Thursday, January 29, 2015

Romantis


Romantis. Kata yang sering terucap jika berbicara tentang cinta. Kata romantis memang terasa dekat dengan yang namanya cinta. Dua hal ini selalu saja dikait-kaitkan satu sama lain. Di dalam suatu hubungan, memang dibutuhkan sentuhan romantisme. Tujuannya sih baik, untuk menjaga keutuhan dan mencegah kebosanan dari jenuhnya sebuah pasangan. Benarkah?

Sebelum berbicara lebih jauh, mari kita coba mengerti apa itu romantis. Menurut KBBI, romantis adalah kata yang ditujukan kepada hal-hal bersifat mesra, mengasyikan, dan juga seperti pada cerita percintaan (roman). Sebenarnya, arti romantis lebih daripada sekedar percintaan. Karena kata romantis berawal dari istilah yang mengacu kepada sebuah gaya menulis, berbicara, dan artistik. Sebelum dikembangkan lebih jauh menjadi sesuatu yang berhubungan dengan perkawinan dan erotisme. Hingga sekarang lebih menuju kepada percintaan.

Berbicara tentang romantis dan percintaan, saya teringat kalimat pacar yang sering terucap dari mulutnya. “Kamu ih, gak romantis banget. Gak so sweet”. Ya, bisa dibilang jika dibandingkan dengan kebanyakan pria lain saya memang kurang romantis, setidaknya di mata pacar. Awalnya sih cuek saja, namun lama kelamaan gerah juga mendengar kalimat itu berkali-kali.


Saya pun mulai berpikir, “Apa iya gak romantis?”. Kalau diingat-ingat kembali, ya kurang lebih hal-hal berbau mesra dan romantis itu tentu saja saya lakukan. Walau sederhana, seperti memberi bunga atau kejutan-kejutan kecil lainnya. Namun, tetap saja kalimat itu kadang terucap kembali. Aneh.


Dari situ mulailah ide untuk mencari sebab mengapa si pacar sering mengucapkan kalimat itu. Hal yang mudah tentunya, karena setiap hari kita berkomunikasi secara intens walau jarang bertemu langsung. Saya mulai lebih memperhatikan kebiasaannya, kesehariannya, dan lingkungan sekitarnya. Ada satu kebiasaannya yang mulai mengganggu saya, keranjingan serial drama Korea.


Merasa terganggu, karena dia sering mengucapkan kalimat itu adalah ketika usai menonton serial drama Korea. Ya, yang notabene memang menonjolkan sisi romantisme dalam alur ceritanya. Saya mulai berpikir ini berpengaruh besar terhadap penilaian romantisme saya.


Karena penasaran, saya coba menonton beberapa judul serial dan film nya. Dari situ, walau ceritanya berbeda-beda namun ada satu kesamaan yang saya dapat, para pria lebih banyak melakukan hal-hal yang sebenarnya sepele. Seperti memberi jaket ketika kehujanan atau menggandeng tangan saat berjalan serta masih banyak yang lain. Lebih kepada sifat perhatian sebenarnya, bukan kepada hal yang mewah seperti makan malam di restoran elit misalnya.


Akhirnya, saya putuskan untuk mencoba melakukan hal-hal kecil itu. Saya ajak dia untuk jalan dan menonton film Big Hero 6. Dimulai dari saat perjalanan pergi hingga pulang dipenuhi dengan obrolan-obrolan yang lebih perhatian. Nyatanya memang berhasil, si pacar pun bilang “Makasih ya, kamu tumben baik banget hari ini”.


Tiba-tiba saya teringat perkataan komedian Pandji Pragiwaksono dalam sebuah bit-nya yang menyatakan bahwa wanita lebih suka diperhatikan dibanding disanjung. Saya benar-benar mengerti apa artinya sejak saat itu. Tapi ada yang mengganjal, bagaimana dengan apresiasi seperti memberi bunga dan lain sebagainya?


Jika diperhatikan memang ada tipe pria yang senang memberi bunga dan sebagainya. Dan, pria yang tak seperti itu. Saya memang bukan tipe pria yang suka memberi bunga. Tepatnya, lebih menyukai untuk memberi yang lebih berarti atau bermanfaat. Bahkan seorang teman lama pernah berkata, “Lo harus diajarin masalah percintaan nih, kaku banget. Lo juga jangan sering cemburu lah, buat apa sih”.


Bukan salah saya jika teman lama ini berkata seperti itu. Setidaknya itulah yang tergambar dari sudut pandang dirinya. Tentu saja saya tak setuju karena kita memiliki pemikiran yang berbeda. Sering terpikir, untuk apa kita sering-sering memberi bunga kalau nantinya hubungannya tak berjalan mulus.


Untuk masalah kecemburuan, saya pikir ini adalah sisi paling menarik dalam sebuah hubungan. Rasa cemburu memang selalu hadir. Bagi saya, cemburu wajib ada di setiap percintaan. Karena cemburu adalah sebuah bukti kita menyayangi sesuatu. Walau memang jika berlebihan akan berujung kerusakan. Ah, bukankah cemburu itu begitu romantis bukan?


Dari situ, saya bisa mengambil kesimpulan. Mungkin ini akan menenangkan para hati wanita yang bingung dengan romantisme pasangannya. Jadi, percayalah setiap pria adalah orang yang romantis. Hanya pendekatan dan penyampaiannya saja yang berbeda-beda. Tinggal bagaimana kalian para wanita untuk memahaminya. Dan lagi, yang terpenting adalah cinta. Karena yang namanya cinta, romantisme akan muncul dengan sendirnya. Belum tentu berlaku jika sebaliknya.


Oh iya, waktu itu ketika saya memberi bunga, si pacar bilang, “Makasih ya, kamu sering-sering ya kayak gini”. Saya jawab, “Enggak ah, kalau sering-sering nanti bosan. Sesuatu yang berlebihan kan gak baik”. Dia pun hanya tersenyum kecut.

Friday, January 2, 2015

Malam Tahun Baru

Suara-suara ledakan khas dari kembang api mulai sayup-sayup terdengar beberapa saat setelah adzan isya berkumandang. Dari jendela kamar, terlihat orang-orang mulai menyiapkan kendaraannya. Dengan berpenampilan lebih rapi dibanding biasa yang saya lihat, sesekali mengecek semua persiapan sebelum meluncur ke tempat tujuan. Mereka siap untuk bersukacita merayakan tahun baru.

Malam tahun baru memang menyenangkan. Jarang sekali melihat malam yang lebih ramai. Lebih dari itu, mayoritas manusia di Bumi pun turut serta merayakannya. Antusiasme menyambut tahun baru yang akan segera datang. Entahlah, saya hanya suka melihat kejadian yang jarang ditemui sehari-hari.

Begitu pun dengan saya yang bersiap berjumpa teman-teman lama. Ya, tak ada pesta mewah hanya berkumpul seperti biasa. Meluangkan waktu, berbagi cerita, dan bercanda sebagaimana yang selalu kita lakukan setiap hari dulu. Kami hanya sekedar duduk-duduk dengan ditemani beberapa gelas kopi hangat dan sebungkus rokok di depan sebuah ruko. Ya, tempat yang sama selama bertahun-tahun untuk berkumpul.

Di sana tak ada apa-apa, hanya sebuah warung kecil yang menemani hingga larut malam. Sambil sesekali melihat kembang api dinyalakan, sudah cukup puas untuk kita. Walau terlihat sederhana, ada satu yang membuat ini sedikit spesial, waktu.

Di dunia ini, apalah yang lebih berharga dari waktu. Waktu tak bisa diputar kembali. Di tengah-tengah kesibukannya masing-masing, mereka masih bisa menyisihkan waktu untuk kembali berkumpul bersama. Kalau diingat, meski kita berasal dari kota Bogor, hanya saya yang melanjutkan studi di kota ini. Jadi bisa dibilang, untuk berkumpul hanya pada saat-saat seperti ini. Liburan di kampung halaman.

Pukul dua pagi kita memutuskan untuk pulang dan beristirahat. Sambil merebahkan diri dan mencoba menikmati suasana dingin dini hari, saya membuka beberapa media sosial. Banyak yang mulai melihat refleksi mereka di tahun lalu. Apa yang terjadi, apa yang sudah dilakukan, apa yang terlewatkan, dan masih banyak pengalaman lainnya. Resolusi pun mulai bermunculan terdengar di telinga. Kita hanya bisa berharap semua bisa terlaksana.

Sebelum terlelap, ada satu resolusi yang lebih kepada harapan. Semoga saya dan teman-teman lama ini bisa selalu dipertemukan kembali di tahun-tahun berikutnya. Amin.

Thursday, December 18, 2014

Arrow: Drama dengan Bumbu Superhero

Jika diperhatikan tiap tahun sepertinya semakin banyak film-film yang bertema superhero. Sebagian dikenal dari DC dan Marvell, dua penerbit buku komik terbesar di dunia. Kita sudah mengenal baik pastinya dengan nama-nama seperti Superman, Batman, Captain America, Hulk, Iron Man, dan banyak lainnya. Diantara semua itu karakter Marvell memang lebih banyak diadaptasi ke layar lebar. Apalagi dengan keberhasilan The Avengers dan X-Men beserta sekuelnya, bisa jadi nama Marvell akan semakin dikenal ketimbang DC.

Tidak, di sini saya tak ingin membahas persaingan Marvell dan DC. Toh, itu hanyalah kepopuleran dan selera saja. Saya yakin masih banyak yang sabar menunggu karakter-karakter superhero DC hadir di film-film layar lebar. Oh ya, ngomong-ngomong ada yang kenal dengan Green Arrow?

Nama yang asing, memang Green Arrow bukanlah superhero yang terkenal. Hanya beberapa saja mungkin yang pernah mendengar namanya. Meski begitu, dia juga salah satu karakter dari dunia komik DC. Jangankan bersaing dengan nama-nama seperti Iron Man dan Captain America, di dunia DC sendiri pamornya kalah jauh dengan Superman dan Batman.

Walau Green Arrow kurang dikenal masyarakat, tak menghalangi Marc Guggenheim, Greg Berlanti, dan Andrew Kreisberg membuat serial Arrow. Sebuah serial yang diadaptasi dari tokoh Green Arrow yang tayang sejak 2012. Arrow sudah berjalan hingga season ketiga yang berlangsung hingga tahun depan. Dan sepertinya akan berlanjut hingga season berikutnya.

Sumber Gambar: (www.imdb.com)

Arrow bercerita tentang Oliver Queen (Stephen Amell), playboy kaya raya yang kembali ke Starling City setelah lima tahun sebelumnya dinyatakan tewas di kecelakaan kapal pesiar bersama ayahnya. Dirinya terdampar di sebuah pulau bernama Lian Yu di perairan utara Tiongkok. Di sanalah dia mendapatkan keahlian menggunakan busur panah dan bela diri. Kekuatan yang digunakan untuk membasmi kejahatan sebagai Green Arrow.

Oliver tak sendiri dalam membasmi kriminalitas di Starling City. Ada John Diggle (David Ramsey), veteran perang dan kepala kemanan keluarga Queen serta Felicity Smoak (Emily Bett), ahli teknologi yang bekerja di Queen Consolidated, perusahaan milik keluarga Queen. Ada juga Roy Harper (Colton Haynes) sebagai Arsenal, tangan kanan Green Arrow.

Usaha Guggenheim, Berlanti, dan Kreisberg patut diberi apresiasi. Karena, serial ini memiliki jalan cerita menarik serta fokus utamanya adalah di drama, tak melulu urusan superhero. Bisa dibilang Arrow adalah serial drama yang dibumbui dengan hal superhero, bukan sebaliknya. Seperti kisah konflik di antara Oliver dengan ibunya Moira Queen (Susanna Thompson) dan juga adik perempuannya Thea Queen (Willa Holland) yang cukup kompleks. Serta tentu saja kisah cintanya dengan Laurel Lance (Katie Cassidy) dan beberapa wanita lainnya yang membuat serial ini lebih hidup.

Walau begitu Arrow bukannya berjalan tanpa cela. Di beberapa episode misalnya, ada beberapa dialog yang agak berlebihan dan jauh dari kehidupan sehari-hari. Arrow memang menyajikan dua plot cerita yang berjalan beriringan, plot masa sekarang dan plot flashback tentang Oliver. Menarik memang, namun terkadang plot flashback ini diberi peran yang terlalu banyak sehingga seolah-olah menghambat jalannya cerita.

Dengan semua keunggulan seperti plot cerita yang kuat, menarik, serta pendalaman karakter yang semakin hari semakin baik saya yakin Arrow adalah salah satu serial yang bagus. Ditambah dengan munculnya musuh-musuh besar di dunia DC seperti Deadshot, Deathstroke, dan R'as Al Ghul serta superhero lain seperti The Flash dan Atom memang menjadi daya tarik tambahan, terutama bagi yang menggilai komik DC.

Selama serial ini bisa memberikan drama yang menarik dengan jalan cerita yang kuat, bukan tak mungkin serial Arrow akan berlangsung hingga Green Arrow generasi kedua. Hanya, berilah kesempatan dan nikmati pertunjukannya.

Tuesday, November 25, 2014

Review Milan 1 vs 1 Inter: Minimnya Kreativitas Lapangan Tengah

Publik San Siro tiba-tiba bergemuruh saat pertandingan memasuki menit ke 23. Pemain-pemain Milan merayakan gol cantik Jeremy Menez. Sang allenatore anyar Inter, Roberto Mancini pun mulai memberi instruksi kepada pemain-pemainnya. Gol balasan Inter baru tercipta di menit ke-61 lewat sepakan Joel Obi. Pertandingan berlangsung seru hingga menit akhir, walau begitu hasil ini cukup realistis dan memuaskan untuk debut Roberto Mancini.

Kebobolan di menit-menit awal menandakan kelemahan Inter di musim ini belum hilang. Pertahanan Il Nerazurri memang rentan kebobolan di musim ini. Salah satu pekerjaan besar untuk Mancini jika ingin membawa Inter melaju lebih tinggi.

Sumber: www.whoscored.com

Inter memulai pertandingan dengan formasi 4-3-1-2. Dengan menempatkan Mateo Kovacic berdiri di antara Icardi dan Palacio terlihat permainan Inter akan terpusat padanya. Namun hingga babak kedua bola lebih sering diberi ke sisi kanan di mana Guarin yang menjadi tonggak serangan Inter. Kovacic sendiri bermain lebih melebar ke sisi kiri di belakang Icardi. Penyebabnya adalah dua gelandang Milan, Muntari dan Essien yang selalu menjaga kedalaman pertahanan dan menyulitkan Inter untuk menyerang dari tengah lapangan.

Biru: Milan; Oranye: Inter
Sumber: www.whoscored.com

Grafis di atas menunjukkan bahwa Mancini berupaya untuk menekan daya serang Milan dari trio El Sharaawy, Menez, dan Bonaventura. Terlihat beberapa kali Muntari dan Sciglio kewalahan mengatasi gempuran Guarin, Palacio, dan Yuto Nagatomo. Namun kurangnya tekanan dari Kovacic dan Obi hanya meninggalkan Icardi sendirian di depan. Umpan-umpan silang juga mudah terbaca oleh Diego Lopez.

Lini Tengah Inter Minim Kreativitas

Empat pemain tengah yang dipasang sejak awal tak kunjung memberi dukungan berarti untuk Icardi. Padahal Inter lebih banyak menguasai bola ketimbang Milan. Parktis hanya Guarin yang memberi perbedaan. Absennya Gary Medel memaksa Mancini memasang Kuzmanovic sebagai gelandang bertahan. Penampilan Zdravko terbilang cukup memuaskan namun aksinya yang memilih bermain aman menimbulkan kekecewaan.
Grafis Umpan Zdravko Kuzmanovic
(Sumber: www.squawka.com)

Dari data yang dimuat whoscored.com menunjukkan bahwa Kuzmanovic adalah pemain yang paling sering menyentuh bola di pertandingan ini. Dengan total 94 sentuhan dan 83 operan sudah menjadi bukti bahwa permainan Inter berpusat di Kuzmanovic bukan pada Kovacic. Jika melihat grafis di atas, Kuzmanovic banyak melakukan operan-operan pendek di sekitar posisinya saja. Dan lebih sering mengoper ke sisi kanan Inter, kepada Guarin, Palacio, atau Nagatomo. Tapi tak ada satu pun key passes. Ya peran besar dirinya tak diiringi oleh visi permainan yang baik. Walau seingat saya, ini salah satu penampilan terbaiknya jika ditempatkan sebagai gelandang bertahan.

Dua pemain lainnya, Joel Obi dan Kovacic memiliki peran yang sangat minim hingga babak pertama usai. Sebelum mencetak gol, Obi hampir tak terlihat sepanjang permainan. Pergerakan Essien yang bergantian menutup jalur operan terhadap dirinya dan Kovacic memang mematikan lini tengah Inter. Kovacic sendiri perannya mulai terlihat ketika Hernanes masuk.

Dengan masuknya Hernanes, Kovacic bermain lebih melebar mendekati Dodo untuk menyerang dari sisi kiri. Hernanes pun memberi opsi serangan dari tengah lapangan, membuat serangan Inter lebih variatif. Tapi Milan yang sudah nyaman dalam bertahan tak kesulitan untuk mengantisipasi serangan Inter yang kurang kreativitas.

Pertahanan yang Masih Rentan

Mancini menerapkan kembali pola 4 bek di Inter. Dodo dan Nagatomo kembali berperan sebagai fullback dan dua bek tengah pilihan jatuh kepada Juan Jesus dan Andrea Ranocchia ketimbang Nemanja Vidic. Selain penampilan yang tak konsisten, Vidic adalah bek bertipe lambat seperti Ranocchia. Terlalu beresiko jika mencadangkan kapten atau memasang kedua bek lambat, keputusan yang bisa diterima.

Di babak pertama Milan mendominasi serangan. Inter yang sering menyerang lewat sisi kanan memaksa Nagatomo untuk maju ke depan membantu Guarin dan Palacio. Namun pos yang ditinggal Nagatomo tidak diiringi koordinasi yang baik di lini belakang. Saat gol Menez tercipta, di kotak penalti hanya menyisakan Dodo.

Lemahnya reaksi saat transisi dari menyerang ke bertahan terlihat pada keputusan Ranocchia dan Juan Jesus yang melakukan tekanan saat tiga pemain Milan sedang berlari ke arah kotak penalti. Hasilnya pun nihil, bola berhasil diberikan kepada El Sharaawy dan dioper ke Menez yang berbuah gol. Bahkan beberapa kali Milan mendapatkan kesempatan emas dari Giacomo Bonaventura dan El Sharaawy di babak kedua. Beruntung kedua kesempatan gagal dikonversi menjadi gol.

Kesimpulan
 
Menempatkan Kuzmanovic sebagai gelandang bertahan cukup baik dalam membantu pertahanan. Walaupun dirinya masih canggung berada di posisi tersebut. Terhitung dari 12 pertandingan Inter telah kebobolan 15 kali. Dengan rataan kemasukan yang besar, mantan pelatih Galatasaray ini harus bekerja ekstra keras. Terutama giornata selanjutnya Inter harus berhadapan dengan Roma yang sedang dalam performa terbaiknya. Satu keuntungan besar jika Mancini kembali menerapkan pola seperti lawan Milan ini sambil berharap Gary Medel bisa tampil kembali.

Thursday, October 30, 2014

Sepakbola Gajah: Cerminan Krisis Harga Diri Bangsa




sumber gambar: (www.mbahwo.com)


Akuilah bangsa ini sedang dibanjiri oleh semangat untuk menjadi lebih baik. Dimulai dari pelantikan presiden ketujuh, Joko Widodo atau yang lebih dikenal dengan Jokowi disambut dengan antusias yang tinggi oleh masyarakat. Sebuah harapan baru untuk bangkit dari keterpurukan dan menjadi lebih baik di mata dunia kembali ditunjukkan bangsa ini. Kabinet pun telah terbentuk dan kembali menimbulkan optimisme dari masyarakat. Walaupun tetap ada yang mengkritik beberapa keputusan presiden ini. Tapi tak apalah toh kritik itu hal yang wajib ada.

Mungkin paragraf di atas terlalu mengada-ada tapi setidaknya itulah yang terasa dari lingkungan saya. Keluarga, rekan, dan sahabat-sahabat pun ikut terbawa dalam rasa optimis bahwa bangsa ini akan semakin maju. Apalagi kemarin 28 Oktober kita memperingati Sumpah Pemuda, salah satu tonggak pergerakan kemerdekaan Indonesia. Seolah-olah kita kembali disentil untuk kembali membawa semangat para pemuda pejuang kemerdekaan di dalam hidup kita. Tujuannya hanya satu, kebanggaan bangsa Indonesia.

Dalam gelora semangat untuk berkarya dan memajukan bangsa ini, ada satu peristiwa menjijikan. Sayangnya ini terjadi di dalam suatu olahraga yang begitu dicintai mayoritas penduduk negeri ini, sepakbola. Ya, Sepakbola Gajah yang berujung dengan terciptanya 5 gol bunuh diri dalam laga Divisi Utama antara PSS Sleman vs PSIS Semarang.

Bagi yang belum tahu, istilah sepakbola gajah mengacu pada pengaturan skor sebuah pertandingan. Laiknya para gajah yang bermain bola dengan skor yang sudah disusun oleh para pawangnya sebelum bertanding. Sebenarnya di Indonesia sendiri tragedi PSS vs PSIS ini bukan yang pertama dalam sejarah. Bahkan ketika saya membaca-baca tentang skandal pengaturan skor ini telah terjadi sejak zaman Perserikatan, jauh sebelum ISL bergulir.

Tepatnya pada 1988 saat Persebaya sengaja mengalah dengan skor 0-12 dari Persipura. Dengan niat menjegal langkah PSIS sebagai bentuk balas dendam sebagai penyebab mereka gagal lolos ke babak 6 besar. Absurd.

Sebenarnya, di level klub Divisi Utama ini banyak terjadi kecurangan yang tak jelas asal-usulnya. Salah satunya adalah menang dengan cara WO (Walk Out). Memang saya tidak mengikuti secara rutin tentang Divisi Utama, ya hanya sebatas berita tentang klub di kota saya, Persikabo. Saya sering melihat berita tentang lawan-lawan satu grup lainnya pernah menang secara WO. Entah apa alasannya, apakah itu kendala segi ekonomi klub ataupun masalah keamanan. Dan satu lagi kemungkinan yang paling mengkhawatirkan adalah pengaturan skor. Tak jarang para klub seperti main mata untung kepentingan masing-masing.

Sepakbola gajah ini bahkan menggerogoti hingga ke tim nasional kita. Masih ingat ketika Piala Tiger 1998 di Vietnam. Seorang pemain Indonesia bernama Mursyid Effendi mencetak gol untuk membantu kemenangan untuk Thailand 3-2 untuk menghindari bertemu tuan rumah Vietnam di semifinal. Kejadian ini berujung hukuman seumur hidup dari sepakbola untuk Mursyid Effendi. Walaupun pada akhirnya Singapura lah yang menjadi juara bukan Vietnam yang begitu ditakutkan hingga rela menjatuhkan martabat negara.

Ada satu lagi yang menyita perhatian saat Indonesia kalah dari Bahrain 0-10. Saat itu Indonesia sudah dipastikan tak akan lolos dari grup. Sedangkan Bahrain harus mengejar selisih 9 gol jika ingin lolos. Benar atau tidaknya pernyataan AFC yang menjamin bahwa pertandingan tersebut bebas dari konspirasi dan pengaturan skor tetap saja ini sangat menggelikan.

Apa yang salah dengan sepakbola Indonesia ini? Bukankah ratusan juta jiwa ini begitu mencintainya. Mengapa kita sangat sulit untuk berkembang selama berpuluh-puluh tahun ini. Di masa penuh dengan teknologi dan informasi ini pun masih ada saja yang menunjukkan sikap konyol seperti PSS dan PSIS lakukan. Jika kita mengingat-ingat PSS dan PSIS adalah klub yang memiliki sejarah panjang di pesepakbolaan Indonesia. Serendah itukah harga diri mereka yang rela manjatuhkan martabat klub yang tak akan bisa dihapus selama-lamanya? Apalagi media-media asing pun telah memuat berita konyol ini. Menyedihkan.

Berbicara tentang harga diri, mungkin tak hanya PSS atau PSIS saja yang harus kita pertanyakan. Tapi juga kepada seluruh bangsa ini. Bayangkan para pejuang kemerdekaan kita dulu yang rela berkorban habis-habisan demi Indonesia yang merdeka. Atau para tokoh-tokoh dunia yang harus meregang nyawa demi idealisme dan harga diri mereka yang tinggi. Apakah kita memang tak memiliki harga diri yang tinggi? Ya tak harus bertindak ekstrem seperti Samurai di Jepang dulu. Tapi cukup dengan bertindak dengan berjuang menjaga segala yang kita miliki dan meraih apa yang kita butuhkan. Bukan dengan menyerahkannya begitu saja dengan berkhianat yang dimulai dari diri sendiri.

Apa tak bosan dengan isu-isu campur tangan pihak asing dari sumber daya alam hingga jalannya pemerintahan. Berhentilah memalukan diri sendiri dan negara. Saya yakin jika kita memiliki harga diri yang tinggi, Indonesia sudah menjadi negara yang sangat maju. Termasuk dari bidang olahraga terutama sepakbola tercinta ini.

Memang masa sekarang sudah berbeda dengan dulu, tapi tetap ada satu yang akan tetap sama. Yaitu para pengecut dan pengkhianat yang selalu hilang dari buku sejarah. Semoga dengan peristiwa menjijikan ini, hal itu bisa berubah agar kita belajar untuk menghargai diri sendiri dan tak mempermalukan diri di hadapan negara lain.

Postingan Populer