Monday, July 11, 2016

Portugal Kini dan 12 Tahun Lalu



Piala Eropa 2016 telah usai dan memunculkan Portugal sebagai juara baru. Melihat gelaran Euro kali ini memang meninggalkan banyak cerita. Mulai dari pertemuan para raksasa sebelum partai final hingga cerita para underdog yang mengejutkan. Bisa dibilang, Euro 2016 adalah salah satu yang meninggalkan banyak kesan untuk saya.
Hal ini mengingatkan saya pada 12 tahun lalu, ketika pertama kalinya saya benar-benar menyaksikan dengan seksama gelaran Piala Eropa. Saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar, ketika menonton sepakbola dengan antusias yang tinggi. Ya ketika saya begitu menggilai yang namanya sepakbola.

Masih segar diingatan ketika Portugal masih didominasi oleh pemain Benfica dan Porto. Namun ketika diperhatikan lagi, entah hanya kebetulan atau tidak, tapi memang banyak kemiripan yang hadir pada tim Portugal 2004 dan 2016 ini.

Wonderkid

Setiap tim yang berlaga di putaran final Piala Eropa tentu memiliki wonderkid, pemain muda dengan talenta mumpuni yang sering digadang-gadang menjadi bintang di masa mendatang. Tahun ini, nama Renato Sanches yang masih berusia 18 tahun berhasil mencuri perhatian khalayak. Kemampuannya dalam menyerang dan bertahan sangat membantu lini tengah Portugal. Kerja kerasnya pun terbayar ketika ia mencetak gol penyama kedudukan saat berhadapan dengan Polandia di perempat final. Berkat gaya permainannya yang bertenaga itulah ia sering dimirip-miripkan dengan Edgar Davids.

Jika di 2016 ada Renato Sanches, 12 tahun lalu Portugal punya Cristiano Ronaldo. Ya, ketika itu pria yang kini menjabat sebagai kapten tim nasional ini masih berusia 19 tahun. Di usia yang muda, penampilannya menarik perhatian meski tak selalu menjadi pilihan utama. Dia juga mencetak dua gol sepanjang turnamen. Namun sayang ia gagal membawa Portugal ke tangga juara meski mencapai partai final ketika itu.

Ya, semoga saja di 12 tahun mendatang, Renato Sanches bisa mengikuti jejak Ronaldo.

Superstar Bernomor Punggung 7

Portugal kini dan 12 tahun lalu punya mega bintang dengan angka 7 di punggungnya, Cristiano Ronaldo dan Luis Figo. Ya keduanya adalah salah satu pesepakbola terbaik Portugal yang pernah ada. Ronaldo dan Figo memang memiliki kemiripan dalam hal bermain. Keduanya memiliki skill dribble di atas rata-rata dan memiliki tendangan yang akurat. Mereka juga memiliki posisi asli sebagai winger, dan juga mematikan saat mengeksekusi bola mati.

Uniknya, baik Ronaldo 2016 dan Figo 2004 sama-sama berusia 31 tahun dan bermain untuk Real Madrid. Bedanya, ketika itu Figo bukanlah kapten utama laiknya Ronaldo. Pada 2004, kapten Portugal adalah Fernando Couto yang bermain untuk kesebelasan Lazio. Sayangnya, Figo (serta Ronaldo) gagal membawa Portugal menjadi juara di 2004 lalu.

Pemain Tertua adalah Pemain Belakang

Ada pemain muda, tentu juga ada pemain yang berusia jauh lebih tua. Ketika bermain di sebuah turnamen, pemain berpengalaman memang dibutuhkan oleh pelatih. Dengan mental yang lebih teruji, tak jarang mereka justru memberi pengaruh yang besar, tak terkecuali dengan Portugal.

Jika membandingkan antara Portugal 2004 dan 2016, mereka memiliki kesamaan pada pemain dengan usia yang paling senior. 12 tahun lalu, Portugal punya Fernando Couto yang juga bertindak sebagai kapten, saat itu usianya telah 34 tahun. Sedangkan di 2016, mereka diperkuat oleh Ricardo Carvalho yang telah menginjak 38 tahun. Uniknya, kedua pemain ini sama-sama berposisi sebagai pemain belakang.

Bisa dibilang, skuad Portugal kali ini memang banyak diperkuat oleh pemain-pemain senior. Tercatat ada total 9 pemain yang usianya telah mencapai kepala tiga, termasuk Ronaldo dan Carvalho. Berbeda dengan Portugal 2004 yang "hanya" punya lima pemain saja.

***

Memang banyak kemiripan yang muncul yang tak disadari antara Portugal kini dan 12 tahun lalu. Setelah saya perhatikan lagi, ada satu lagi kemiripan, tetapi bukan dari tim Portugal. Yaitu, saya pribadi menyaksikan Euro 2016 seperti Euro 2004. Menonton sepakbola dengan antusias yang tinggi bagai awal "kegilaan" saya pada sepakbola, hehe.

Tuesday, May 3, 2016

Ini Mancini apa Ranieri ya?

Sumber Gambar: express.co.uk
Iri rasanya melihat Leicester berhasil menjuarai Liga Inggris musim ini. Ya, siapa pun pasti iri melihatnya. Tanpa pemain bintang apalagi diunggulkan untuk merangsek ke papan atas, tim asuhan Claudio Ranieri ini berhasil mematahkan segala dugaan dan prediksi untuk siapa yang merajai sepakbola Inggris.

Tentu siapapun pasti sudah tahu bagaimana kisah sukses Leicester. Dari segala aspek yang telah dibahas banyak orang, saya rasa Ranieri pantas diberi kredit lebih. Salah satu kunci keberhasilan Leicester adalah mereka mampu menjaga konsistensi sejak awal musim.

Sebagai seorang pelatih yang terkenal gemar menggonta-ganti susunan pemain dan formasi, memiliki ‘winning team’ adalah suatu terobosan yang besar bagi seorang Claudio Ranieri. Mungkin memang hal inilah yang diperlukannya sejak lama. Cara ini sebenarnya telah dibuktikan oleh beberapa pelatih, sebut saja Carlo Ancelotti dan Jose Mourinho saat menukangi Milan dan Inter, mereka bahkan berhasil menjuarai Liga Champions.

Berbicara masalah konsistensi, kebetulan tim idola saya bermasalah dengan hal yang satu ini bahkan sejak beberapa tahun ke belakang. Ya, tim itu adalah Inter yang saat ini masih diasuh oleh Roberto Mancini.

Jika mengingat kembali, Inter juga dikenal gemar ‘merotasi’ pelatihnya. Terhitung ada tujuh nama yang menukangi Inter selepas kepergian Mourinho ke Real Madrid. Bahkan beberapa di antaranya dipecat pada pertengahan musim. Mereka adalah Rafael Benitez, Gianpiero Gasperini, Walter Mazzarri, dan Claudio Ranieri.

Sebagai tim yang sering berganti pelatih, wajar jika para performa pemain akan terpengaruh. Lihatlah nama-nama tadi, mereka memiliki gaya bermain yang berbeda-beda. Bahkan untuk Gasperini dan Mazzarri, yang sama-sama menggunakan formasi dasar dengan tiga pemain belakang, juga menerapkan permainan yang berbeda. Apalagi dengan Ranieri yang kerap berganti formasi dan juga pemain inti.

Sayangnya, kesalahan Ranieri di masa lalu seolah diulangi oleh Roberto Mancini. Tercatat, total Inter telah menerapkan tujuh formasi yang berbeda. Dengan pergantian formasi, pemain pun terpaksa dirotasi untuk memenuhi kebutuhan. Alhasil Inter yang sempat memuncaki klasemen hingga pertengahan musim harus puas tergusur hingga sekarang stabil (baca:mentok) berada di posisi keempat.

Coba kita lihat, dari total 26 pemain yang pernah diturunkan Mancini, yang paling sering menjadi starter adalah Samir Handanovic (35 kali), Jeison Murillo (31), Mauro Icardi (31), dan Miranda (30). Sisanya tidak/belum menyentuh 30 kali starter. Rotasi pemain ini hampir tak menyentuh bagian jantung pertahanan dan ujung tombak. Artinya, lini tengah memang menjadi bagian yang paling sering dibongkar pasang.

Uniknya, formasi apapun yang digunakan oleh Mancini, Inter tetap tampil dengan ciri khas, yaitu dengan mengandalkan penguasaan bola serta umpan-umpan pendek. Namun penyelesaian akhir Inter masih jauh dari kata memuaskan.

Jika dibandingkan dengan tim yang berada di lima peringkat teratas saat ini, baik dari jumlah gol, assist, dan umpan kunci, Inter menjadi yang terlemah. Ya bahkan kalah dari Fiorentina yang duduk satu peringkat di bawah Inter. Kita juga tahu di awal musim, Nerazurri meski sering menang tapi hanya menghasilkan skor tipis 1-0 saja. Saya ragu tumpulnya lini serang Inter apakah karena lini tengah mereka yang kurang mendukung atau sebaliknya, ini karena Mancini yang sering mengganti formasi.

****

Leicester adalah salah satu contoh bahwa sukses akan hadir dari konsistensi. Jika Mancini ingin kembali berjaya, maka menjaga konsistensi adalah suatu kewajiban. Dengan formasi 4-2-3-1 yang dalam beberapa pertandingan terakhir digunakan, rasanya ini bisa menjadi modal untuk di musim depan. Pondasi pun telah terbangun dari Handanovic, Murillo, Miranda, dan Icardi. Ditambah lagi dengan trio balkan, Perisic, Brozovic, dan Ljajic yang menjadi semakin padu, rasanya sudah cukup terbentuk sebuah tim yang kuat.

Namun kuat saja tak cukup jika menjadi tim yang inkonsisten. Kalau tak percaya, coba tanya Chelsea atau Liverpool juga boleh.

Saturday, November 14, 2015

Hilang Tujuan Menulis


Sumber Gambar: wikimedia.org


Menulis itu bagaikan sebuah terapi bagi saya pribadi. Ada rasa lega di hati setelah menyelesaikan sebuah tulisan. Baik itu yang menyangkut pribadi atau hal-hal yang disukai. Namun, beberapa bulan terakhir ini rasa itu seakan terkikis sedikit demi sedikit. Saya merasa kehilangan gairah untuk menulis.

Bisa dibilang blog ini hampir tak pernah disentuh. Kalaupun ada kesempatan paling hanya memeriksa beranda dan melihat sekilas saja. Keinginan untuk membuat postingan baru semakin berkurang dari hari ke hari. Bahkan lebih parah, sekedar membuat draft atau catatan kecil saja tidak.

Meski blog ini miskin tulisan, saya tetap menulis sebenarnya. Hanya saja itu untuk blog lain yang dibentuk bersama teman-teman. Namun balik lagi, yang terasa begitu berbeda ketika menulis di blog.

Pemikiran ini sudah mengusik sejak lama. Seakan-akan ada yang selalu berbisik dan bertanya mengapa hal ini terjadi. Akhirnya tanpa kesengajaan, saya mulai menyadari sedikit demi sedikit penyebabnya.

Awalnya saya mengira jika rasa ini terhalang oleh kegiatan sehari-hari yang masih berkutat dengan perkuliahan dan skripsi. Namun ketika mengingat kembali ternyata tidak juga. Toh sejak masih kuliah dengan jadwal yang padat pun, saya tetap bisa menulis dengan senang hati.

Apakah ini akibat terlalu fokus pada blog yang dibuat bersama itu? Bisa jadi. Karena ketika membandingkan tulisan saya di sini dan di blog lainnya, ada perbedaan jelas. Seperti melihat karya dari dua orang yang berbeda, jelas sekali.

Perubahan Tujuan Menulis

Tujuan awal saya membuat blog ini adalah sekedar melampiaskan apa yang ada di otak saya saja. Hanya untuk bersenang ria kasarnya. Akhirnya banyak tulisan yang dihasilkan pun dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Namun lama kelamaan tujuan ini bergeser ke arah yang lain. Saya mulai ikut-ikutan menulis tentang sepakbola dan film seperti jurnalis-jurnalis situs portal berita yang sudah terkenal. Tak ada salahnya memang, lagipula film dan sepakbola memang saya sukai kok.

Yang tak disadari adalah saya seolah ingin terlihat keren dan berbeda. Ya, menulis layaknya jurnalis bukan penulis blog pribadi. Akibatnya jauh dari kata jujur dan sederhana, seperti yang selalu saya coba terapkan dalam setiap tulisan.

Belum lagi dengan keinginan akan peningkatan pengunjung blog. Ya wajar sih ya, sebagai pemilik blog pastilah kita ingin pembaca terus bertambah. Jadi terkadang saya malah terlalu asik mempelajari bagaimana meraih jumlah pengunjung dibanding menulis.

Akibat dari semua pergeseran tujuan menulis saya di atas bisa dilihat dari tulisan-tulisan saya. Tak konsisten dan tak ada ciri khas. Kadang tulisan saya bagus dan enak dibaca, di lain waktu ya hanya biasa saja. Saya akui itu.

Terulang Setiap Hari
  
Pada awal saya mulai ikut bergabung dalam blog yang dibangun teman, ya tujuannya hanya untuk bersenang-senang saja. Oh ya, blog yang dimaksud membahas tentang film. Tadinya bagi saya, film dan menulis tak pernah bersatu. Saya hanyalah orang yang hobi menonton film dan kadang menulis. Hanya itu.

Namun sejak bergabung, saya jadi mulai menulis tentang film. Membuat review dan tulisan-tulisan yang lebih mendalam. Menyenangkan memang, hingga akhirnya blog ini berubah ke arah yang lebih ambisius.

Kita berusaha untuk menjadi yang terdepan. Bagus memang, sayangnya kesalahan yang telah saya lakukan malah terulang di blog itu, setiap hari. Dari blog yang memberi beragam opini perlahan menjadi pemberi berita. Ya, tak punya ciri khas tertentu. Membuat saya mempertanyakan kembali apa tujuan saya bergabung.

Saya juga bersalah karena tak berusaha melepaskan diri dari lubang yang sama. Bisa dibilang ini terulang setiap hari, membuat saya menjadi bosan menulis.

***
Tulisan ini saya buat sebagai rasa penyesalan terhadap kesalahan yang saya buat. Dan juga sebagai pengingat agar selalu ingat tujuan kita menulis. Meski tulisan yang dibuat tak banyak, setidaknya saya harus bisa kembali sederhana dan lebih jujur.

Postingan Populer