Wednesday, August 24, 2016

Merokok Bagi yang Mampu

sumber foto: quitsmokingcommunity.org

Bagi orang Indonesia, rokok telah termasuk hal yang lumrah. Tentang tingginya jumlah perokok pun rasanya telah disadari. Sehari-hari memang sangat mudah bertemu dengan para perokok. Rasanya di manapun kita berada, pasti ada saja orang yang merokok, kan? Maka dari itu, rokok seakan-akan menjadi hal yang biasa saja di kehidupan sehari-hari.

Beberapa hari ke belakang, rokok kembali ramai dibicarakan. Gara-garanya adalah wacana untuk menaikkan harga rokok hingga Rp 50.000 per bungkusnya. Hal ini sontak mengundang berbagai reaksi dari banyak orang.

Ya, pembicaraan rokok kembali ramai. Sebelumnya juga pernah ribut-ribut soal penggunaan gambar dampak buruk merokok, dan jangan lupa masalah penolakan produk rokok sebagai sponsor. Namun sepertinya, kali ini serangan pemerintah akan mengundang banyak kontroversi.

Masalahnya jelas, yang paling terancam adalah para konsumen, perokok. Para perokok mulai berpikir-pikir apa yang akan dilakukan ketika serangan tersebut diluncurkan. Mungkin banyak yang akan pensiun dalam waktu dekat.

Mengurangi jumlah perokok memang (seharusnya) menjadi tujuan utama serangan ini. Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah perokok terbanyak di dunia. Dengan estimasi sekitar 26% dari total jumlah penduduk, atau sekitar 65 juta jiwa. Dan angka tersebut diyakini masih bisa terus bertambah.

Belum lagi melihat data Riskesdas tahun 2007, 2010, dan 2013 yang meyatakan bahwa tren merokok selalu meningkat, terutama di usia anak-anak. Dibanding kelompok usia lain, pada kelompok 5-9 tahun, 10-14 tahun, dan 15-19 tahun yang selalu meningkat.

Mengkhawatirkan memang. Ya kalau umur belum mencapai 10 tahun saja sudah merokok, kasihan mereka kalau sudah tua nanti, kan. Apalagi mengingat bahwa rokok adalah barang yang membuat kecanduan. Berhenti total adalah hal yang sulit, tapi tak mustahil.

Serangan pemerintah dengan menaikkan cukai ini adalah hal yang bagus untuk mengurangi jumlah perokok. Saya yakin rencana ini harusnya menjadi jangka panjang. Rencana yang hasilnya baru terlihat 10 bahkan 30 tahun mendatang.
Menaikkan harga rokok bukan berarti pemerintah melarang untuk merokok. Ya cobalah kita lihat dari sisi positifnya, yaitu untuk kesehatan. Semua tentu sudah hafal dengan kalimat merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin. Sebuah peringatan yang begitu panjang dan tak efektif itu, masih ingat kan?

Lagipula jika dipikir lagi, mengurangi atau berhenti merokok juga bisa membantu untuk berhemat. Coba bayangkan, jika seorang perokok membeli satu bungkus tiap harinya. Artinya dia harus menyiapkan setidaknya Rp 1.500.000 per bulan. Kalau seseorang dengan penghasilan 3 juta per bulan, maka ia harus menyisihkan 50% pendapatannya untuk rokok. Banyak juga ya.

Maka dari itu, ambillah kesempatan ini untuk mencoba berhenti merokok. Ya daripada kita repot-repot menggunakan tameng petani tembakau atau nasib buruh pabrik rokok demi kelancaran merokok. Ya memang sulit menghilangkan kecanduan, tapi di dunia ini tak ada yang mustahil kok.

*****

Merokok sepertinya menjadi hal yang fleksibel ya, makanya sulit dihindari. Biasanya selain di waktu senggang, merokok juga bisa dilakukan sambil mengerjakan hal lain. Contohnya sambil bekerja atau sekadar membaca buku. Nah, saya mau kasih sedikit tips yang bisa membantu menahan dahaga asap nantinya. Santai sedikit ya, soalnya di atas serius banget tulisannya.
Olahraga

Olahraga adalah salah satu hal yang bisa mencegah kita merokok. Tapi pilih jenis olahraga yang benar-benar tak bisa merokok, jangan main catur. Contoh yang paling mudah adalah olahraga air. Renang atau mungkin polo air adalah salah satu contohnya. Kan ribet mau main polo air sambil ngerokok gimana coba.

Alternatif lain adalah lari atau jogging. Ini adalah olahraga yang paling terjangkau, hanya butuh waktu saja sebenarnya. Tak perlu repot-repot mencari tempat karena bisa dilakukan di mana saja selama masih di darat. Kalian juga bisa coba-coba ikut event lari yang semakin banyak diselenggarakan. Joggingnya pun ya beneran, bukan jalan-jalan santai keliling komplek, itu mah bisa sambil ngerokok.

Atau bisa juga dengan olahraga yang melibatkan tim, seperti sepakbola, futsal, basket, atau voli. Untuk orang yang hobi, tentu secara tak sadar akan lupa dengan rokok ketika bermain. Karena belum pernah lihat orang yang main futsal sambil merokok. Kalau ada pun paling cuma gaya-gayaan saja. Orang yang begitu lebih baik diajak untuk olahraga yang menggunakan tangan sekalian. Kan ribet mau main basket, voli, atau handball tapi sambil ngerokok gimana coba.

Selain untuk mengganggu godaan rokok, olahraga juga bagus toh untuk kesehatan. Walau cuma lari-lari kecil selama 30 menit sehari, pasti efeknya akan lebih terasa.

Pergi ke Tempat yang Melarang Rokok
Sejak dulu, anak muda sering kumpul-kumpul hanya karena ingin merokok. Alasannya karena mereka dilarang untuk merokok, setidaknya kalau pun mau jangan melakukannya di rumah. Maka dari itu mereka berkumpul untuk merokok (atau sekadar menyambung silaturahmi dan ngobrol ngalor-ngidul). Kebiasaan ini biasanya berlanjut untuk para ayah muda yang baru punya bayi tapi ingin merokok.

Hal itu bisa saja dihindari. Salah satunya adalah pindah tempat nongkrong. Cobalah sesekali ke kafe yang full A.C., jadi kan sulit untuk merokok. Tapi ya jangan sengaja pilih tempat yang dikhususkan untuk perokok, ya sama saja hasilnya. Kalian juga bisa coba ke perpustakaan atau tempat membaca lainnya. Biasanya tempat perpustakaan juga memeberikan larangan untuk merokok di areanya.

Sulit ya? Untuk lebih mudahnya kalian bisa cari kafe atau perpustakaan dengan layanan wifi gratis. Jadi perhatian akan teralih pada internet.

Alihkan Anggaran Rokok untuk Hal Lain 

Seperti yang telah saya sebutkan di atas, ini adalah kesempatan untuk berhemat. Daripada harus menyiapkan 1,5 juta per bulan untuk rokok, bukankah uang tersebut bisa digunakan untuk hal lain.

Contohnya, koleksi barang. Mengoleksi barang tentu membutuhkan dedikasi dan biaya yang tinggi. Toh banyak juga pilihan barang apa yang ingin dikoleksi. Apalagi di zaman internet mudah diakses seperti ini, kendala mencari barang bukan lagi perkara utama. Sebutlah seperti jersey klub olahraga, action figure, atau bahkan buku dan dvd.

Untuk perokok yang juga gemar mengoleksi barang, inilah kesempatan kalian untuk menabung. Setidaknya dengan alihan dana rokok, kalian bisa lebih cepat mengakses barang yang diinginkan.

Alternatif lainnya adalah nonton film. Dengan 50 ribu, kalian bisa menggunakannya untuk menonton film di bioskop. Nonton satu film sehari pun tak jadi masalah dengan uang segitu, tinggal pilih bioskop yang terjangkau saja, kan?

Nah, kalau bosan dengan film-film di bioskop, bisa juga digunakan untuk datang ke acara festival film atau screening film-film indie. Lumayan kan selain menambah wawasan tentang film, bisa juga ikutan diskusi sama peserta atau para pembuat filmnya. Siapa tahu bisa nambah bahan untuk menulis, hehe.

Ya, semoga tips di atas bisa membantu ya. Setidaknya bisa sedikit memberi ide untuk menghadapi serangan pemerintah nanti. Tapi satu hal yang harus diingat, pemerintah tidak melarang untuk merokok. Merokok boleh saja asal mampu.


*Catatan: Semua tulisan di atas boleh dihiraukan. Karena kalian baru saja membaca tulisan dari seorang perokok aktif.

Tuesday, August 23, 2016

Eksperimen Debut Frank De Boer

sumber foto: calcioin.it
Kekalahan rasanya bukan lagi menjadi hal yang mengejutkan bagi para penggemar Inter. Klub yang berkostum biru-hitam ini memang tengah mengalami masa-masa sulit. Lima tahun sudah Inter tak menggondol gelar apa pun. Ya jangankan bersaing berebut juara, untuk meraih tempat di zona Eropa pun sudah kesulitan.

Perubahan tentu harus dilakukan jika mereka masih ingin disebut sebagai raksasa Italia. Namun rasa-rasanya masalah yang ada di Inter memang tak berubah. Mulai dari inkonsistensi performa, strategi transfer pemain, hingga budaya gonta-ganti pelatih. Semua hal itu tak lelah dibahas oleh para Interisti dan jurnalis di dunia.

Pihak manajemen Inter harusnya tak menyalahkan pelatih atau pemain jika nantinya dalam beberapa pertandingan ke depan berjalan buruk. Pasalnya Frank De Boer, pelatih saat ini, hanya punya waktu singkat untuk mempersiapkan tim. 

Harus diingat bahwa Mancini dan De Boer memiliki gaya bermain yang berbeda. Sedangkan tim telah dipersiapkan untuk kebutuhan taktikal Mancini. Jadi De Boer mau tak mau menerapkan strateginya dengan pemain seadanya saja. Saat melawan Chievo, De Boer menerapkan pola 3-4-1-2. Dari sini kita bisa mulai membaca ide bermain pelatih asal Belanda tersebut.

Dia ingin membangun permainan dari kaki ke kaki, mulai dari lini pertahanan. Pakem tiga pemain belakang memang bukan hal baru yang dilakukan De Boer. Dia pernah menerapkan 3-4-3 bersama Ajax, meski lebih sering bermain dengan empat bek di lain kesempatan.

Pertanyaan terbesar adalah mengapa De Boer melakukan "eksperimen" saat melawan Chievo?

Keterbatasan Bek Tengah
 
Dia menyatakan bahwa alasannya adalah tingkat kebugaran pemainnya. Hal itu (katanya) disebabkan oleh jadwal pra musim yang tidak ideal dan melelahkan.

Mungkin bisa dimaklumi dengan absennya Jeison Murillo dan Cristian Ansaldi, pilihan bek tengah semakin menipis. Karena itu ia memilih menempatkan D'Ambrosio untuk menemani Miranda dan Ranocchia.

Namun saat melihat susunan pemain dan cadangan yang dibawanya, harusnya De Boer bisa menerapkan 4-3-3 atau 4-2-3-1. Ada alternatif untuk mengatasi pilihan di lini belakang, yaitu dengan menempatkan Gary Medel sebagai bek tengah, entah itu bersama Miranda atau Ranocchia.

Medel memiliki atribut yang dibutuhkan oleh De Boer. Dia bisa bertahan dengan baik dan mengontrol permainan dengan umpan-umpan pendek. Ya, mirip-mirip Mascherano atau Busquets di Barcelona, kan? Jika hal itu diterapkan, maka pilihan untuk lini tengah dan depan semakin variatif.

Berhati-hati

Menempatkan D'Ambrosio di posisi yang asing baginya adalah sebuah hal yang berani. Namun saya berpendapat sebaliknya, De Boer ingin bermain aman sebenarnya. Komposisi tiga pemain belakang bisa memudahkan ia untuk menerapkan posession football-nya.

D'Ambrosio adalah salah satu pemain "unik" menurut saya. Dia adalah pemain yang berposisi asli sebagai fullback/wingback, tetapi kurang bagus dalam membantu serangan. Justru ia lebih bagus soal bertahan.

Ia bukanlah pemain yang eksplosif seperti Lichtsteiner atau Dani Alves. Kemampuan umpan silangnya juga telah dicap buruk oleh Interisti. Karena itu ide untuk menempatkannya sebagai bek tengah cukup masuk akal. Namun karena tak terbiasa, walhasil ia begitu kewalahan mengatasi serangan balik Chievo.

De Boer memilih menduetkan Icardi dan Eder di lini depan, ketimbang memasang dua pemain sayap. Hal ini juga salah satu taktik hati-hati-nya. Kombinasi Eder-Icardi dan Banega di atas kertas memang bagus, sangat bagus.

Banega tak akan canggung memerankan posisi tersebut. Ia telah melakukan hal itu selama masa baktinya di Sevilla. Sedangkan Eder adalah tipe pemain yang bisa diberi instruksi untuk lebih banyak berlari dan membuka ruang, seperti yang dilakukannya saat berlaga di Piala Eropa.

Namun strateginya tak berjalan dengan baik. Inter kewalahan mengatasi serangan balik Chievo dan gagal mengubah peluang menjadi gol.  Kekalahan dari Chievo di pekan perdana memang bukan akhir dari segalanya. Toh, baru satu pertandingan. Satu dari total 38 pertandingan liga. Mereka masih punya waktu banyak untuk berbenah.

Ya, lebih tepatnya De Boer tak perlu repot-repot bereksperimen lagi. Silakan tunjukkan permainan ala De Boer yang sebenarnya, seperti yang anda lakukan di Ajax.

Sunday, August 7, 2016

Review Film: Life is Beautiful (1997)


Ketika pertama kali melihat judul film ini, ada beberapa pertanyaan besar di benak saya. Apa yang akan diceritakan oleh Roberto Benigni? Mungkinkah ia benar-benar membuat kisah tentang hidup yang indah, atau hanya bentuk sarkasme saja? Namun ada satu hal yang pasti, film ini akan menyinggung tentang arti hidup.

Terdengar agak klise jika berbicara tentang arti hidup ya. Toh, rasanya semua film bisa mengulas hal itu dengan caranya masing-masing. Namun saya akui cara Roberto Benigni patut diapresiasi tinggi dari kerja kerasnya di film ini.

Roberto memulai film dengan narasi singkat, “This is a simple story. But not an easy one to tell”. Tak hanya sebagai kalimat pembuka, tapi juga seolah menggiring antisipasi penonton pada apa yang akan terjadi di film. Ya, bagaimana sebuah cerita sederhana bisa begitu sulit untuk disampaikan.

Guido Orefice

Selain menjadi sutradara, Benigni juga memerankan tokoh utama bernama Guido Orefice. Dikisahkan Guido adalah pria yang periang dan penuh antusias. Dengan sifatnya tersebut, ia seolah bisa menutupi kekurangan yang ada pada dirinya. Ya tentu saja Guido bukanlah pria yang sempurna.

Namun hal yang paling menarik dari sosok Guido adalah sifat pantang menyerahnya. Jika menginginkan sesuatu, Guido akan mencari cara untuk mendapatkannya. Salah satu contoh adalah hubungannya dengan Dora (Nicoletta Braschi).


Terlepas dari pertemuan mereka yang cheesy, Guido terus berusaha merebut hati Dora. Mulai dari berpura-pura sebagai orang lain hingga “merebut” Dora dari kekasihnya saat itu. Meski baru berjumpa beberapa kali, Dora terpikat dengan ketulusan dan sifat ceria Guido hingga akhirnya mereka (tiba-tiba) menikah dan mempunyai seorang putra.

Contoh kecil lain adalah saat ia menginginkan topi kepunyaan pemilik toko jahit. Dengan entengnya dia berkata, “What a nice hat”, lalu menukarnya dengan topi miliknya. Meski sang pemilik toko berkali-kali menyadari dan menukar kembali topinya, Guido terus berusaha hingga ia mendapatkan topi yang diinginkannya.

Bisa dibilang, sifat pantang menyerahnya tersebut yang berperan besar dalam kehidupan Guido. Mulai dari kisah cintanya dengan Dora, saat bekerja dengan pamannya, hingga saat ia harus melindungi anak lelakinya, Joshua (Giorgio Cantarini).

Dua Sisi Film

Film ini memang dibentuk menjadi dua bagian yang besar. Pertama adalah cerita Guido sebelum menikah, dan yang kedua bercerita kehidupannya setelah memiliki putra. Bagian kedua inilah yang cukup mengejutkan.

Pasalnya kehidupan indah Guido yang bak dongeng tersebut direnggut oleh pecahnya Perang Dunia II. Guido, pamannya Eliseo (Giustino Durano), dan anaknya Joshua diangkut oleh pasukan Jerman. Alasannya karena mereka adalah Yahudi. Dora yang mengetahui hal tersebut akhirnya bersikeras untuk ikut ke penampungan, meski ia bukan seorang Yahudi.

Di film, penampungan tersebut digambarkan bahwa para tahanan diperlakukan secara tak manusiawi. Para lelaki dan wanita yang sehat dipaksa bekerja seharian, dan ditempatkan dalam satu ruangan sempit. Mereka hanya disediakan ranjang seadanya saja, berhimpitan dan penuh sesak. Sementara itu, para orang yang lebih uzur dan anak-anak akan dimasukkan ke dalam “shower”. Ya mereka akan dibantai sekaligus tanpa ampun.

Namun Benigni tak ingin membuat kesan yang kelam dari film ini. Ia berusaha untuk tetap menjaga arti Life is Beautiful sesederhana mungkin, kalau boleh saya bilang. Benigni tetap menjaga nuansa “ceria” dari film ini melalui sang tokoh utama, Guido.

Guido tentu ingin anaknya terus ceria seperti dirinya. Karena itu, ia memberi tahu Joshua bahwa mereka sedang berada dalam permainan besar alih-alih menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Ia berkata pada Joshua bahwa siapa pun yang mendapat 1000 poin akan menjadi pemenang dan meraih hadiah sebuah tank. Dengan segala usahanya, akhirnya Joshua pun tetap percaya dengan segala yang dikatakan Guido. Tragis.

Selain itu, Benigni juga menempatkan scoring yang “ceria” di adegan-adegan yang menempatkan Guido dan Joshua pada satu layar. Hal ini juga membawa pengaruh besar terhadap emosi penonton. Dengan ditambah dialog khas Guido, nuansa kelam pun seolah tertutupi meski tak hilang sepenuhnya.

****

Bagian kedua dari film ini memang krusial. Di sinilah saya mulai mempertanyakan apa yang ingin diwakili oleh kata-kata Life is Beautiful. Ya seakan dua pertanyaan saya bisa terjawab. Benar bahwa film ini mengisahkan tentang hidup yang indah, namun benar juga jika hal tersebut hanya sarkas saja, melihat dari apa yang menimpa Guido sampai akhir film.

Ya film ini tentu ingin membuktikan bahwa kata-kata Life is Beautiful memang benar. Hidup ini memang tak selalu indah, tentu ada konflik dan masalah yang mengiringi. Tinggal bagaimana cara kita menyikapinya.

Kita tak perlu menjadi Guido yang periang dan penuh antusias. Namun kita harus menjadi seseorang seperti Guido, yang tak pernah menyerah dengan keadaannya.

Tuesday, July 12, 2016

7 Pemain Penerus Gianluigi Buffon



Sebagai salah satu negara yang disegani di bidang sepakbola, Italia memang tak pernah habis dalam menelurkan bakat-bakat baru. Negara yang berhasil menjuarai Piala Dunia selama empat kali ini dikenal dengan gaya permainan bertahannya. Italia juga dikenal selalu memiliki kiper-kiper hebat tiap generasinya, mulai dari Dino Zoff hingga Gianluigi Buffon.

Untuk Buffon, ia telah menjadi legenda hidup Italia dengan mencatat penampilan lebih dari 160 kali. Ketenangannya di depan gawang dan konsistensi permainannya membuat ia mampu bermain di level tertinggi hingga usia 38 tahun. Kehadirannya sulit digeser oleh pemain-pemain lain di generasinya, bahkan hingga membuat Christian Abbiati mundur dari tim nasional karena tak ingin menjadi pilihan kedua.

Meski kabar yang beredar menyatakan bahwa Buffon akan kembali untuk Piala Dunia, Italia harus sadar bahwa nanti usianya akan menyentuh kepala empat. Untuk itulah regenerasi di sektor kiper sangat diperlukan. Jika bicara kualitas, tentu para penjaga gawang Italia memiliki kemampuan yang baik, hanya saja pengalaman mereka di kancah internasional terkadang masih "terbentur" dengan kehadiran Buffon.

Lalu, siapa saja yang berpotensi menjadi pelindung nomor satu Italia setelah Buffon? Jika melihat penampilan mereka di musim lalu, setidaknya ada 6 nama yang patut diberi kesempatan lebih dalam membela negaranya.

1. Emiliano Viviano


Penjaga gawang yang bermain untuk Sampdoria ini sebenarnya telah mencuat namany ketika ia dipercaya sebagai pilihan utama untuk Italia di ajang Piala Dunia U-20 tahun 2005. Saat itu Viviano bermain untuk Cesena sebagai pemain pinjaman dari Brescia. Karirnya pun semakin menanjak setelah kembali ke Brescia dan berhasil merebut tempat utama selama empat musim berikutnya. Berkat itulah ia dilirik oleh Inter yang merekrut setengah kepemilikannya sebelum dipermanenkan pada 2011.

Sayangnya, karir pemain kelahiran Florence ini sempat jatuh bebas ketika dirinya dihantam cedera serius pada Juli 2011. Viviano pun akhirnya terpaksa absen hampir selama satu tahun. Karirnya kembali menanjak saat membela Palermo dan Fiorentina, tapi kembali mundur ketika ia dipinjamkan ke Arsenal hanya untuk menghangatkan bangku cadangan.

Akhirnya ia kembali ke Italia dan bergabung dengan Sampdoria. Di sanalah ia mulai perlahan menemukan performa terbaiknya, puncaknya ada di musim 2015/16 lalu. Sepanjang musim, Viviano mencatat total 141 penyelamatan dengan rata-rata 3,8 dari 37 penampilan. Bahkan situs whoscored.com menjadikan Viviano sebagai kiper dengan nilai terbaik di Serie-A.

Jika Buffon pensiun dari timnas, tentu ini adalah waktu yang tepat bagi Viviano. Di usianya yang memasuki 31 tahun, ia telah memasuki usia emas seorang penjaga gawang. Ya, tinggal bagaimana ia menjaga konsistensi permainannya jika tempatnya tak ingin direbut oleh pemain yang lebih muda.

2. Salvatore Sirigu


Mungkin di antara para kandidat pengganti Buffon, Salvatore Sirigu memiliki peluang yang paling besar. Pasalnya, ia sering dipercaya sebagai pelapis Buffon di beberapa turnamen mulai dari Euro 2012 hingga 2016 lalu.

Di awal karirnya, Sirigu bermain sebagai gelandang, namun karena kondisi asma yang diidapnya ia beralih sebagai penjaga gawang setelah mengikuti saran pelatihnya dulu. Pada 2002, ia bergabung dengan tim junior Palermo dan sempat mengasah kemampuannya ketika dipinjamkan ke Cremonese dan Ancona.

Ia kembali ke tim utama Palermo pada musim 2009/10 sebagai pelapis Rubinho. Namun karena penampilan buruk rekrutan baru tersebut, Sirigu diberikan kesempatan tampil. Hasilnya pun memuaskan, hingga ia berhasil merebut tempat utama di bawah mistar Palermo. Sirigu juga mendapat julukan "Walterino", yang bermaksud menyamakan dirinya dengan Walter Zenga, kiper legendaris serta pelatih Palermo saat itu.

Kepindahannya ke Paris Saint German pun berbuah baik. Dia kembali menggeser kiper utama saat itu, Nicholas Douchez. Bermain reguler dan berpartisipasi di turnamen tertinggi Eropa sangat membantu karirnya. Bahkan, ia juga memecahkan rekor clean sheet PSG milik Bernard Lama.

Meski memiliki peluang besar untuk mengganti Buffon, nyatanya karir Sirigu justru di ambang kemunduran. Dirinya mulai tergeser dari tempat utama, dan pihak PSG pun telah menyatakan tak keberatan jika dirinya ingin hengkang. Rasanya Sirigu harus bergerak cepat jika tak ingin karirnya dihabiskan di bangku cadangan.

3. Mattia Perin


Dalam beberapa tahun terakhir, nama Mattia Perin telah digadang-gadang akan menjadi penerus Buffon di masa mendatang. Hal ini terjadi bukan tanpa alasan. Sebagai seorang penjaga gawang, menjadi pilihan utama di usia yang terbilang muda, 23 tahun, adalah hal yang patut diperhatikan. Apalagi mengingat ia berada di Serie-A yang gemar menggunakan kiper-kiper asing. 

Perin melakukan debut profesionalnya pada 2011 lalu saat mengalahkan Cesena dengan skor 3-2. Dua tahun berikutnya, ia dipinjamkan ke Padova dan tim promosi Pescara. Meski gagal menyelamatkan Pescara dari degradasi, Genoa memulangkan Perin dan mulai memercayainya sebagai starter. Berkat penampilan konsistennya, Perin dibawa oleh Prandelli ke Piala Dunia 2014 sebagai kiper ketiga.

Di musim lalu, Perin kembali dipercaya sebagai penjaga gawang utama Genoa. Meski beberapa kesempatan harus bergantian dengan Eugenio Lamanna. Namun penampilannya sempat mencuri perhatian dengan rataan penyelamatan 3,3 dari 25 pertandingan.

Dengan usianya yang masih muda, Mattia Perin masih memiliki karir yang panjang. Meski tak akan langsung mendapatkan tempat utama di tim nasional, boleh dibilang bahwa Perin adalah salah satu talenta terbaik yang Italia miliki saat ini.
 
4. Andrea Consigli



Jika ada yang berkata bahwa Sassuolo adalah klub yang tepat dalam memoles pemain, rasanya itu hal yang tepat. Saat ini klub yang berkostum hijau-hitam itu memang dikenal saat memaksimalkan bakat seorang pemain, salah satunya adalah Consigli yang melakukan debut internasionalnya di bawah asuhan Prandelli.
Nama Andrea Consigli mungkin terdengar asing untuk sebagian besar orang. Namun saya rasa, ia adalah salah satu kiper yang underrated di Serie-A.

Consigli mengawali karir di Atalanta sejak di tim junior 12 tahun lalu dan masuk ke tim utama pada 2006. Seperti lumrahnya pemain muda, ia dipinjamkan ke klub Serie C1/B, Sambanedettese, dan membantu mereka bertengger di posisi 8 klasemen. Setahun berikutnya, pria kelahiran Cormano tersebut kembali dipinjamkan ke Rimini yang berlaga di Serie-B.

Kembalinya dari masa peminjaman, Consigli secara perlahan menjadi kiper utama Atalanta di musim-musim berikutnya. Secara total, ia telah mengecap 193 pertandingan bersama Atalanta. Musim terbaiknya hadir pada 2013/14 saat ia membukukan 129 penyelamatan. Namun sayang, ia malah dilego ke Sassuolo di akhir musim.

Di Sassuolo, Consigli yang semakin matang berhasil menunjukkan performa apik. Musim lalu ia menjadi pilihan utama dengan catatan total 100 penyelamatan dan 9 clean sheet sepanjang musim. Berkat penampilan impresifnya, Sassuolo menyelesaikan musim di posisi ke-6.

5. Marco Sportiello



Nama Marco Sportiello telah menarik perhatian saya sejak dua musim lalu. Kepergian Andrea Consigli dari Atalanta ke Sassuolo memberi berkah untuk Sportiello. Tanpa disangka ia berhasil menggeser kiper veteran Giorgio Frezzolini dan pemain baru, Vlada Avramov. Tentu hal itu cukup mengejutkan, karena selain Sportiello masih berusia 22 tahun saat itu, ia sebenarnya diproyeksikan menjadi kiper ketiga.

Penampilannya selama membela Atalanta terbilang sangat baik. Dua tahun lalu, ia tercatat sebagai penjaga gawang dengan penyelamatan terbanyak di liga. Di musim lalu pun ia kembali menjaga performanya dengan total 103 penyelamatan dari 36 pertandingan. Ya bisa dibilang Atalanta sangat terbantu oleh kehadiran Marco untuk menghindari jeratan degradasi.

Di kancah internasional, Sportiello belum mendapatkan kesempatan sama sekali. Namun bukan mustahil jika suatu saat ia mengenakan kostum tim nasional, bersaing dengan Mattia Perin di masa depan. Hal ini tentu saja bisa terjadi, apalagi jika ia nantinya bisa bergabung dengan klub yang lebih besar dari Atalanta.

6. Nicola Leali



Satu lagi kiper muda berbakat yang dimiliki oleh Italia, Nicola Leali. Karirnya diawali di tim primavera Brescia pada 2009. Baru pada musim 2010/11 ia dipromosikan ke tim utama untuk mengisi slot kiper ketiga di bawah Matteo Sereni dan Michele Arcari. Setahun berikutnya, ia menjadi pilihan utama meski di akhir-akhir musim ia digeser oleh Andrea Caroppo karena Leali diisukan hengkang ke klub lain.

Akhirnya pria kelahiran Castiglione delle Stiviere ini memutuskan untuk bergabung dengan Juventus. Namun hingga sekarang Leali belum sekalipun mencicipi tampil di pertandingan kompetitif bersama Il Bianconeri, dan lebih banyak dipinjamkan ke klub lain.

Namun ketika sedang berada di klub lain, Leali selalu berhasil mendapat waktu bermain yang banyak. Ia menjadi pilihan utama saat di Virtus Lanciano, Spezia, Cesena, dan terakhir Frosinone. Penampilannya di Frosinone mendapat banyak pujian dari berbagai pihak. Secara statistik, Leali juga menunjukkan kebolehannya dengan raihan total 122 penyelamatan. Angka ini adalah yang tertinggi ketiga jika dibandingkan dengan kiper-kiper Italia di liga musim lalu.

Saat ini, Leali masih dimiliki oleh Juventus. Menariknya adalah di musim depan ia akan dipinjamkan ke klub yang lebih besar dibanding sebelum-sebelumnya, Olympiakos. Hal ini sangat bagus untuk karirnya. Jika ia berhasil menunjukkan performa yang lebih baik dari musim lalu, bukan tak mungkin ia akan dibeli secara permanen oleh klub raksasa Yunani tersebut. Rasanya akan jauh lebih baik jika ia harus kembali berseliweran di tim-tim kecil.

***
 
Sebenarnya masih ada beberapa nama lagi yang mungkin pantas untuk masuk ke daftar ini. Contohnya seperti Federico Marchetti (Lazio), Gianluigi Donnarumma (MIlan), Antonio Mirante (Bologna), dan Stefano Sorrentino (Palermo) yang musim lalu menampilkan performa yang baik.
 
Penampilan seorang kiper memang tak bisa dinilai hanya dari jumlah kebobolan maupun penyelamatannya saja. Ada banyak faktor lain yang bisa mempengaruhi. Salah satu contoh yang paling penting adalah lini pertahanan itu sendiri. Kiper seperti Buffon atau Sirigu meski memiliki skill yang baik, mereka juga dibantu dengan berada di tim yang hebat. Ini juga terjadi pada Consigli di Sassuolo.
 
Ya bagaimana pun, ketika waktunya Buffon untuk mundur, Italia tak akan pernah kehabisan talenta penjaga gawang.

Monday, July 11, 2016

Portugal Kini dan 12 Tahun Lalu



Piala Eropa 2016 telah usai dan memunculkan Portugal sebagai juara baru. Melihat gelaran Euro kali ini memang meninggalkan banyak cerita. Mulai dari pertemuan para raksasa sebelum partai final hingga cerita para underdog yang mengejutkan. Bisa dibilang, Euro 2016 adalah salah satu yang meninggalkan banyak kesan untuk saya.
Hal ini mengingatkan saya pada 12 tahun lalu, ketika pertama kalinya saya benar-benar menyaksikan dengan seksama gelaran Piala Eropa. Saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar, ketika menonton sepakbola dengan antusias yang tinggi. Ya ketika saya begitu menggilai yang namanya sepakbola.

Masih segar diingatan ketika Portugal masih didominasi oleh pemain Benfica dan Porto. Namun ketika diperhatikan lagi, entah hanya kebetulan atau tidak, tapi memang banyak kemiripan yang hadir pada tim Portugal 2004 dan 2016 ini.

Wonderkid

Setiap tim yang berlaga di putaran final Piala Eropa tentu memiliki wonderkid, pemain muda dengan talenta mumpuni yang sering digadang-gadang menjadi bintang di masa mendatang. Tahun ini, nama Renato Sanches yang masih berusia 18 tahun berhasil mencuri perhatian khalayak. Kemampuannya dalam menyerang dan bertahan sangat membantu lini tengah Portugal. Kerja kerasnya pun terbayar ketika ia mencetak gol penyama kedudukan saat berhadapan dengan Polandia di perempat final. Berkat gaya permainannya yang bertenaga itulah ia sering dimirip-miripkan dengan Edgar Davids.

Jika di 2016 ada Renato Sanches, 12 tahun lalu Portugal punya Cristiano Ronaldo. Ya, ketika itu pria yang kini menjabat sebagai kapten tim nasional ini masih berusia 19 tahun. Di usia yang muda, penampilannya menarik perhatian meski tak selalu menjadi pilihan utama. Dia juga mencetak dua gol sepanjang turnamen. Namun sayang ia gagal membawa Portugal ke tangga juara meski mencapai partai final ketika itu.

Ya, semoga saja di 12 tahun mendatang, Renato Sanches bisa mengikuti jejak Ronaldo.

Superstar Bernomor Punggung 7

Portugal kini dan 12 tahun lalu punya mega bintang dengan angka 7 di punggungnya, Cristiano Ronaldo dan Luis Figo. Ya keduanya adalah salah satu pesepakbola terbaik Portugal yang pernah ada. Ronaldo dan Figo memang memiliki kemiripan dalam hal bermain. Keduanya memiliki skill dribble di atas rata-rata dan memiliki tendangan yang akurat. Mereka juga memiliki posisi asli sebagai winger, dan juga mematikan saat mengeksekusi bola mati.

Uniknya, baik Ronaldo 2016 dan Figo 2004 sama-sama berusia 31 tahun dan bermain untuk Real Madrid. Bedanya, ketika itu Figo bukanlah kapten utama laiknya Ronaldo. Pada 2004, kapten Portugal adalah Fernando Couto yang bermain untuk kesebelasan Lazio. Sayangnya, Figo (serta Ronaldo) gagal membawa Portugal menjadi juara di 2004 lalu.

Pemain Tertua adalah Pemain Belakang

Ada pemain muda, tentu juga ada pemain yang berusia jauh lebih tua. Ketika bermain di sebuah turnamen, pemain berpengalaman memang dibutuhkan oleh pelatih. Dengan mental yang lebih teruji, tak jarang mereka justru memberi pengaruh yang besar, tak terkecuali dengan Portugal.

Jika membandingkan antara Portugal 2004 dan 2016, mereka memiliki kesamaan pada pemain dengan usia yang paling senior. 12 tahun lalu, Portugal punya Fernando Couto yang juga bertindak sebagai kapten, saat itu usianya telah 34 tahun. Sedangkan di 2016, mereka diperkuat oleh Ricardo Carvalho yang telah menginjak 38 tahun. Uniknya, kedua pemain ini sama-sama berposisi sebagai pemain belakang.

Bisa dibilang, skuad Portugal kali ini memang banyak diperkuat oleh pemain-pemain senior. Tercatat ada total 9 pemain yang usianya telah mencapai kepala tiga, termasuk Ronaldo dan Carvalho. Berbeda dengan Portugal 2004 yang "hanya" punya lima pemain saja.

***

Memang banyak kemiripan yang muncul yang tak disadari antara Portugal kini dan 12 tahun lalu. Setelah saya perhatikan lagi, ada satu lagi kemiripan, tetapi bukan dari tim Portugal. Yaitu, saya pribadi menyaksikan Euro 2016 seperti Euro 2004. Menonton sepakbola dengan antusias yang tinggi bagai awal "kegilaan" saya pada sepakbola, hehe.

Postingan Populer