Saturday, January 27, 2018

Rafinha: Optimisme dan Kekhawatiran Baru Inter


Sumber: @Inter_en (Twitter)

Geliat Inter di bursa transfer Januari ternyata belum berhenti. Setelah berhasil mendapatkan Lisandro López dari Benfica, Nerazurri berhasil mendapatkan satu pemain lagi. Dia adalah Rafinha Alcantara, pemain berusia 24 tahun yang dipinjam dari Barcelona.

Bila melihat rekam jejaknya bersama Barcelona, wajar jika banyak yang optimis dengan kedatangan pria kelahiran Sao Paulo ini. Nama Rafinha mulai dikenal ketika bermain sebagai pemain pinjaman di Celta Vigo pada 2013. Lalu di musim berikutnya, dia kembali ke Barcelona dan menjadi bagian tim yang berhasil merengkuh treble winners di bawah asuhan Luis Enrique.

Kini di tahun 2018, Rafinha memutuskan untuk bergabung bersama Nerazzurri meski hanya berstatus pinjaman. Selain menimbulkan optimisme bagi para Interisti, kedatangan Rafinha juga menuai kekhawatiran tersendiri.

Menambah Daya Gedor dari Lini Tengah

Selain masalah kedalaman skuat, masalah Inter di musim ini adalah minimnya alternatif strategi dalam menyerang. Memang bila dilihat secara statistik tidak terlalu buruk, karena sejauh ini mereka berhasil menyarangkan total 36 gol. Namun bila dilihat dari segi permainan, bisa dibilang bahwa Inter terlalu bergantung pada kedua penyerang sayapnya, Perisic dan Candreva.

Ketergantungan itu membuat Inter terlalu mudah dibaca permainannya. Belum lagi bila Perisic atau Candreva gagal tampil secara maksimal, praktis Inter kesulitan dalam mencetak gol. Ini jugalah yang menjadi alasan mengapa Inter gagal menang di enam pertandingan terakhir.

Masalah itu diperparah dengan minimnya daya gedor dari lini tengah. Bila dilihat dari materi pemain, sebenarnya Inter punya dua nama yang bisa menambal kekurangan itu, Joao Mario dan Marcelo Brozovic. Namun sayangnya, kedua pemain tersebut gagal menampilkan performa seperti yang diharapkan. Bahkan Mario pun akhirnya dilego ke West Ham United dengan status pinjaman.

Sumber: @Inter_en (Twitter)

Tak heran bila Spalletti pun cenderung mempertahankan kombinasi Gagliardini-Vecino-Valero di lini tengah. Sisi positifnya, Inter terlihat solid di lini tengah, terutama dalam membantu pertahanan dan menguasai bola. Namun mereka kurang bisa diandalkan bila kedua winger menemui kebuntuan.

Rafinha tentu menjadi sosok yang diharapkan menambal kekurangan Inter tersebut. Dibanding dengan gelandang Inter lainnya, Rafinha jauh lebih agresif dalam menyerang. Dia punya kecepatan dan kemampuan dribel yang mumpuni. Bahkan ketika di Celta Vigo, Rafinha berhasil menorehkan catatan 2,3 dribel sukses per pertandingan.

Selain itu, Rafinha juga memiliki akurasi umpan yang baik. Di musim terbaiknya bersama Barcelona, catatannya bahkan mencapai rataan 91,8%. Artinya, Rafinha juga bisa diandalkan untuk menjaga penguasaan bola di lini tengah.



Jika Spalletti menampilkan Rafinha di lini tengah, kemungkinan besar dia akan menggeser salah satu dari Gagliardini atau Vecino dan bermain dengan satu gelandang bertahan. Hadirnya Rafinha juga memudahkan Valero dalam mengontrol permainan, terutama dalam menyerang. Sebagai playmaker, kini Valero punya alternatif serangan baru lewat Rafinha, jika kedua winger mengalami kesulitan.

Fleksibilitas Rafinha juga menguntungkan Spalletti. Selain berposisi sebagai gelandang, Rafinha juga mahir bila ditempatkan di penyerang sayap. Dia bisa menjadi alternatif untuk Candreva atau Perisic. Lebih menarik jika dia ditempatkan di sisi kanan. Dengan kaki kiri yang dominan serta kemampuan dribelnya, Rafinha bisa sesekali melakukan cut inside ke kotak penalti.



Ini juga membuat sisi kanan Inter jauh lebih berbahaya, terutama jika Spalleti memadukannya dengan Joao Cancelo sebagai fullback kanan. Seperti yang kita tahu, Cancelo jauh lebih agresif dalam menyerang ketimbang D'Ambrosio. Cancelo juga mampu melepas umpan-umpan silang yang berbahaya ke kotak penalti. Sedangkan posisi gelandang serang bisa diserahkan pada Brozovic, atau kembali memasang trio Vecino-Gagliardini-Valero.

Rentan Cedera

Kekhawatiran terbesar yang timbul dari Rafinha adalah fakta bahwa pemain ini memang rentan dengan cedera. Dia pernah mengalami dua kali cedera serius. Pertama dialami pada musim 2015/16 ketika dia mengaalami cedera ACL (Anterior Cruciate Ligament). Cedera tersebut memaksanya untuk menepi selama sekitar 6 bulan.

Kedua adalah cedera meniskus (Meniscus injury) yang diidapnya pada musim lalu. Bahkan cedera ini lebih parah dari yang pertama, karena membuat Rafinha absen selama 8 bulan lebih.

Belum lagi jika melihat riwayat cedera lainnya. Hal itulah yang membuat perekrutan Rafinha sebenarnya memiliki risiko besar. Dilihat dari riwayat cederanya, hampir satu tahun lebih dia tidak bermain.

Sumber: transfermarkt.com
Maka dari itu, Inter memang tidak seharusnya berharap begitu banyak dengan seorang pemain yang bahkan kesulitan menemukan kondisi terbaiknya. Spalletti sendiri pun mengungkapkan, "Kami tidak dapat berpikir bahwa seseorang yang belum bermain dalam satu setengah tahun akan datang dan memperbaiki tim ini. Kami adalah orang-orang yang harus membantunya, dan bukan sebaliknya."

Memang meilhat dari potensinya, wajar bila kita para Interisti gembira dengan kedatangan Rafinha. Namun dibalik kemampuan dan segala kehebatannya, Rafinha masih menimbulkan kekhawatiran karena riwayat cedera yang mengerikan. Bagaimanapun kita hanya bisa berharap yang terbaik, untuk Inter maupun Rafinha.

Mari kita nantikan bagaimana aksi Rafinha bersama Inter. Mungkin dia akan terlihat di laga melawan SPAL mendatang. Oh ya, selamat bergabung Rafinha!

Saturday, January 20, 2018

Lisandro López: Pelengkap Lini Belakang Inter

Butuh waktu sekitar dua minggu untuk Inter menunjukkan geliatnya di jendela transfer musim dingin ini. Beberapa hari lalu melalui berbagai sosial media, Inter mengumumkan pemain baru mereka, Lisandro López.

Keputusan Inter untuk menggaet López di bulan Januari ini terbilang sebagai langkah yang tepat. Pasalnya, Il Nerazzurri sendiri memang butuh pemain baru. Tak hanya untuk meningkatkan kualitas permainan saja, tetapi juga untuk memperdalam skuat. Karena sejauh ini, skuad asuhan Luciano Spalletti tersebut dianggap kurang memiliki skuat yang merata.

Sekilas Tentang Lisandro López

Nama Lisandro López memang cukup familiar di dunia sepakbola. Namun sebagian besar tentu masih bingung sebenarnya siapa pemain baru Inter ini. Wajar sebenarnya, karena memang ada pemain lain bernama sama yang telah dikenal sebelumnya, dan keduanya pun sama-sama berasal dari Argentina. Perbedaannya, Lisandro López "senior" berposisi sebagai penyerang, sedangkan pemain baru Inter ini merupakan seorang pemain belakang. 

Baiklah, lebih baik saya langsung membahas Lisandro López Inter saja daripada nanti bingung tertukar.

Sumber: goal.com
Lisandro adalah pemain berusia 28 tahun yang lahir di Villa Constitución, Argentina. Kariernya berawal di klub Chacharita Juniors. Di sana, dia melakukan debut profesionalnya pada 22 Agustus 2009, saat itu Lisandro masih berusia 20 tahun. Bakatnya pun mulai terlihat sejak itu, karena Lisandro pada akhirnya membukukan total 25 pertandingan dan catatan dua gol di musim perdananya. 

Pada 2010, López menyebrang ke Arsenal de Sarandi. Selama kurang lebih tiga tahun berkiprah di klub barunya, kemampuan Lisandro pun semakin terasah. Total dia membukukan 102 penampilan dan 17 gol. Berkat itu jugalah yang pada akhirnya membuat klub-klub Eropa kepincut padanya. Mulai dari Málaga, A.C. Milan, hingga Benfica memperebutkan jasanya.

Akhirnya Benfica menjadi klub yang berhasil mendapatkannya. Namun di awal kedatangannya, López langsung dipinjamkan ke Getafe. Selama semusim di La Liga , Lisandro unjuk gigi dengan 26 penampilan dan mencetak tiga gol.

Musim berikutnya, López kembali ke Portugal dan bermain untuk Benfica. Total, López mencatat 54 penampilan dan menyumbang enam gol di seluruh kompetisi. Namun sayangnya di musim ini, posisinya sedikit tergeser dengan Luisao dan Ruben Dias. Mungkin karena itu jugalah yang membuatnya memilih untuk dipinjamkan ke Inter.

Melengkapi Kebutuhan Lini Belakang

Pertama kali saya mendengar kabar bahwa Inter mendatangkan Lisandro López, ada sebuah pertanyaan muncul. Benarkah kini Spalletti butuh pemain ini? Terutama jika mengingat bahwa posisinya sebagai bek tengah.

Sejauh ini Inter telah memainkan tiga bek tengah, João Miranda, Milan Škriniar, dan Andrea Ranocchia. Secara komposisi, tersedianya tiga bek terbilang aman, karena Inter tak berlaga di Eropa. Terlebih, Spalletti memilih untuk konsisten dalam susunan pemain dalam tiap pertandingan. Jadi, Inter memang minim rotasi.

Sumber: goal.com
Namun ternyata, hal itu tetap memiliki risiko. Terlihat ketika Miranda harus absen karena cedera, Inter tak punya pelapis lagi untuk posisi bek tengah. Memang sebenarnya masih ada pemuda asal Belgia, Zinho Venheusen, tetapi hingga saat ini dia juga belum mendapat kepercayaan dari sang pelatih. Ya, bahkan untuk bermain sebagai pengganti sekalipun.

Bisa dibilang, alasan tersebutlah yang membuat kedatangan Lisandro López cukup penting. Pasalnya, Inter ternyata masih butuh satu bek tengah pelapis lagi. Setidaknya, jika dibandingkan dengan Venheusen, kualitas Lisandro López telah teruji dan juga lebih berpengalaman. Selain itu, dia juga kemungkinan besar bisa bersaing langsung dengan Ranocchia.

Bagaimana dengan Kemampuan Lisandro López?

Sepanjang kariernya, López dikenal sebagai bek yang cukup produktif. Secara total, dia telah mencetak 29 gol dari 230 pertandingan di semua kompetisi. Bahkan hampir di setiap musim, López selalu mencetak minimal satu gol untuk timnya. Paling banyak ia lakukan ketika berlaga bersama Arsenal de Sarandi, dengan raihan 17 gol dalam tiga musim.

Raihan golnya memang bukan sesuatu yang fantastis memang, tetapi untuk ukuran bek tengah terbilang cukup banyak. Hal itu tak lepas dari fakta bahwa López berposisi sebagai penyerang saat masih di tim junior Chacharita.

Sumber: goal.com
Terlepas dari catatan golnya, López adalah seorang pemain belakang yang solid. Melihat dari fisiknya, dengan tinggi 188 cm, dia sangat bisa diandalkan untuk duel-duel udara. Namun yang menjadi keunggulannya adalah fleksibilitas dan kemampuannya membaca situasi. Selain sebagai bek tengah, dia juga mahir bila ditempatkan sebagai fullback. López sendiri pernah menyatakan ketika berada di Benfica, "Saya selalu mempelajari tentang pergerakan dan penempatan posisi. Karena saya pikir strategi itu vital di sepakbola, terutama bagi para pemain bertahan."

Lisandro juga dikenal sebagai sosok panutan. Selama kariernya, López jarang disorot media untuk perilakunya di luar lapangan. Dia pun cenderung menghindari hingar-bingar label bintang, tipikal orang yang low profile. Namun rekan satu timnya di Benfica, Julio César, mengakui bahwa López adalah orang yang bisa menghidupkan ruang ganti.

*****

Secara keseluruhan, López adalah pemain yang tepat bagi Inter saat ini. Selain sebagai pelengkap lini belakang, fleksibilitas yang dimilikinya akan berguna bagi Spalletti dalam menyusun strategi cadangan. Selain itu, pengalaman dan karakternya juga akan bermanfaat untuk para pemain muda Inter seperti Škriniar serta Venheusen.

Sumber: interfanclub.com
Sebenarnya saya sendiri kurang yakin bila Inter akan membelinya di akhir musim nanti. Meskipun harga yang telah disepakati terbilang sesuai, yaitu 9 juta Euro. Untuk ukuran pemain berusia 28 tahun dengan bekal kemampuan dan pengalaman seperti dirinya, seharusnya label 9 juta Euro adalah tawaran yang menguntungkan. Ya, berharap saja López bisa memberi kesan baik bagi Spalletti dan manajemen Inter nantinya.

Selamat datang di Inter, Lisandro López!

Tuesday, March 7, 2017

Mirisnya Hidup Wanita



imdb.com

Sebenarnya saya baru tahu bahwa tanggal 8 Maret itu diperingati sebagai Hari Perempuan Sedunia. Penyebabnya adalah ramainya perbincangan tentang Women’s March Jakarta yang dimulai pada hari Sabtu, 4 Maret lalu. Berbicara soal perempuan, saya jadi teringat dengan sebuah film yang berjudul Mustang.

Ketertarikan saya pada film Mustang sejujurnya murni hanya karena film ini mendapat nominasi Best Foreign Language Film di Academy Awards tahun lalu. Sebelum menonton pun saya tak mencari membaca sinopsis maupun melihat trailernya. Maka dari itu saya tak punya bayangan tentang jalan ceritanya sama sekali.

Ternyata cerita Mustang ini memang jauh di luar dugaan saya. Awalnya, film garapan sineas asal Truki, Deniz Gamze Ergüven ini mengisahkan bagaimana 5 perempuan kakak beradik yang menjalani hidup dengan bahagia. Mereka bermain dan tertawa seperti anak-anak pada umumnya. Namun lama-kelamaan, kebahagiaan mereka pun dirampas satu per satu dan perlahan. Mirisnya, hal itu dilakukan oleh paman dan neneknya yang mengasuh mereka.

Meski Mustang menggunakan latar kehidupan di Turki, namun film ini memang terasa dekat dengan kondisi di Indonesia. Ada banyak sekali kejadian yang bisa dibilang bersinggungan langsung dengan perihal hak-hak wanita, pengaruh orang tua terhadap anak, dan juga pengaruh lingkungan sosial. Oh ya, saya ingin mengingatkan bahwa bahasan ini tentunya menjadi spoiler. Hehe.

Ketakutan Berlebih Orang Tua

Masalah utama yang hadir di film ini adalah orang tua yang terlalu khawatir dengan kondisi anak-anaknya. Maka dari itu mereka sering kali bertindak protektif. Namun sayangnya, alih-alih memberi pengertian tentang bahaya dari suatu hal, mereka cenderung memilih untuk langsung melarang. Ya kadang dengan ancaman sebuah hukuman bila dilanggar.

Tentu saja maksudnya baik, ingin melindungi sang anak dari bahaya dan kejamnya dunia. Namun jika berlebihan, tentu akan berakibat buruk juga pada anak-anak. Karena wajar saja, kita pun ketika muda merasa haus akan informasi dan hal baru.

Nah, hal itu digambarkan dengan lumayan ekstrim di film Mustang. Karena sebuah kesalahpahaman, mereka dilarang untuk keluar rumah. Bahkan parahnya, si nenek dan pamannya setuju untuk menyingkirkan segala hal yang dianggap “merusak”, seperti buku bacaan hingga telepon genggam.

Bayangkan saja, mereka sudah dilarang keluar rumah, ditambah lagi tak boleh mengkonsumsi hiburan dan belajar. Kejam? Ya sangat kejam menurut saya. Tak hanya merendahkan sebagai perempuan, tapi juga sebagai manusia. Toh, hidup mereka tak jauh berbeda dengan napi yang di penjara. Terbatas dan penuh aturan.

Stigma Perempuan di Masyarakat

Meski Mustang berlatar Turki, rasanya ada juga anggapan tertentu tentang wanita yang mirip dengan di Indonesia. Yaitu para wanita harus berpakaian tertutup, bisa memasak, dan melakukan pekerjaan ruamh tangga lainnya. Di Mustang, hal itu berulang kali disinggung dari beberapa adegan.

Menurut saya, memang hal itu baik. Menutupi tubuh ada untungnya karena bisa terhindari dari ancaman seperti luka atau serangga. Lagipula urusan fashion pun bisa diatur, artinya seorang wanita bisa tetap terlihat menawan terlepas dari cara berpakaiannya, entah itu tertutup atau tidak. Untuk urusan memasak pun juga sama baiknya, Ya lagipula menurut saya memasak adalah salah satu keahlian untuk bertahan hidup.

Namun kekhawatiran yang ditonjolkan dari film ini adalah dua hal itu tidak diimbangi dengan kebebasan berekspresi. Ada sebuah pemikiran bahwa wanita harus berpakaian tertutup, bisa memasak, dan melakukan pekerjaan rumah tangga SAJA. Mereka tak diizinkan untuk melakukan hal lain, karena dianggap “merusak”.

Lebih parahnya adalah anggapan dari generasi orang tua kita bahwa jika wanita tak bisa melakukan hal-hal tersebut, akan mendapat cap negatif. Ya semudah itukah menilai seseorang?

Pernikahan Usia Dini dan Kekerasan Seksual

Seperti yang kita tahu, di tahun 2017 ini masih ada orang yang menyalahkan wanita di kasus kekerasan seksual. Entah berapa kali saya melihat tanggapan seperti, “Ya salah sendiri berpakaian minim” atau “salah sendiri berjalan di tempat sepi pada malam hari”. Padahal sudah jelas si wanita ini menjadi korban, tetapi malah disalahkan.

Lagipula yang harus disalahkan itu si pelaku. Mau tertutup seperti apa pun, jika pelaku tak bisa menahan nafsunya, ya akan terjadi perkosaan juga. Sama saja. Begitu pun sebaliknya, mau si wanita berpakaian minim, kalau bisa menekan hawa nafsu ya tak akan terjadi apa-apa.

Bahkan ada yang lebih parah, saya pernah membaca sekilas tentang wanita yang dipaksa keluarganya untuk menikah dengan si pemerkosa. Hebat ya. Ya bahkan masih ada kekerasan seksual yang dilakukan oleh anggota keluarganya sendiri.

Ya itulah mengapa masih ada anak-anak remaja yang terpaksa untuk menikah. Salah satunya karena dipaksa oleh keluarganya. Apa pun alasannya, entah itu karena diperkosa atau untuk melunasi hutang keluarga. Namun menurut saya, hal itu tak sepantasnya terjadi.

Seperti di film Mustang, para wanita itu satu per satu dipaksa untuk menikah ketika usia mereka masih remaja. Bahkan salah satu penyebabnya adalah karena si anak telah diperkosa oleh sang paman. Coba direkap lagi poin-poin di atas, para wanita dikekang dan dipaksa melakukan hal-hal yang tak diinginkan, lalu mereka dipaksa menikah. Apakah itu cara mengasuh anak? Atau pabrik budak?

Terkadang saya merasa kasihan dengan wanita yang menikah di bawah usia 20 tahun, terutama karena alasan terpaksa. Tentu ada sebagian hidup mereka yang berubah dan berbeda dibanding wanita seusianya yang belum menikah. Yang biasanya masih punya waktu banyak untuk mengasah diri, mau tak mau mereka harus membagi peran sebagai istri dan juga ibu.

Saya juga menyayangkan para wanita yang terbuai dengan kata “halal”. Tak sedikit yang menikah hanya mengejar status “halal” saja. Bukannya saya menentang pernikahan. Namun menurut saya sebuah pernikahan tidak sedangkal dan sesederhana itu. Ada banyak hal yang sepatutnya dipertimbangkan.

Maka dari itu pernikahan dini pun belum tentu membuahkan hasil yang positif. Terlalu berisiko, secara fisik dan batin.

Penutup

Dari film Mustang saya belajar banyak hal. Mulai dari bagaimana besarnya pengaruh orang tua, hingga kepada hak wanita sebagai manusia. Jika kalian ingin memperingati hari perempuan sedunia, ada baiknya menonton film Mustang, meski berlatar Turki, saya merasa hal yang ada di dalamnya juga kemungkinan masih terjadi di Indonesia.

Ya setidaknya dari film ini kalian bisa melihat bagaimana menjadi orang tua yang buruk seperti apa.

Monday, March 6, 2017

Terima Kasih Logan

screenrant.com

Dalam seminggu terakhir, ada satu hal yang ramai dibicarakan selain kedatangan Raja Salman ke Indonesia, yaitu film Logan. Banyak sekali pujian dan sanjungan yang diberikan pada Logan, baik itu di timeline media sosial ataupun perbincangan dengan teman-teman. Ya, hal itulah yang membuat saya tertarik untuk menonton Logan.

Sebenarnya terlepas dari bagus atau tidak, saya tetap ingin menyaksikan Logan. Karena saya sendiri adalah salah satu penggemar film-film X-Men dan karakter Wolverine. Hanya saja timbul rasa penasaran, apa iya film superhero bisa sebagus seperti yang diucap oleh orang-orang.

Sedikit Cerita Tentang Wolverine

Bagi yang belum tahu, film Logan bercerita tentang sosok Wolverine di masa tuanya. Logan, yang diperankan oleh Hugh Jackman, adalah karakter utama dalam franchise X-Men. Ya, jadi Logan ini adalah salah satu film spin-off dari franchise utamanya, X-Men.

Wolverine sendiri adalah salah satu mutan yang paling kuat. Dia memiliki kemampuan regenerasi yang sangat cepat. Maka dari itulah dia bisa hidup jauh lebih lama dibanding manusia pada umumnya. Selain itu, dia juga punya cakar di tangan yang keluar dari dalam tubuhnya. Cakarnya pun terbuat dari adamantium, logam (fiksi) terkuat yang pernah ada.

Sosok Wolverine menjadi begitu ikonik dalam film X-Men. Ya, selain karena perannya sebagai pusat cerita, Hugh Jackman punya andil yang besar dalam hal ini. Dia berhasil memerankan karakter kuat dengan kepribadian cuek dan tanpa basa-basi. Sosok Wolverine pun seolah melekat dalam diri Hugh Jackman.

Maka dari itu rasanya wajar jika Fox pada akhirnya membuat spin-off untuk Wolverine. Nah, film Logan ini adalah yang ketiga, namun dianggap yang terbaik. Karena memang kedua film sebelumnya jauh dari kesan memuaskan.

Peran Film Logan untuk Franchise X-Men

Setelah menontonnya, saya pun menyetujui bahwa memang Logan adalah film yang bagus. Namun menurut saya Logan tak hanya sekadar bagus, tapi lebih dari itu. Logan seolah menjadi penanda kebangkitan franchise X-Men dan superhero mutan.

Bisa dibilang X-Men menjadi salah satu yang berperan besar dalam popularitas film superhero di abad ke-21, selain Blade. Di awal tahun 2000-an memang film superhero mulai menurun, karena selain film yang berbasis Marvel dan DC, hampir tak ada. Setelah Unbreakable karya M. Night Shyamalan, tak ada lagi film superhero yang “original”.

Film tentang para superhero mutan itu pun mulai banyak dilirik dan meraih banyak fans. Apalagi melihat respon dari para jurnalis yang melihat film ini memiliki potensi yang besar. Fox pun akhirnya memberanikan diri untuk membuat sekuel dan menjadikannya franchise besar.

Namun seperti hal pada umumnya, franchise X-Men pun mengalami titik jenuh. Awalnya dimulai dari X-Men: The Last Stand yang kualitasnya menurun jauh jika dibandingkan dua film sebelumnya. Salah satu penyebabnya adalah keluarnya Bryan Singer dari kursi sutradara. Setelah itu muncul spin-off Wolverine, yang kita tahu seperti apa hasilnya.

Bisa dibilang, franchise tersebut tertolong berkat hadirnya prekuel X-Men: First Class dan sebuah “timeline reboot” di X-Men: Days of Future Past. Namun kejenuhan itu sampai pada puncaknya ketika X-Men: Apocalypse muncul. Berbeda dengan awal kemunculannya, Apocalypse terkesan hanya film yang dibuat untuk senang-senang saja.

Nah, karena itu Fox mulai memberi penyegaran lewat Deadpool. Mereka terlihat sekali ingin melakukan perubahan dalam dunia film superhero ini. Logan pun akhirnya dibuat dengan embel-embel rating R, alias untuk dewasa. Di sinilah sudah terlihat pertanda bahwa Fox ingin membuat film dengan “serius”.

Hasilnya pun tak mengecewakan, karena Logan seolah berada satu level di atas semua film X-Men yang pernah ada. Dari segi penuturan cerita dan adegan-adegan action yang solid, Logan mengingatkan saya pada The Raid: Berandal. Maka dari itu, kita yang seolah telah jenuh menonton film X-Men pun seakan-akan dibuat semangat lagi oleh Logan. Karena memang film seperti inilah yang telah ditunggu sejak lama.

Dengan keberhasilan Logan, pihak Fox pun akan terus bersaing meraih popularitas dengan Marvel Cinematic Universe (MCU) dan DC Extended Universe (DCEU). Ya, mereka kini tak hanya mengejar target anak-anak saja, tapi juga orang dewasa yang biasanya agak skeptis dengan film superhero.

Sentilan Untuk Film-Film Superhero

Logan seolah menyentil film-film superhero lain yang ada di abad ke-21. Ya film ini mengingatkan bahwa film superhero akan jauh lebih baik jika membuat “film yang sebenarnya”.

Karena sangat disayangkan kebanyakan film superhero seolah hanya ingin pamer visual saja. Tanpa ada penggambaran karakter yang kuat, tanpa ada penulisan cerita yang baik. Dua hal penting itulah yang sering dilewatkan. Ya jangan lupakan alasan mengapa banyak orang begitu menyukai trilogi The Dark Knight-nya Christoper Nolan.

Patut diingat juga bahwa Wolverine bukanlah sebuah materi baru. Berbeda halnya dengan apa yang terjadi dengan Deadpool maupun Doctor Strange. Mereka hadir membawa kesegaran, dengan menawarkan karakteristik yang unik. Sedangkan karakter Wolverine telah ada sejak tahun 2000, alias 17 tahun lalu.

Yang dilakukan James Mangold hanyalah mengeluarkan segala potensi yang ada di dalam karakter Wolverine. Dia pun menyajikan cerita yang bisa dinikmati tanpa harus menyalahkan penonton yang tidak membaca komiknya.

Terima Kasih Hugh Jackman!

Kabarnya, Logan menjadi film terakhir untuk Hugh Jackman berperan sebagai Wolverine. 17 tahun sudah dilaluinya sebagai mutan yang paling ikonik dalam film X-Men. Ya kita hanya bisa berterima kasih pada film Logan dan James Mangold. Terima kasih untuk menutup karier Hugh Jackman sebagai Wolverine dengan luar biasa, dan terima kasih juga karena telah memberi gambaran bagaimana membuat film superhero yang baik.

Postingan Populer