Tuesday, August 11, 2015

Menanti Aksi Gregoire Defrel Bersama Sassuolo

Sumber Foto: eurosport.com
Bagi tim papan tengah seperti Sassuolo, kehilangan seorang penyerang haus gol sekelas Simone Zaza adalah sebuah hal jelas merugikan. Sumbangan 11 golnya di musim lalu begitu membantu tim berkostum hijau-hitam ini merangkak menjauhi zona degradasi dan menempati posisi 12 di akhir musim. Bersama Domenico Berardi serta Nicola Sansone, Il Neroverdi memiliki lini depan yang berbahaya.

Namun pendukung Sassuolo pantas berlega hati karena pada 5 Agustus lalu, pihak klub resmi mendatangkan Gregoire Defrel. Dengan transfer sebesar 6,9 juta Euro, pemain berusia 24 tahun ini dikontrak untuk 5 tahun ke depan. Bersama Cesena di musim lalu, dirinya mencetak sembilan 9 dan 5 assist. Cukup mengejutkan karena pemain berkepala plontos ini juga diincar oleh banyak klub termasuk Palermo, Sampdoria, dan Norwich sebelum akhirnya merapat ke Sassuolo.

Sebenarnya Defrel bukanlah penyerang murni, tapi lebih ke tipe second striker yang memiliki kecepatan dan dribel yang baik. Bahkan dalam beberapa kesempatan, dia dibanding-bandingkan dengan kompatriot senegaranya, Jeremy Menez. Yang kebetulan juga sering dimainkan sebagai penyerang utama di Milan.

Defrel bisa jadi dipasang sebagai penyerang tengah oleh Eusebio Di Francesco nanti. Dengan teknik serta kecepatan yang dimilikinya akan membuat Sassuolo semakin berbahaya, terutama dalam melancarkan serangan balik. Kegemaran Di Francesco memainkan tiga pemain depan akan menawarkan sesuatu yang berbeda nantinya dengan kehadiran Defrel di depan.
 
Selain kemampuan mencetak gol, visi bermainnya juga cukup baik mengingat dia juga bertindak sebagai pemberi assist terbanyak untuk Cesena di musim lalu. Defrel juga pemain yang cukup serba guna. Selain sebagai penyerang dan, berbagai posisi juga pernah dilakoninya. Bahkan dia sempat diturunkan sebagai wingback kanan. Tapi dia paling efektif bermain sebagai penyerang, penyerang sayap, atau bermain di belakang dua striker. Sebagai seorang striker, jumlah tekel yang dilakukannya cukup tinggi. Artinya, dia juga sering berkontribusi dalam bertahan.
 
Karena itu, akan banyak nilai positif yang diberikan oleh Defrel. Eusebio Di Francesco yang menanamkan pakem 4-3-3 akan lebih leluasa menempatkan dirinya di sisi kanan atau tengah secara bergantian dengan Domenico Berardi. Atau pada 3-4-3 yang beberapa kali dimainkan di musim lalu, Defrel bisa digeser sebagai gelandang kanan atau wingback kanan dan memasang striker gaek Floro Flores maupun Sergio Floccari sebagai penyerang tengah.

Defrel sudah pasti akan menambah daya gedor Sassuolo di musim yang akan mendatang. Kehilangan bomber sekelas Simone Zaza akan segera terobati. Asal pemain berdarah Prancis ini bisa menampilkan permainan yang konsisten. Jika tidak, Di Francesco sudah pasti akan menempatkannya di bangku cadangan. Jangan lupa, pelatih yang membawa I Neroverdi ke kasta tertinggi Italia ini gemar merotasi pemain-pemainnya.

Friday, July 31, 2015

10 Pemain Termahal Inter Sepanjang Sejarah

Sumber Gambar: (calcioweb.eu)
Perekrutan Geoffrey Kondogbia dari Monaco adalah satu hal yang paling menarik di bursa transfer musim ini. Awalnya memang pemain asal Prancis ini kencang diisukan akan bergabung ke klub rival sekota, A.C. Milan. Namun Kondogbia berkata bahwa dirinya lebih memilih Inter sebagai awal petualangannya di Serie-A.

Selain itu dengan label harga yang tinggi sekitar 35 juta Euro, menempatkan dirinya sebagai gelandang bertahan termahal yang pernah dibuat oleh Inter sejauh ini. Memang bukan hal baru untuk Inter dalam hal menggelontorkan uang demi seorang pemain. Berikut adalah 10 pemain yang direkrut dengan harga paling tinggi oleh Inter.

10. Fabio Cannavaro (23 Juta Euro)

Sumber: (imortaisdefutebol.com)
Cannavaro dibeli oleh Inter dari Parma seharga 23 juta Euro di tahun 2002. Saat itu Inter ditangani oleh Hector Cuper yang di musim sebelumnya gagal meraih scudetto setelah kalah bersaing dengan Juventus. Fabio langsung menjadi pemain kunci dalam kegemilangan Inter melaju ke semifinal Liga Champions. Walau begitu satu-satunya pemain belakang yang pernah dianugerahi pemain terbaik dunia ini hanya menjalani dua musim di Inter dan secara mengejutkan dijual ke saingan terbesar mereka, Juventus dengan nilai sekitar 9 juta Euro.

9. Clarence Seedorf (24,3 Juta Euro)
Sumber: (whoateallthepies.tv)
Mengejutkan saat mengingat bagaimana Inter kerap kali gagal memanfaatkan pemain-pemain mahal yang pernah direkrut. Salah satunya adalah pemain yang menjadi legenda saat berkostum A.C. Milan ini. Seedorf direkrut dari Real Madrid setelah berkiprah kurang lebih empat tahun dan menyabet beberapa gelar termasuk Liga Champions 98.

Tahun 2000 dia pindah ke Inter, namun gagal mengulang sukses seperti bersama Madrid. Dua musim kemudian Seedorf memutuskan menyebrang ke Milan dan ditukar dengan pemain berbakat lainnya, Francesco Coco. Setelah itu yang terdengar adalah sejarah kesuksesan.

8. Ricardo Quaresma (24,6 Juta Euro)

Sumber: (zimbio.com)
Kedatangan Mourinho ke Giuseppe Meazza memang membawa isu kencang bahwa dirinya akan mengikutsertakan pemain Portugal ke Inter. Banyak yang berharap bahwa itu nama-nama seperti Ricardo Carvalho. Namun, yang terpilih adalah seorang pemain sayap potensial dari Porto, Quaresma. Banyak pihak yang berharap besar padanya, kecepatan dan kemampuan menggiring bolanya patut diperhitungkan. Sayang, dirinya gagal membuktikan kemampuannya dan dipinjamkan ke Chelsea.

Coba sesekali bertanya pada Interisti, pemain manakah yang pantas dilabeli sebagai transfer terburuk Inter. Cepat atau lambat dia/mereka akan menjawab Ricardo Quaresma. Tak percaya? Di akhir tulisan nanti anda akan menyadarinya.

7. Zlatan Ibrahimovic (24,8 Juta Euro)


Sumber: (zimbio.com)
Siapa yang tak kenal pria Swedia ini? Inter beruntung pernah mendapatkan jasa seorang Zlatan Ibrahimovic selama kurang lebih tiga tahun. Skandal Calciopoli berpengaruh besar pada kedatangan Ibra. Juventus yang dihukum turun ke Serie-B membuat para pemain bintangnya memutuskan untuk pergi karena enggan bermain di level bawah. Salah satunya Ibra yang setuju untuk menyebrang ke Inter beberapa hari setelah mantan pemain Juventus lainnya, Patrick Vieira juga melakukan hal yang sama.

Di Inter, Ibra kembali diberikan posisi striker utama. Sebelumnya di Juventus dia sempat digeser dari posisi penyerang untuk bermain lebih dalam atau melebar. Hasilnya sangat memuaskan, Il Nerazurri kembali memboyong scudetto tiga kali beruntun ditambah dengan dua piala Super Coppa. Ibra pun berhasil menjadi top skor di tahun 2009, dua kali menyabet gelar pemain asing terbaik, dan juga pemain terbaik Serie-A.

6. Diego Milito (25 Juta Euro)
 
Sumber: (zimbio.com)

Il Principe (Sang Pangeran), begitu dia mendapatkan julukan dari penggemar sepakbola. Sebenarnya panggilan ini berawal dari kemiripannya dengan seorang pemain asal Uruguay, Enzo Francescoli. Namun, lama kelamaan julukan ini ditujukan berkat kemampuannya mencetak gol yang sulit ditandingi.

Milito diboyong Inter dari Genoa setelah sebelumnya sempat bermain di La Liga Spanyol bersama Zaragoza. Diego diboyong Inter bersamaan dengan Thiago Motta. Membutuhkan total sekitar 38 juta Euro untuk menebus mereka, ditambah dengan pemberian kepemilikan Robert Acquafresca, Leonardo Bonucci, Riccardo Meggiorini, Francesco Bolzoni, dan Ivan Fatic.

Hasilnya pun sebanding dengan mahar yang tinggi. Milito menjadi mesin gol menggantikan Ibrahimovic untuk menggondol gelar treble pertama Inter dalam sejarah. Sayangnya, di musim-musim berikutnya dia banyak dilanda cedera sehingga sulit kembali ke performa terbaiknya. Kemampuannya mencetak gol adalah salah satu yang terbaik yang pernah ada. Dia adalah pemain yang efisien dalam hal membobol gawang lawan.

5. Francesco Toldo (26,5 Juta Euro)
 
Sumber: (goal.com)

Rekor penjaga gawang termahal yang pernah dibeli Inter adalah Francesco Toldo yang direkrut dari Fiorentina pada tahun 2001. Kebangkrutan Fiorentina memaksa klub menjual Toldo setelah delapan musim menjadi kiper utama. Hector Cuper -pelatih Inter saat itu- tak kesulitan untuk menjadikan Toldo sebagai penjaga gawang andalan dan bertahan selama bertahun-tahun. Ironisnya, kesuksesan Inter sendiri hadir ketika Toldo sudah tak lagi menjadi pilihan utama. Penyebabnya adalah kedatangan pria berbakat asal Brazil, Julio Cesar

Toldo adalah seorang kiper yang komplit. Memiliki postur besar, kemampuan membaca situasi, handling, serta punya kecepatan dan seorang pemain yang konsisten. Dia pun terkenal kuat dalam menahan tendangan penalti. Wajar saja jika Francesco dilabeli sebagai salah satu kiper terbaik pada generasinya.

4. Ronaldo de Lima (27 Juta Euro)

Sumber: (goal.com)
Bukan, dia bukanlah Ronaldo dengan nama Cristiano di depannya. Dia adalah pemain yang membawa negaranya, Brazil, merengkuh Piala Dunia 2002. Dengan biaya sekitar 27 juta Euro, saat itu dialah pemegang rekor transfer pemain sepakbola termahal sebelum dikalahkan oleh Denilson yang pindah ke Real Betis setahun berikutnya.

Enam tahun pengabdiannya di Giuseppe Meazza, Ronaldo berhasil menyabet beberapa gelar individu. Dari pemain terbaik Serie-A, top skorer,  hingga ke dua kali Balon D'Or. Tapi, prestasinya bersama Inter hanya saat mengantarkan Inter merengkuh juara UEFA Cup di tahun 1998. Padahal dia begitu sukses saat bermain bersama tim nasional Brazil.

Sebutan The Phenomenon bukan bualan belaka. Selain Ronaldo memiliki skill individu seperti lazimnya pemain asal Brazil, visi dan kemampuannya dalam menyerang tak ada yang meragukan, tak jarang dia memberi assist untuk rekan satu timnya. Maka dari itu, dia bisa ditempatkan di berbagai posisi dalam menyerang. Bayangkan seorang striker komplit yang memiliki kecepatan, skill, teknik individu, visi bermain, serta handal dalam mencetak gol. Mengerikan.

Ya, sebelum muncul striker-striker luar biasa seperti Raul Gonzalez, Michael Owen, Ruud van Nistelrooy, Thierry Henry, Ibrahimovic, atau Cristiano (Ronaldo) dan Messi, dunia sepakbola sudah pernah memiliki Ronaldo de Lima. Sang fenomenal.

3. Geoffrey Kondogbia (35 Juta Euro)

Sumber: (espnfc.com)
Wow, pemain yang baru saja bergabung dengan Inter sudah menempati peringkat tiga termahal dalam sejarah Inter. Ya memang sulit dibandingkan jumlah sebesar ini dengan masa dimana Ronaldo menjadi rekor dunia transfer sepakbola. Mungkin saja jika Ronaldo de Lima hidup di masa sekarang, harganya bisa dua kali lipat Gareth Bale. Siapa yang tahu.

Kondogbia dibeli dari Monaco setelah dirinya tampil solid di Ligue 1 musim lalu. Geoffrey menjadi pemain muda yang paling diincar oleh banyak klub raksasa Eropa semenjak dia berkostum Sevilla tiga tahun lalu. Di usianya yang masih sangat hijau, dia menjelma menjadi gelandang petarung yang solid di lini tengah. Dengan postur yang besar (188 cm), Kondogbia mampu memanfaatkan kemampuan fisik yang akan sangat berguna bagi Inter. Selain kuat dalam bertahan, dia juga acap kali turut andil dalam menyerang.

Di usianya yang masih 22 tahun, karir Kondogbia jelas masih sangat panjang. Bermain bersama Inter akan bagus untuk dirinya. Walau tak berlaga di Eropa musim depan, dia kemungkinan akan menjadi starter untuk Inter.

2. Hernan Crespo (36 Juta Euro)

Sumber: (dailymail.co.uk)
Tahun 2002, Inter kehilangan seorang andalan di lini depan setelah Ronaldo memutuskan pindah ke Real Madrid. Crespo, yang sebelumnya berada di Lazio dibeli dengan biaya total 36 juta Euro termasuk tambahan pemain Bernardo Corradi. Namun, itu hanya berjalan satu tahun karena permainannya dianggap mengecewakan dengan "hanya" mencetak total 16 gol, sembilan diantaranya dibuat di Liga Champion. Akhir musim dia dilepas ke Chelsea.

Karirnya di Inter tak berakhir di situ. Hernan Crespo kembali saat Inter ditangani oleh Mancini di tahun 2006. Di musim keduanya bersama Inter, dia menjadi andalan di lini depan bersama Ibrahimovic untuk menggondol scudetto ke Giuseppe Meazza. Tapi semenjak itu, karirnya terus menurun, walaupun masih menjadi bagian dari keberhasilan Inter mempertahankan scudetto tiga tahun berturut-turut dia bukanlah pilihan utama, hingga akhirnya tahun 2009 dilepas ke Genoa.

1. Christian Vieri (43 Juta Euro)

Sumber: (talksport.com)
Salah satu pembelian terbaik Inter sepanjang sejarah. Direkrut pada tahun 2000 membuat Inter memiliki sepasang striker mengerikan, Ronaldo dan Christian Vieri. Orang-orang sering membandingkannya dengan legenda Italia lainnya, Luigi Riva. Vieri punya keunikan tersendiri dalam bermain.

Walau dia tipe seorang striker target-man oportunis, dia menggabungkan kekuatan fisik dengan kecepatan dan teknik. Vieri sangat kuat dalam duel udara, dia adalah pencetak gol sundulan terbanyak sepanjang sejarah Serie-A Italia. Pemain yang disebut-sebut sebagai salah satu penyerang terbaik Italia ini juga memiliki kekuatan tendangan jarak jauh di kaki kirinya.

Vieri adalah pemain yang sering berganti klub. Sepanjang karirnya sudah 12 klub yang dibela. Inter adalah klub yang paling lama dihuninya. Tujuh tahun bersama Il Nerazurri, dia menuai kesuksesan dengan mencatat 103 gol dari 143 pertandingan. Sayangnya, dia sering dilanda cedera dan pada 2005 Inter memutus kontraknya.

Jika melihat kontribusinya, sungguh sulit melihat fakta bahwa Inter selalu gagal meraih gelar liga ataupun di kancah Eropa. Pencapaian terbaiknya adalah merebut Coppa Italia di tahun terakhirnya. Vieri dianugerahi pemain terbaik Serie-A 2002 dan tampil sebagai top skor liga musim 2002/2003. Dia pun masuk ke dalam daftar pemain terbaik dunia sepanjang sejarah versi Pele.

***

Ya, Inter sejak dulu memang bersahabat dengan transfer besar terutama sejak presiden Massimo Moratti berkuasa. Tapi apalah arti pemain bintang dengan harga selangit tanpa gelar juara. Semoga di masa mendatang tak ada lagi Quaresma-Quaresma baru.

Tuesday, July 28, 2015

Menerka Inter di Musim Mendatang

Sumber: goal.com
Sudah sebulan lebih bursa transfer  berlangsung, Inter sepertinya belum puas dalam membangun skuad untuk musim depan. Hingga kini, sudah ada lima pemain baru yang telah dipastikan akan berkostum biru hitam. Jeison Murillo, Joao Miranda, Geoffrey Kondogbia, Martin Montoya, dan Jonathan Biabiany. Ini belum ditambah dengan kabar bahwa Stevan Jovetic telah menuju Inter.

Misi Roberto Mancini untuk perjalanan setahun ke depan sudah begitu jelas, membawa Inter kembali bersaing scudetto. Ya atau setidaknya kembali ke ranah Liga Champions. Bukan hal yang mudah, tapi juga tak mustahil.

Jika melihat performa mereka di pertandingan pra musim, Inter masih jauh dari kata memuaskan. Wajar saja, meski sudah kedatangan tiga orang nama baru untuk lini belakang tapi sejak melawan Stuttgart Kickers hingga Real Madrid, Inter selalu kebobolan. Artinya, permasalahan utama di musim lalu belum sepenuhnya terselesaikan. Memang semua itu hanyalah uji coba atau pertandingan "latihan". Namun dari sini, kita bisa sedikit terbayang seperti apa Inter pada musim yang akan mendatang.

Sejak Mancini memutuskan untuk kembali ke Giuseppe Meazza, Inter kembali kepada pakem penggunaan empat pemain belakang. Mantan pelatih Galatasaray ini juga sepertinya akan meneruskan pola 4-3-1-2 seperti musim lalu dan bermain dengan penguasaan bola yang tinggi. Ini sudah terlihat dimainkan di beberapa kesempatan. Namun perubahan kemungkinan akan terjadi dengan datangnya pemain-pemain baru.

Di Mana Jovetic dan Biabiany akan Bermain?

Inter baru saja mendapatkan Stevan Jovetic dengan status pinjam dan opsi pembelian di akhir musim. Pemain yang sukses mengangkat namanya bersama Fiorentina ini kesulitan mendapat tempat utama di Manchester City. Sebagai penyerang, dia kalah bersaing dengan Kun Aguero dan Edin Dzeko, belum lagi Januari lalu City kedatangan seorang Wilfried Bony.
Jovetic memang bisa ditempatkan di berbagai posisi. Permainannya ketika dipasang sebagai gelandang serang pun lebih baik dengan mencetak gol lebih banyak. Dia pun bisa bermain di sisi kiri jika diperlukan.

Kepulangan Jonathan Biabiany serta kedatangan Stevan Jovetic bisa memberi Mancini kombinasi serangan yang lebih variatif. Biabiany adalah pemain sayap yang memiliki kecepatan dan kemampuan dribel yang baik. Inter pun bisa memainkan permainan cepat dengan mengandalkan kedua sisi lapangan dengan lebih baik. 

Inter akan lebih leluasa memainkan tiga orang penyerang atau dengan 4-2-3-1. Dengan memasang Nagatomo maupun Dodo di sisi kiri yang begitu agresif saat menyerang. Atau juga bisa memaksimalkan peran Jovetic atau Palacio yang bisa bermain lebih melebar, merubah pola menjadi 4-3-3.

Selain kemungkinan akan ditempatkan di sayap, Jovetic lebih berpeluang dipasang sebagai trequartista. Pemain kelahiran Montenegro ini memiliki skill di atas rata-rata yang sangat berbahaya dalam membangun serangan. Walaupun di posisi ini bisa saja diberi kepada salah satu dari Hernanes, Kovacic, atau Brozovic.

Jovetic pun bisa ditandemkan dengan Mauro Icardi atau Rodrigo Palacio di lini depan. Dia pun fasih bermain sebagai striker tunggal. Walau di City dia lebih tajam ketika ditempatkan di belakang striker.

Lini Tengah Semakin Solid (?)

Di bursa transfer kali ini Inter melepas Ricardo Alvarez, Joel Obi, Zdarvko Kuzmanovic, Rene Krhin, Alfred Duncan, dan Ruben Botta. Masing-masing pindah ke Sunderland, Torino, Basel, Granada, Sampdoria, dan Pachuca. Kehilangan beberapa pemain di posisi gelandang ini rasanya memang tak terlalu berpengaruh, mengingat mereka hanya menjadi pelapis di musim lalu, sisanya dipinjamkan ke klub lain. Penampilan mereka pun tak ada yang istimewa. Bahkan Rene Krhin tak pernah membuat satu pun penampilan sebagai starter dan sempat dipinjamkan ke Cordoba.

Untuk musim mendatang, telah datang pemuda seharga 35 juta Euro bernama Geoffrey Kondogbia. Dengan mahar sebesar itu, Erick Thohir seperti mengisyaratkan bahwa dirinya serius dalam mengincar tempat untuk berlaga di Liga Champions. Selain itu, dengan perekrutan ini setidaknya memberi kesan bahwa Thohir tak pelit dalam urusan beli pemain.

Geoffrey adalah seorang gelandang tipe petarung. Dia bagus dalam bertahan dan punya daya jelajah yang tinggi. Dengan angka 3,1 tekel dan 2,5 intersep per pertandingan membuktikan dia bisa menambah kekuatan Inter dalam bertahan. Setidaknya Mancini tak lagi kelimpungan jika harus kehilangan Gary Medel, bahkan dia berpeluang besar menggeser pemain asal Chile tersebut dari tempat utama.

Pemain tengah lainnya tersisa Hernanes, Mateo Kovacic, Marcelo Brozovic, Fredy Guarin, dan pemain muda yang namanya mencuat di musim lalu Assane Gnoukouri. Sebenarnya ada satu nama lagi, Saphir Taider yang musim lalu dipinjamkan ke Sassuolo. Namun, pemain internasional Algeria ini kencang diisukan akan pindah dari Giuseppe Meazza.

Jika Taider akan hengkang, maka stok pemain tengah Inter terlalu riskan. Karena peluang seorang pemain mendapatkan cedera selalu ada. Lagipula dengan hanya ketambahan Kondogbia, lini tengah Inter tak banyak berubah seperti musim lalu. Apalagi permainan Kovacic dan Guarin masih terbilang inkonsisten.

Ada kemungkinan besar Mancini akan mengorbitkan salah satu pemain muda lagi seperti Gnoukouri. Setelah di pertandingan pra musim dia banyak memberi kesempatan bermain kepada pemain-pemain dari tim primavera. Juga tak menutup kemungkinan Inter akan mendatangkan lagi satu gelandang untuk memperkuat lini tengah.

Kebanjiran Pemain Belakang

Di akhir musim lalu, Inter cukup banyak melepas pemain dari posisi bek. Jonathan, Hugo Campagnaro, Felipe, dan Matias Silvestre yang dipinjamkan ke Sampdoria dilepas dengan status bebas transfer. Serta melepas Ibrahima Mbaye dan Lukas Spendlhofer, pemain-pemain muda yang kesulitan menembus tim utama.

Sebagai gantinya pihak Inter memboyong tiga pemain yang bermain di La Liga Spanyol musim lalu, Jeison Murillo, Joao Miranda, dan Martin Montoya. Mendatangkan ketiga pemain ini adalah sebuah bentuk keseriusan Mancini dalam memperkuat barisan pertahanan yang menjadi titik lemah Inter di musim lalu.

Kelemahan barisan pertahanan Inter yang begitu disorot adalah banyaknya kesalahan individu. Tak jarang Ranocchia, Vidic, maupun kiper Samir Handanovic sering dijadikan kambing hitam karena kesalahannya berujung fatal. Karena itu, Inter sering kehilangan poin saat menghadapi lawan yang inferior.

Selain itu, terlihat sekali jika Inter sangat lemah menghadapi lawan-lawan yang memiliki pemain yang cepat. Penguasaan bola yang tinggi, menuntut barisan pertahanan Inter ikut maju untuk memberi opsi tambahan dalam menguasai bola. Terkadang, duet Ranocchia-Vidic sering kewalahan dalam mengantisipasi serangan balasan. Ranocchia bukan tipe bek yang cepat sedangkan Vidic sudah tak memiliki fisik saat masa jayanya bersama Manchester United dulu.

Kedatangan ketiga pemain belakang memang menjadi angin segar bagi Mancini. Pasalnya duet Ranocchia-Vidic tak memiliki pelapis yang sepadan di musim lalu. Sebenarnya ada Juan Jesus, namun Mancini lebih gemar memainkannya sebagai fullback kiri ketimbang sebagai bek tengah. Sisanya hanya Marco Andreolli yang sangat sulit untuk meraih tempat sebagai pilihan utama.

Bergabungnya Murillo dan Miranda memang tak menjamin mereka langsung menjadi langganan starter. Mengingat penampilan mereka berdua bisa dibilang tak lebih baik dari Ranocchia maupun Vidic di musim lalu. Namun setidaknya mereka akan membuat persaingan di lini belakang semakin menarik.

Satu lagi pemain yang bergabung dari klub La Liga Spanyol adalah Martin Montoya. Pemain berusia 24 tahun ini memang sudah lama diincar oleh Inter. Bisa dibilang Montoya adalah perekrutan yang bagus untuk Mancini. Karena di usianya yang terbilang muda, dia sudah memenangkan berbagai macam gelar bersama Barcelona. Sudah jelas dia memiliki mental juara.

Martin memiliki kecepatan, teknik, dan kemampuan passing yang baik, tipikal pemain jebolan Barcelona. Meski punya daya serang yang tinggi tapi dia juga baik dalam bertahan. Walaupun jumlah crossing-nya tak sebanyak Dodo ataupun Danilo D'Ambrosio namun bukan berarti dirinya lemah dalam hal ini. Hanya saja, melancarkan umpan silang bukanlah bagian utama dari Barcelona. Rasanya, kedatangan dirinya bisa menghilangkan dahaga akan fullback agresif seperti Maicon dulu.
Kesimpulan
Inter di musim depan tak akan berbeda jauh dengan musim lalu. Mancini kemungkinan akan kembali mengandalkan formasi 4-3-1-2 yang lebih sempurna. Pola ini membuat Inter selalu dominan di lini tengah dan menguasai bola dengan persentase yang tinggi di setiap pertandingan.

Bergabungnya Murillo dan Miranda diharapkan bisa menambal lini belakang yang bermain inkonsisten di musim lalu. Geoffrey Kondogbia pun akan membuat pertahanan Inter semakin tebal karena kemampuan bertahannya bisa menjadi tembok awal untuk mematahkan serangan lawan.
Bergabungnya Martin Montoya bisa menjadi kunci sukses Mancini. Karena ini menghilangkan kelemahan Inter saat menyerang yang sering buntu karena kedua fullback bukan pemberi crossing yang baik. Karena ketika bermain dengan formasi yang rapat, bantuan dari bek sayap harus bisa menjadi alternatif serangan ketika lini tengah buntu.

Kembalinya Biabiany bisa menjadi salah satu pembeda di lini serang Inter. Karena Mancini tak lagi ragu ketika dia ingin bermain melebar dengan menempatkan pemain lebih di sisi lapangan. Juga ada Jovetic yang mampu bermain di berbagai posisi. Kemampuan teknik serta kreativitasnya sangat bisa diandalkan.
Memang wajar jika Mancini diberi ekspektasi yang tinggi di musim depan. Dengan gelontoran pemain yang datang, Inter akan menjadi jauh lebih kuat dibanding musim lalu. Tak ada lagi alasan tim sedang masa transisi atau kekurangan pemain berkualitas.
Semoga berhasil Mancio! Dan jangan lupa mengingatkan Handanovic untuk menangkap bola.

Thursday, June 11, 2015

Sportiello: Malaikat Penjaga Atalanta

Hampir semua orang pernah mendengar kata malaikat. Banyak agama dan mitologi yang menyebut tentang malaikat. Seringkali diceritakan sebagai penghubung antara manusia dan Tuhan. Namun, tak hanya itu, makhluk gaib ini juga banyak dipercaya sebagai pelindung untuk membantu manusia menuju ke surga.

Jika berbicara soal pelindung, di sepakbola pun ada pemain yang sifatnya mirip-mirip dengan malaikat.  Ya, seorang kiper yang bertugas sebagai pelindung sebuah tim. Perannya memang tak boleh disingkirkan begitu saja. Sebuah tim masih bisa bermain tanpa seorang penyerang, namun tak ada yang bisa bermain tanpa kiper. Sering sekali seorang penjaga gawang menjadi penentu sebuah jalannya laga. Jika dipikir, rasanya agak percuma ketika sebuah tim bermain dominan tapi mudah kebobolan. Karena itu, wajar jika klub-klub selalu mencari kiper yang bagus, bahkan untuk sebuah klub kecil.

Bukan perkara mudah untuk mencari seorang kiper handal. Karena umumnya kematangan permainan seorang kiper ada pada usia senja, mulai sekitar 30. Dibutuhkan kejelian membaca permainan, mengorganisir lini pertahanan, dan pengambilan keputusan yang semakin terasah ketika jam terbang semakin tinggi. Namun, tak jarang banyak kiper-kiper muda yang dipercaya untuk mengawal gawang tim utama. Seperti kiper Atalanta yang digosipkan menjadi incaran klub-klub besar, Marco Sportiello.

Sumber: www.tuttomercatoweb.com

Penampilannya di musim lalu memang mengejutkan. Setelah Atalanta ditinggal kiper utamanya, Andrea Consigli ke Sassuolo, Sportiello seperti musim-musim sebelumnya hanya diperkirakan  sebagai kiper pelapis. Di dalam skuad pun masih ada dua pemain senior Gregorio Frezzolini dan Vlada Avramov. Namun dia berhasil mencuri tempat utama sepanjang musim dengan performa yang konsisten.

Karir Marco Sportiello berawal dari bermain di tim-tim kecil setelah lulus dari akademi Atalanta. Dia sempat bergabung dengan Seregno dan Poggibonsi di Serie-D (level tertinggi dalam liga non-profesional Italia) pada periode 2010 hingga 2012. Musim berikutnya, Sportiello dipinjam oleh Carpi yang saat itu masih di Serie-C. Di klub yang musim depan akan berlaga di Serie-A ini, Sportiello menjadi pilihan utama dan berperan besar dalam promosi ke Serie-B. Di 2013, penjaga gawang kelahiran Desio ini kembali bergabung dengan Atalanta dan menjadi kiper ketiga.
  
Di usia 23 tahun bermain reguler di level Serie-A adalah kesempatan yang sangat berharga, apalagi untuk seorang kiper. Dari keseluruhan musim, hanya sekali absen dari starting line up Atalanta. Dari 37 pertandingan di Serie-A, Sportiello mencatat enam kali clean sheet. Dia berhasil membawa Atalanta selamat dari degradasi di peringkat 17 atau satu peringkat di atas zona tidak aman.

Sportiello saat menahan tendangan penalti Gonzalo Higuain (sumber: sport.yahoo.com)

Atalanta memang bukanlah tim dengan pertahanan terbaik. Total kebobolan di musim lalu mencapai 57 gol. Walau begitu, Marco Sportiello bertindak sebagai kiper yang bisa diandalkan. Menurut whoscored.com, Sportiello membuat 138 penyelamatan atau setara dengan 3,7 kali per pertandingan. Angka ini menjadi yang tertinggi di Serie-A. Inilah salah satu faktor dirinya diminati oleh klub-klub besar termasuk Roma dan Liverpool.

Jumlah kebobolan yang banyak memang terasa berat bagi seorang kiper. Penampilan gemilang seorang penjaga gawang pun kadang tak cukup untuk menghindarkan tim dari kebobolan. Dengan jumlah penyelamatan yang begitu tinggi, menandakan seorang kiper memiliki kemampuan yang baik. Atau dia berada dalam tim dengan pertahanan yang buruk. Ya, setidaknya Atalanta beruntung tak terdegradasi musim ini karena memiliki seorang malaikat muda pelindung di depan gawang.

Tuesday, June 9, 2015

Jeison Murillo, Amunisi Baru Lini Belakang Inter

Bursa transfer dalam sepakbola merupakan salah satu hal yang menarik dalam dunia sepakbola. Di masa jeda kompetisi inilah para media gencar membuat isu dan rumor terkait dengan masa depan seorang pemain atau pelatih. Dan kita, para fans seolah terbuai ketika mendengar bahwa seorang pemain top akan berlabuh di klub kesayangannya musim depan. Atau juga merasa waswas jikalau pemain andalannya akan pergi.

Inter sendiri sudah beberapa kali mendeklarasikan diri akan membeli beberapa pemain top. Ya, dari rumor yang tersebar memang tersemat nama-nama yang telah teruji seperti Yaya Toure dan Stevan Jovetic. Sebenarnya untuk musim depan sudah ada dua nama yang resmi bergabung, yaitu Xerdan Shaqiri dan Davide Santon yang lebih dulu bergabung sejak pertangahan musim lalu dengan status pinjaman. Inter lebih memilih untuk mengaktifkan opsi pembeliannya.

Selain kedua nama di atas, ada satu lagi yang telah resmi bergabung dengan Inter, Jeison Murillo. Dilihat dari namanya yang kurang tenar, wajar jika banyak yang meragukan kemampuannya. Pemain berusia 23 tahun ini ditrasnfer dari Granada pada Februari lalu, jadi baru bisa bergabung di bulan Juli. Posisinya sebagai bek tengah pun membuat anggapan bahwa dirinya hanya akan menjadi pelapis saja di musim depan.

Jeison Murillo berhadapan dengan Lionel Messi (Sumber: thenational.ae) 


Untuk musim depan, Inter akan memiliki stok pemain belakang yang cukup banyak dengan berbagungnya Murillo. Karena walau Campagnaro telah dilepas, masih ada Ranocchia, Vidic, Juan Jesus, dan Andreolli untuk posisi yang sama. Lalu, tepatkah jika Inter membeli seorang Jeison Murillo seharga 8 juta Euro?

Jika berbicara taktik, maka Mancini sudah pasti akan meneruskan pakem dengan empat pemain belakang. Masih ada kemungkinan untuk Juan Jesus kembali dipercaya mengawal sisi kiri pertahanan seperti di beberapa laga. Maka kesempatan Murillo untuk tampil akan lebih besar. Apalagi duet Ranocchia dan Vidic masih sering tampil tak konsisten dan banyak melakukan kesalahan-kesalahan yang berujung kebobolan. Ditambah lagi faktor ketidakpercayaan pelatih-pelatih Inter pada Andreolli.

Murillo memiliki kemampuan bertahan yang cukup baik sebenarnya jika dilihat dari statistiknya musim lalu. Dari 19 penampilan di La Liga, dia membuat rataan 1,9 tekel, 2,2 intersep, dan 5,4 clearance per laga. Yang paling menonjol adalah kemampuan duel udaranya yang mencapai rataan 3,3 per laga atau yang tertinggi diantara semua pemain Granada. Namun, jika membandingkannya dengan para pemain belakang Inter, pemain asal Kolombia ini masih jauh di bawah. Hanya Andreolli yang memiliki statistik yang tak jauh darinya. Namun, mengingat menit bermain yang jauh lebih sedikit dari Murillo maka Andreolli sulit untuk dibandingkan.

Usia 23 tahun masih tergolong muda untuk usia pemain belakang. Karena kematangan para bek akan mulai datang di sekitar 27 atau 28. Waktu bermain yang cukup tinggi di tim utama bersama Granada akan sangat membantu karirnya bersama Inter. Selain itu, Murillo tak seperti Ranocchia dan Vidic yang bertipe lambat.

Kesimpulan

Memboyong pemain muda merupakan sebuah keputusan tepat bagi Inter. Pemain seperti Vidic sepertinya tak akan bertahan lebih lama walau penampilannya masih terbilang baik untuk bermain di level Serie-A. Bukan tak mungkin dirinya akan menjadi poros pertahanan Inter bersama Juan Jesus di tahun-tahun mendatang.

Risiko akan selalu ada mengiringi setiap kontrak yang ditawarkan kepada pemain. Bisa saja sang pemain mengalami cedera parah hingga menghancurkan karirnya, seperti Francesco Coco dulu. Atau ada yang gagal memberikan penampilan terbaiknya dan akhirnya dijual kembali dengan harga yang jauh lebih murah. Dukungan dari pihak pelatih dan klub memang harus diberikan. Jangan sampai bakat Murillo menjadi sia-sia. Jika hanya menjadi penghangat bangku cadangan, mengapa tak mencoba Simone Pasa atau Jacopo Galimberti saja?

Good luck, Jeison.

Postingan Populer