Saturday, September 13, 2014

Preview Serie-A: Inter vs Sassuolo

Hasil seri di pekan pertama membuat kedua tim mengincar poin penuh kali ini. Bermain di kandang sendiri Inter akan mendapat dukungan penuh dari seantero Giuseppe Meazza. Tak pelak mereka harus memanfaatkan ini untuk tampil sebaik-baiknya. Tapi Sassuolo tak akan memberikan kemenangan mudah untuk Inter.

Mazzarri dipastikan akan menggunakan formasi dengan tiga bek. Inter dipastikan kehilangan Nemanja Vidic karena debut luar biasanya dengan suguhan penalti untuk lawan dan sebuah kartu merah. Absennya pemain gaek asal Serbia ini memaksa Mazzarri untuk memasang Andreolli atau Campagnaro. Salah satu dari mereka akan menemani Ranocchia dan Juan Jesus mengawal pertahanan di depan Handanovic.

Lini tengah Inter kemungkinan besar akan berubah di banding saat melawan Torino. Dengan berita Palacio siap bermain maka formasi 3-5-2 yang bepotensi besar dipasang di awal pertandingan. Kovacic akan bermain sejajar dengan dua gelandang lainnya. Yann M'Vila sepertinya tak akan menjadi starter karena penampilannya yang kurang baik. Jadi Hernanes bersama Gary Medel akan menemani Kovacic di lini tengah.

Di posisi wingback, Jonathan sudah pasti menempati sisi kanan Inter. Sedangkan Dodo atau Nagatomo akan mengawal sisi kiri. Lini depan satu tempat akan diisi Mauro Icardi walaupun saat melawan Torino dia seperti tak berarti di depan gawang. Yang mengkhwatirkan adalah kebugaran Palacio dan Osvaldo. Karena Mazzari tak akan berjudi untuk menurunkan Federico Bonazzoli sejak awal.

Kubu Sassuolo akan datang dengan tambahan kepercayaan diri karena striker andalan mereka, Simone Zaza yang melakukan debut fenomenal bersama tim nasional Italia. Di Francesco sudah pasti akan memasang 4-3-3 andalannya.

Dengan performa yang cukup baik di pekan awal kecil kemungkinan starting line-up akan berubah drastis. Kiper berbakat Andrea Consigli pun sudah siap untuk diturunkan. Pemain yang absen hanya Paolo Cannavaro dan tak terlalu berimbas buruk ke lini pertahanan Sassuolo. Mereka masih memiliki Lorenzo Ariaudo, Luca Antei, Emanuele Terranova, dan Francesco Acerbi. Dari segi fullback pun sepertinya Federico Peluso dan Marcello Gazzola tak punya pesaing berarti di skuad.

Lini tengah akan menjadi fokus utama Sassuolo dalam pertandingan kali ini. Trio Missiroli, Magnanelli, dan Biondini bermain kurang apik saat melawan Cagliari. Minimnya kreativitas lini tengah Sassuolo akan membuka peluang Jasmin Kurtic untuk masuk menggantikan Missiroli.

Tiga pemain depan sekaligus memang menjadi andalan Sassuolo dalam menyerang. Mereka baik dalam mambangun serangan dari sayap ataupun dari tengah. Dengan Simone Zaza yang akan memimpin lini depan, pemain-pemain seperti Berardi dan Sansone akan punya kepercayaan diri lebih menghadapi kuatnya lini pertahanan Inter.

Jalannya pertandingan akan berlangsung menarik. Jika melihat materi pemain dan performanya di pekan pertama, Inter kuat dalam bertahan sedangkan Sassuolo memiliki senjata utama di sektor penyerangan. Hilangnya Vidic bisa seperti pedang bermata dua untuk Inter. Di satu sisi dia adalah petarung yang sangat baik di udara, sisi lainnya dia memiliki masalah dalam kedisiplinan. Memainkan Andreolli adalah salah satu opsi terbaik yang dimiliki Inter. Dengan begitu kecepatan para pemain depan Sassuolo akan bisa diredam.

Sassuolo akan sangat berbahaya jika Inter tak meredam Federico Peluso yang bermain sangat baik di partai melawan Cagliari. Untuk itu Il Nerazzurri akan bermain menyerang untuk menekan pergerakan Peluso di sisi kiri. Beruntung Inter memiliki Jonathan yang punya kecepatan, dribel, dan kemampuan penetrasi yang baik.

Inter akan memiliki keunggulan di lini tengah dengan pemain kreatif seperti Kovacic dan Hernanes yang memiliki teknik bagus. Ditambah dengan tenaga besar Gary Medel yang siap menjelajah lapangan tanpa lelah. Jika mereka bisa mengeksploitasi kelemahan lini tengah Sassuolo, maka Inter akan menguasai posession dengan mudah. Belum lagi jika buntu masih ada Fredy Guarin yang siap membantu Icardi atau Palacio dalam mencetak gol.

Sassuolo bukannya tanpa peluang, mereka akan melancarkan counter-attack cepat dengan Berardi dan Sansone yang bermain melebar. Inter harus berhati-hati jika tak ingin kecolongan lebih dulu. Lini pertahanan Il Neroverdi juga akan memberi Icardi penjagaan ketat. Karena sudah terbukti dia akan mati kutu jika Palacio yang biasa membuka ruang tak hadir di lapangan.

Dengan peluang lebih besar, Inter akan memenangkan ini dengan selisih dua gol. Itupun kalau Mauro Icardi sudah waras kembali.

Thursday, September 11, 2014

Striker Muda Italia

Sosok Antonio Conte menjadi perhatian saat dua pertandingan internasional Italia kemarin. Melawan Belanda dan Norwegia dilaluinya dengan kemenangan. Era baru telah datang untuk Azzurri. Dimulai dengan pemilihan pemain yang berbeda dari masa Prandelli. Kembalinya nama-nama seperti Sebastian Giovinco, Fabio Quagliarella, dan pemanggilan beberapa pemain muda juga menyedot atensi publik.

Satu lagi yang menyita perhatian yaitu striker berusia 23 tahun bernama Simone Zaza. Dia berhasil membayar kepercayaan Conte ketika mencetak satu gol ke gawang Norwegia. Ini juga menandakan bahwa regenerasi skuad Gli Azzurri akan tetap berlanjut. Sebenarnya selain Zaza masih ada beberapa pemain muda potensial terutama di posisi striker. Saya akan sedikit mengulas para striker muda Italia.

Mario Balotelli



Siapa yang tak mengenal Super Mario? Pria bengal kelahiran Palermo 24 tahun yang lalu memang terkenal dengan ulahnya yang kadang di luar akal sehat. Bahkan orang sering melupakan performa apiknya di atas lapangan karena ulahnya.

Jika melihat statistiknya Balotelli tak ada yang terlalu istimewa. Keunggulannya adalah dia memiliki flair yang belum tentu dimiliki semua pemain. Ya kemampuan untuk berbuat sesuatu di luar dugaan adalah keahliannya. Meskipun terkadang itu merugikan timnya sendiri. Kontribusinya bersama Italia terlihat sejak Piala Eropa 2012 dimana dia membawa Italia mencapai final. Sudah pasti orang ini adalah salah satu striker yang akan selalu diandalkan oleh Italia. Jika dia mampu menjaga performa dan perilakunya.


Ciro Immobile



Nama ini mencuat setelah menjadi top skor Serie-A musim lalu bersama Torino. Mencetak 22 gol dan 3 assist dari 33 penampilan. Berkat performa impresifnya itu yang membuatnya dibawa ke Brasil oleh Prandelli. Walaupun gagal memberi yang terbaik tapi tak membuat Borussia Dortmund ragu untuk merekrutnya. Diproyeksikan sebagai pengganti Robert Lewandowski yang menyebrang ke Bayern. Jika dia mampu menyamai penampilannya musim lalu bukan tak mungkin nama Balotelli akan semakin tergeser dalam radar Antonio Conte.

Alberto Paloschi

Paloschi mengawali karir dari akademi A.C. Milan dan melakukan debut profesional di tahun 2007. Para fans pun mulai menaruh harapan padanya. Namun pada akhirnya dia dikorbankan ke Parma demi memberi tempat lebih kepada Ronaldinho. Dia berhasil mencuri perhatian publik ketika mencetak 12 gol di musim pertama bersama klub barunya. Walaupun kini sudah kembali dimiliki Milan, namanya memang lebih identik dengan seragam Chievo hingga saat ini sebagai pinjaman. Ya wajar saja di klub semenjana seperti Chievo dirinya telah mencetak 25 gol, 13 diantaranya dibukukan pada musim lalu. Di tangan Antonio Conte bukan mustahil peluang akan terbuka lebar bagi Alberto menembus tim Euro dua tahun mendatang.

Mattia Destro
Mengawali karir di tim junior kota kelahirannya Ascoli sebelum bergabung ke Inter. Belum diberi kesempatan menunjukkan taringnya dia harus rela menjadi bagian dari transfer Andrea Ranocchia. Padahal selama empat tahun di tim junior Inter dia selalu menjadi pencetak gol utama di bersama Balotelli. Di Genoa pun dia belum memberi penampilan seperti di Inter. Hanya mencetak 2 gol dari 16 penampilan dan berada di bawah bayang-bayang Luca Toni dan Rodrigo Palacio.

Kepindahannya ke Siena memang membawa berkah untuknya. Membawa tim promosi itu ke posisi 14 dan menjadi top skor klub dengan 12 gol. Penampilan baiknya inilah yang menggiring Roma untuk merekrutnya untuk menggantikan Fabio Borini yang hengkang. Destro total telah mencetak 19 gol bersama Roma. Bayangkan jika dia tak absen karena cedera berapa gol lagi yang akan dibuat. Bisa dibilang dia adalah langganan tim nasional Italia sejak U-16 hingga tim senior. Ya tak ada yang meragukan kualitasnya. Tinggal bagaimana dia menarik perhatian Conte hingga ajang Euro nanti.

Domenico Berardi



Pemuda kelahiran Cariati 20 tahun lalu ini menjadi fenomena Serie-A musim lalu. 16 gol dicetaknya bersama tim promosi Sassuolo. Sebenarnya Berardi adalah pemain Juventus tapi dipinjamkan ke Sassuolo karena tak ada tempat baginya. Usia muda dan minim pengalaman belum bisa membuatnya hadir ke tim senior Italia. Dia masih menjadi andalan tim U-21 hingga saat ini.

Jika dibanding striker-striker lain, Berardi memiliki keunggulan bisa dimainkan di posisi lain yang lebih melebar. Karena di Sassuolo dia sering berganti tempat dengan Simone Zaza mengisi pos kanan atau sebagai poacher di depan gawang. Selain itu dia sering berkontribusi dalam pertahanan dengan melakukan trackback dan tackle di area lawan. Jika dia bisa menyamakan performanya seperti musim lalu, satu tempat akan terbuka untuknya.

Stephan El Sharaawy

Gaung namanya sempat redup ketika Balotelli datang ke Milan. Ditambah dengan penurunan performanya karena cedera yang cukup panjang membuatnya tak dibawa ke Brasil di Piala Dunia lalu. Peluang masuk ke tim nasional kembali terbuka karena penampilannya di partai pertama Serie-A.

Boleh diakui El Sharaawy adalah salah satu bakat terbaik di Italia saat ini. Kemampuan dribel dan kreativitasnya dalam membangun serangan menjadi tumpuannya dalam bermain. Nalurinya pun tajam dalam mencetak gol. Di musim 2012/2013 sebagai pembuktiannya dengan 19 gol di semua kompetisi. Rasanya dosa jika namanya dilewatkan begitu saja.

Lorenzo Insigne

Messi-nya Italia begitulah setidaknya yang dikatakan mantan rekan setimnya Goran Pandev. Mungil, cepat, dan memiliki teknik tinggi sebagai identitasnya. Menarik perhatian ketika bermain di Serie-B bersama Pescara di bawah asuhan Zdenek Zeman dengan catatan 18 gol. Keunggulannya adalah bermain sebagai winger dan fasih memerankannya di kedua sisi lapangan. Saya tak sabar menunggunya bertandem dengan Immobile seperti mereka menjuarai Serie-B bersama Pescara.

Manolo Gabbiadini
Karir Gabbiadini lebih banyak dihabiskan di klub-klub menengah seperti Atalanta, Genoa, dan Sampdoria. Namun pemilik aslinya adalah Juventus. Adik dari pesepakbola wanita Melania Gabbiadini ini memang kurang populer dibanding semua nama di atas. Bukan berarti dia tak memiliki kemampuan. Buktinya dia menjadi tulang punggung Sampdoria untuk bertahan di Serie-A dengan 9 gol dan 4 assist. Gabbiadini pun mampu bermain di berbagai posisi selain striker.

Simone Zaza
Pria berkepala plontos ini sebelumnya hanya menghabiskan karirnya di klub-klub kecil seperti Viareggio dan Ascoli. Itu saat dia masih dimiliki oleh Sampdoria. Dan peminjaman jangka panjang itu berhasil dia mencetak 11 dan 18 gol berturut-turut. Bakatnya pun tercium oleh Juventus yang membeli setengah kepemilikannya. Pada akhirnya berlabuh di Sassuolo untuk meraih karir yang lebih cemerlang. Satu gol nya ke gawang Norwegia hanya sebuah peringatan bahwa dirinya bukan striker kacangan yang patut dipandang sebelah mata.

Prestasi buruk Italia di ajang Piala Dunia kemarin tak jauh dari kegagalan Prandelli menerapkan bagaimana caranya mencetak gol. Ya dari 3 pertandingan Italia hanya membukukan dua gol itu pun saat melawan Inggris. Memalukan. Dengan nama-nama di atas ditambah kehadiran Antonio Conte seharusnya Italia tak boleh gagal lagi dalam urusan mencetak gol. Harusnya.

Sumber gambar: www.zimbio.com

Saturday, August 30, 2014

Apa Kabar Inter?

Sudah berbulan-bulan blog ini saya tinggalkan. Rasanya gerah juga untuk menahan hawa nafsu untuk menulis lagi. Padahal selama dua bulan belakangan ada topik yang begitu menggoda iman para penulis terutama yang fanatik pada sepakbola. Ya Piala Dunia dan bursa transfer klub-klub Eropa. Banyak pemain yang tiap harinya mengisi headline portal-portal berita olahraga. Dari Luis Suarez hingga Angel Di Maria. Lalu apa kabar dengan Inter?

Jika melihat dari pergerakan transfer musim ini, Inter sedikit berbeda dibanding musim-musim terdahulu. Semenjak Moratti mundur dari jabatannya memang Inter menunjukkan perubahan signifikan terutama dalam kebijakan transfer pemain. Salah satu perbedaan itu adalah hilangnya kehadiran nama-nama besar dengan harga selangit seperti dulu. Tercatat pengeluaran terbesar hanya 9,68 juta Pounds untuk seorang Pablo Osvaldo.

Inter juga akan memulai musim ini tanpa barisan senior Argentina. Javier Zanetti, Esteban Cambiasso, Walter Samuel, dan Diego Milito menyepakati untuk meninggalkan Inter. Zanetti ditunjuk sebagai vice president sedangkan Cambiasso, Milito, dan Samuel memutuskan bermain di luar Italia. Demi mengisi kekosongan jabatan kapten, Mazzarri telah menetapkan Andrea Ranocchia sebagai kapten utama.

Di musim 2014/15 Inter akan bermain tanpa kedatangan bintang baru ditambah dengan perginya deretan pemain senior dan kapten mereka. Apa yang akan terjadi? Jawabannya adalah Inter akan baik-baik saja (seharusnya). Ada beberapa alasan yang bisa memperkuat jawaban ini.

Posisi Pelatih Tetap

Pelatih utama memiliki peran vital di dalam klub sepakbola. Karena di tangannya lah nasib sebuah klub digantungkan. Sekarang Walter Mazzarri masih mengisi posisi tersebut. Satu hal positif yang sudah dipegang oleh Inter. Walaupun di musim lalu hanya menempati peringkat 5 di akhir musim. Namun itu menjadi modal kepercayaan untuk kemajuan Inter. Ingat musim lalu Inter berada pada masa transisi kepemilikan ke Erick Thohir. Filosofi 3-5-2 ala Mazzarri pun akan semakin melekat di Giuseppe Meazza. Dengan tambahan pemain-pemain baru Inter dan Mazzarri siap menghadapi musim baru.

Hilangnya Ketergantungan Terhadap Palacio

Semenjak ditinggal Samuel Eto'o dan seringnya Diego Milito mengalami cedera praktis tak ada bomber setajam mereka. Untuk itulah Rodrigo Palacio didatangkan dari Genoa pada 2012. Semenjak itu Inter seperti mengalami ketergantungan pada pemain yang memiliki potongan rambut unik ini. Apalagi striker-striker lain gagal memberi kontribusi besar dari Antonio Cassano, Tommasso Rocchi, higga Ishak Belfodil. Tapi beban Palacio sudah jauh berkurang seiring dengan semakin tajamnya Mauro Icardi. Ini belum ditambah dengan masuknya Pablo Osvaldo yang sudah mulai membuktikan di leg kedua Europa League.

Mateo Kovacic
Saya adalah salah satu dari jutaan fans yang percaya jika Kovacic akan menjadi pemain penting di Inter. Pemain muda yang satu ini memang masih berupa bahan mentah. Belum terbukti apakah dia bisa memenuhi potensinya atau tidak. Persaingan di lini tengah Inter memang sering membuatnya tersingkirkan. Apalagi penampilannya musim lalu kurang impresif karena lebih banyak bermain sebagai pengganti. Tapi, dia bermain begitu baik jika ditampilkan sejak awal. Dengan kreativitas dan akurasi umpannya yang tinggi bukan tak mungkin Guarin yang akan sering duduk di bangku cadangan nanti.

Ya bukan mustahil jika Inter bisa tetap bersaing di papan atas musim depan. Setidaknya menyamakan posisi akhir seperti musim lalu. Semoga saja.

Tuesday, May 13, 2014

Sang Penjaga Harimau

Di suatu siang yang cerah berdirilah seorang pria berkepala plontos di padang gembala. Tubuhnya tinggi tegap dengan otot-otot yang terbentuk dengan baik. Sesekali dia duduk terdiam dan memejamkan matanya. Sudah hampir setahun dia melakukan pekerjaan ini. Melindungi dan mengawasi seekor harimau berumur 110 tahun bernama Hull. Memang dia tidak bekerja sendirian tapi kemampuannya sudah diakui hampir di seluruh tanah Britania bahkan sampai ke luar negeri. Orang-orang biasa memanggilnya Davies.

Pertama kali Davies mengenal pekerjaan ini berkat seorang pria paruh baya bernama Steve Bruce. Dia adalah pemimpin dari semua pasukan untuk menjaga Hull tetap eksis. Sebelumnya Davies bekerja sebagai penjaga keamanan di sebuah perusahaan kecil ternama di kota Birmingham. Bruce menyadari kemampuan Davies yang cocok untuk melindungi sang harimau. Beruntung Davies mau menerima dengan tangan terbuka.

Davies dianggap sebagai yang paling menonjol dalam tim pelindung sang harimau. Kemampuan fisiknya yang mumpuni menjadi senjata ampuhnya. Walau terkadang serangan-serangan musuh tak mampu dihadangnya sehingga membuat Hull terluka. Kemampuan fisiknya juga berguna untuk tim pencari harta berupa poin untuk makanan sang harimau tua.

Sebagai pelindung terkuat dia begitu dicintai oleh penduduk sekitar yang begitu menyanjung Hull sebagai hewan yang sakral. Simbol kebesaran kota mereka. Tapi di usianya yang segera mencapai kepala tiga Davies masih memiliki impian yang besar. Sudah puluhan tahun dia begitu menginginkannya. Namun seakan nasib tak berpihak padanya. Dia selalu gagal dalam meraihnya.

Impiannya adalah menjadi prajurit pelindung tiga ekor singa yang menjadi lambang kebesaran negara. Sebenarnya dia pernah melakukannya ketika usianya masih belia. Tapi tak sekalipun dia dilirik kembali saat dewasa. Entah mengapa begitu. Mungkin karena dirinya hanya menjadi pelindung seekor harimau. Bukanlah pengawal setan berwarna merah ataupun burung merah raksasa.

Bahkan orang-orang pun tak habis pikir. Mengapa Davies yang begitu mumpuni dalam hal melindungi seekor harimau dinilai tak pantas menjaga kebesaran sang tiga singa. Padahal beberapa orang dari luar negeri pun mengakui bahwa dia adalah sosok yang dibutuhkan.

Sampai ketika suatu waktu ada tawaran untuk melindungi negara lain. Tapi dia bersikukuh terhadap impian besarnya itu. Begitu besarkah impianmu itu Davies? Hingga kau rela bersabar untuk menikmati hasil jerih payahmu yang sudah diakui di negara-negara lain. Memang hidup ini penuh cobaan. Terutama jika pemimpin pasukan tiga singa dengan prestasi terbilang medioker. Sama seperti penilainnya terhadapmu, Curtis Davies si penjaga harimau.

Tuesday, April 29, 2014

Hey Inter, contohlah Liverpool!

Hingga kini, masih saja ada kesan yang mendalam dari partai Liverpool melawan Chelsea yang lalu. Mulai dari strategi Mourinho hingga kesalahan Steven Gerrard masih tergambar jelas di benak saya. Ya inilah partai yang paling menarik sepanjang musim ini. Sepertinya Tuhan masih sayang dengan Liverpool. Mereka masih diberi ujian terberat sebelum menggapai angan-angan tertinggi. Lewat Jose Mourinho dan tim kelas dua Chelsea membuktikan bahwa perjuangan belum berakhir begitu saja. Apabila Liverpool juara nanti pastilah sangat spesial. Karena telah melewati rintangan yang begitu berat.

Ya bisa-bisanya seorang Interisti ini berbicara banyak tentang Liverpool. Jujur saja, juara atau tidaknya Liverpool saya tetap kagum dengan perjuangan mereka. Miris memang melihat tim kesayangan yang biasanya bertengger di papan atas sekarang hanya mengejar tiket Eropa. Mungkin inilah yang dirasakan fans Liverpool. Inter harus mencontoh tim Merseyside ini. Karena banyak sekali yang bisa dipetik dari perjuangan mereka. Selain itu ada beberapa kemiripan yang menguatkannya. Berikut adalah beberapa faktor yang sebaiknya ditiru oleh Inter.

Pembangunan Fondasi Tim

Pergantian pemilik klub dari Moratti ke Thohir menyebabkan Inter berada dalam masa transisi besar. Tak masalah jika klub lebih mengarah ke sisi bisnis yang menginginkan profit. Justru akan sangat baik karena untuk meraihnya mau tak mau Inter harus berprestasi. Untuk memulainya Thohir harus berani mempertahankan Walter Mazzarri.

Ya mari kita tinggalkan kebiasaan lama menyalahkan pelatih seperti di era Moratti. Mengganti pelatih artinya merubah pola permainan. Semua pelatih pasti memiliki filosofi yang berbeda. Belum lagi jika ada pemain yang tak masuk rencana besarnya. Pasti akan mengganggu keharmonisan tim. Lihatlah Brendan Rodgers yang perlahan tapi pasti bisa menerapkan pemikirannya ke Liverpool. Itu pun tidak dilakukan dalam jangka waktu pendek. Bedanya, Mazzarri memiliki filosofi yang jauh berbeda dengan pealtih sebelum-sebelumnya. Jadi butuh waktu yang lebih lama.

Peran kapten juga diperlukan. Jika di Liverpool ada Steven Gerrard maka di Inter masih ada Javier Zanetti. Mereka berdua adalah sosok yang disegani oleh kawan dan lawan. Tapi kemungkinan Zanetti akan pensiun, maka timbul pertanyaan yang sederhana tapi bisa berpengaruh besar. Siapa pengganti yang sepadan? Sejauh ini mungkin Cambiasso. Itu pun jika Inter tidak melepasnya di akhir musim nanti bersama barisan veteran lainnya.

Kembalikan Pemain Lokal

Kalian pasti sadar jika dari begitu banyaknya pemain Inter hanya ada empat pemain asal Italia. Luca Castellazzi, Andrea Ranocchia, Marco Andreolli, dan Danilo D'Ambrosio. Mereka pun tidak main secara reguler walaupun Mazzarri adalah tipe penggemar winning team. Apa seburuk itu kualitas pemain Italia? Coba lihat Juventus. Mereka masih percaya dengan pemain lokal di semua lini. Performa mereka baik-baik saja di liga. Begitu pun dengan Liverpool yang menjadikan pemain lokal sebagai pemain kunci.
Satu hal penting yang dimiliki pemain lokal adalah paham dengan kultur asli negaranya. Bagaimana mereka menghadapi derby dan rival dengan sejarah panjang pasti akan sangat berguna. Adaptasi pemain pun akan lebih mudah seperti yang ditunjukkan D'Ambrosio yang langsung nyetel dengan Inter. Beda dengan Kuzmanovic dan Alvaro Perreira sebagai contoh yang sebelumnya bermain di liga lain. Lagipula banyak sekali pemain Italia berpotensi yang bisa bersinar walau di tim medioker.

Percayalah dengan Anak Muda

Inter saat ini semakin terbiasa dengan pemain-pemain matang. Dibuktikan dengan datangnya Vidic musim depan. Sebagai contoh di Liverpool ada Sturridge, Jordan Henderson, Raheem Sterling, dan Coutinho. Mereka bisa menampilkan yang terbaik dan menjadi kunci permainan Liverpool. Sudah saatnya berganti dengan pemain muda jika ingin bersaing di papan atas.

Jangan sampai terjadi lagi penyia-nyiaan bakat seperti Davide Santon, Luc Castaignos, Coutinho, Luca Caldirola, dan Giulio Donati. Buktinya mereka bisa menembus tim utama. Bukankah mereka bisa menjadi investasi menarik? Klub tak perlu menghabiskan puluhan juta untuk seorang pemain. Tapi bisa sebaliknya jika ingin bersabar. Saya berharap pemain seperti Juan Jesus, Mateo Kovacic, dan Saphir Taider tak mengalami nasib yang sama.

Liverpool dan Inter memang mirip. Mereka telah merasakan kejayaan berada di puncak tertinggi. Tapi sedang meraihnya kembali. Berat memang karena butuh proses. Saya jadi ingat dengan perkataan di manga Our Field of Dreams oleh Ibu Kensuke, "Lewati jalan neraka untuk menjadi yang terbaik". Perjuangan tak ada yang sia-sia. Asal mau berkorban dan bersabar.

Forza Inter per Sempre!

Postingan Populer