan Torres adalah bagian dari skuad yang memenangkan Liga Champions di klubnya masing-masing. Jika dibandingkan dengan pemain yang ada memang timpang. Jonathan, Nagatomo, Palacio, dan Icardi sebelum di Inter bahkan belum pernah menyicipi pentas Liga Champions. Ini salah satu yang pantas dipertimbangkan.

Nama Besar dan Menjual

Pemain-pemain dengan nama besar memang bisa membantu ekonomi klub. Walaupun memang tidak terlalu signifikan tetapi tetap ada keuntungan tersendiri. Nama-nama besar dari Premier League pasti akan mendapat sorotan lebih. Terutama di Asia yang memang lebih populer. Sebelumnya bahkan sudah ada rekrutan baru Nemanja Vidic. Bisa saja keuntungan ini dari hal-hal kecil seperti menambahnya jumlah penonton di stadion. Di mana orang akan berdatangan karena penasaran dengan aksi-aksi nama besar ini di lapangan bersama Inter. Pemasukan dari tiket stadion akan bertambah. Mungkin juga untuk melakukan kerja sama dengan pihak-pihak di Asia karena Serie-A akan lebih menarik. Bisa saja. Selain itu kualitas dalam nama besar akan menambah gairah semangat tim. Seperti yang telah dicontohkan oleh Hernanes.

Kedalaman Skuad

Skuad Inter memang baik-baik saja. Namun saya rasa kualitas tim utama dengan cadangan belum terlalu sepadan. Sektor penyerang adalah yang harus diperbaiki. Terlalu bergantung kepada Rodrigo Palacio sepanjang musim bisa menjadi seperti pedang bermata dua. Inter akan sulit mencetak gol jika dia tampil kurang fit atau menurunnya performa. Kehadiran striker pengalaman dengan nama besar seperti Dzeko atau Torres harusnya bisa menjadi tambahan kekuatan yang besar.

Menarik ya jika membicarakan transfer pemain. Nama besar dengan pengalaman memang yang dibutuhkan oleh Inter.  Tak masalah jika beberapa di antaranya sudah memasuki usia senja. Karena Inter memang bersahabat baik dengan pemain-pemain seperti ini. Lagipula mulai habisnya pemain-pemain rezim kejayaan dulu ditambah dengan revolusi besar dari mulai presiden hingga pelatih yang punya filosofi berbeda memang harus ada perubahan berarti. Inter tak bisa terus menerus membeli pemain medioker dengan harapan bisa kompetitif di liga dan Eropa sekaligus. Ya memang saat ini nama-nama itu tak superior seperti dulu. Setidaknya mereka berpengalaman lebih. Hal yang sudah lama tak dilihat Interisti.

Postingan Populer